matabangsa.com – Medan : Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi pada November 2025 tercatat sebesar 172,67 atau mengalami penurunan 1,06 persen dibandingkan bulan Oktober 2025. Data ini menunjukkan adanya tekanan terhadap daya beli petani dalam jangka pendek akibat perubahan harga hasil pertanian dan kebutuhan produksi. Meski berada pada level tinggi, penurunan NTP menjadi sinyal penting bagi pemangku kebijakan untuk mencermati dinamika ekonomi pedesaan.
Data BPS Jambi, Penurunan NTP tersebut dipicu oleh melemahnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang turun sebesar 1,39 persen. Turunnya It mengindikasikan harga jual produk pertanian yang diterima petani mengalami penurunan di sejumlah subsektor utama. Kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan petani, terutama mereka yang bergantung pada komoditas tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat.
Di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) juga tercatat turun sebesar 0,34 persen. Penurunan Ib mencerminkan turunnya biaya konsumsi rumah tangga serta biaya produksi pertanian. Namun, penurunan Ib yang lebih kecil dibandingkan It menyebabkan NTP secara keseluruhan tetap mengalami kontraksi.
Berdasarkan subsektor, penurunan terdalam terjadi pada subsektor hortikultura yang turun sebesar 3,14 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya harga komoditas sayuran dan buah-buahan akibat pasokan melimpah serta lemahnya permintaan pasar. Kondisi ini kerap terjadi menjelang akhir tahun ketika produksi meningkat namun distribusi belum optimal.
Subsektor tanaman perkebunan rakyat juga mengalami penurunan NTP sebesar 1,08 persen. Penurunan harga komoditas unggulan seperti karet dan kelapa sawit rakyat menjadi faktor utama. Fluktuasi harga global dan penyesuaian pasar domestik turut memengaruhi pendapatan petani perkebunan di wilayah Jambi.
Sementara itu, subsektor tanaman pangan mencatat penurunan relatif kecil sebesar 0,20 persen. Meski tidak signifikan, penurunan ini tetap berdampak pada petani padi dan palawija yang menghadapi tantangan harga gabah dan biaya distribusi. Stabilitas harga pangan menjadi faktor krusial dalam menjaga kesejahteraan petani kecil.
Berbeda dengan subsektor lainnya, subsektor peternakan dan perikanan justru mengalami kenaikan NTP. Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan produk hewani dan perikanan menjelang akhir tahun. Kondisi ini memberikan kontribusi positif dalam menahan penurunan NTP secara keseluruhan.
Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Jambi pada November 2025 tercatat sebesar 177,84 atau turun 1,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan NTUP mencerminkan berkurangnya surplus pendapatan petani setelah dikurangi biaya produksi, yang berdampak pada kemampuan investasi usaha tani.
Meski mengalami penurunan bulanan, secara kumulatif Januari hingga November 2025, NTP Provinsi Jambi masih tumbuh sebesar 10,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Kenaikan ini mencerminkan peningkatan daya beli petani secara tahunan, terutama didorong oleh kinerja subsektor tanaman perkebunan rakyat yang tetap menjadi penopang utama ekonomi pedesaan Jambi.(***)
Tags: NTP Jambi, Ekonomi Pertanian, Harga Komoditas, Petani Jambi, Statistik Pertanian
Foto Caption: Aktivitas petani di lahan pertanian Jambi yang mencerminkan dinamika daya beli dan fluktuasi harga hasil pertanian.






