Nyali Mandala, Disiplin Praja, dan Sedikit “Bumbu Lapangan”

Opini9 Dilihat

Kalau ada yang bilang pemimpin itu lahir dari garis keturunan, mungkin ada benarnya. Tapi kadang, yang lebih menentukan justru… gang sempit, lapangan bola, dan sedikit aspal panas.

Begitulah kira-kira cerita awal Azwar, S.STP, M.Si.—yang tampaknya lebih banyak belajar dari kehidupan langsung ketimbang dari sekadar teori.

Perumnas Mandala bukan sekadar tempat tinggal. Ia semacam “kampus terbuka” tanpa jadwal kuliah, tapi penuh ujian dadakan.

Di sana, Azwar belajar banyak hal. Bukan dari buku, tapi dari interaksi sehari-hari. Dari dinamika lingkungan yang kadang rapi, kadang… ya, seperti kehidupan pada umumnya.

Lapangan: Tempat Nilai Tidak Pakai Raport

Sepak bola dan renang jadi bagian penting. Bukan cuma soal menang atau kalah, tapi soal kerja sama, tahan banting, dan belajar tidak menyalahkan wasit setiap saat.

Main sampai level Divisi PSMS juga bukan hal kecil. Itu artinya sudah terbiasa dengan tekanan—sesuatu yang ternyata cukup berguna saat menghadapi tekanan versi birokrasi nanti.

Balap Motor: Latihan Ambil Keputusan Tanpa Rapat

Hobi balap motor mungkin terlihat sederhana. Tapi di balik itu, ada satu pelajaran penting: mengambil keputusan cepat.

Di lintasan, tidak ada waktu untuk diskusi panjang. Tidak ada notulen rapat. Yang ada hanya pilihan: gas atau rem.

Dan menariknya, pola ini kadang relevan juga di dunia nyata—meski tentu saja, dengan risiko yang sedikit berbeda.

Mencoba Banyak Hal, Sebelum Menemukan Jalan

Sempat masuk dunia telekomunikasi. Artinya, Azwar pernah belajar soal sinyal—yang mungkin berguna juga saat harus membaca “sinyal” di dunia pemerintahan.

Ini menunjukkan satu hal sederhana: tidak semua jalan lurus sejak awal. Kadang perlu belok sedikit, sebelum menemukan arah yang pas.

STPDN: Tempat Kata “Santai” Mulai Jarang Dipakai

Masuk STPDN, suasana berubah. Disiplin bukan lagi pilihan, tapi standar.

Bangun pagi, latihan, aturan ketat—semua jadi rutinitas. Di sini, teori kepemimpinan bertemu dengan praktik yang… cukup menantang fisik.

Tapi di tengah semua itu, masih sempat main bola. Artinya, keseimbangan tetap dijaga—karena bahkan calon pemimpin juga butuh sedikit ruang bernapas.

Pramuka: Dari Dilatih Menjadi Mengarahkan

Masuk ke Pramuka, perannya berubah. Dari yang dilatih jadi yang membina.

Di sini, kepemimpinan tidak lagi soal ketegasan saja, tapi juga kesabaran. Tidak hanya memberi instruksi, tapi juga memberi contoh—yang sering kali jauh lebih sulit.

Menggerakkan anak muda itu bukan perkara mudah. Tapi justru di situ letak tantangannya.

“Selesai dengan Lapangan” (Versi yang Tidak Terlalu Dramatis)

Semua perjalanan ini membentuk satu hal: terbiasa dengan lapangan.

Bukan hanya lapangan dalam arti fisik, tapi juga lapangan kehidupan—yang sering kali tidak rapi, tidak terjadwal, dan penuh kejutan.

Jadi ketika bicara soal disiplin, keberanian, atau pengabdian, setidaknya ini bukan sekadar teori. Sudah pernah dicoba—meski mungkin tidak selalu sempurna.

Kalau diringkas, perjalanan ini tidak terlalu rumit. Hanya kombinasi antara:

sedikit kerasnya Mandala,
sedikit seriusnya STPDN,
dan sedikit hangatnya Pramuka.

Ditambah satu hal penting: tidak terlalu banyak menunggu untuk mulai bergerak.

Dan mungkin itu yang membuat cerita ini terasa… sederhana, tapi cukup masuk akal untuk dipercaya.

Meniti Tangga Pengabdian: Dari “Disuruh Cepat” ke “Harus Tepat”

Kalau ada yang bilang kepemimpinan itu lahir dari teori, mungkin perlu ditambahkan satu catatan kecil: teori itu biasanya baru terasa setelah pernah disuruh bolak-balik bawa map.

Begitulah kira-kira fase awal perjalanan Azwar, S.STP, M.Si.—sebuah masa di mana jabatan belum tinggi, tapi tanggung jawab sudah cukup untuk membuat jadwal tidur sedikit berantakan.

Sibolga: Belajar Dua Dunia Sekaligus

Karier dimulai di Sibolga. Di sini, Azwar tidak hanya menjalankan satu peran, tapi dua sekaligus.

Di satu sisi, mengurus masyarakat sebagai Pj. Sekretaris Kelurahan—yang artinya harus siap dengan segala urusan warga, dari yang sederhana sampai yang “agak rumit tapi harus cepat selesai”.

Di sisi lain, jadi ajudan sekaligus sespri Sekda. Posisi yang unik—tidak terlalu terlihat, tapi sangat terasa kalau tidak ada.

Di sinilah pelajaran penting muncul: kadang, untuk memahami kebijakan, kita harus melihatnya dari dekat… bahkan sebelum sempat duduk.

Deli Serdang: Naik Level, Naik Ritme

Pulang ke Deli Serdang, Azwar masuk ke lingkaran yang lebih dekat dengan pengambil keputusan.

Menjadi ajudan Bupati itu seperti berada di “ring satu”—tempat di mana keputusan besar dibahas, dan waktu berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya.

Di sini, belajar bukan lagi dari buku, tapi dari pengalaman langsung: bagaimana mendengar, mencatat, dan—yang paling penting—memahami kapan harus bicara, dan kapan cukup mengangguk.

Medan: Dari Mengamati Jadi Menggerakkan

Masuk ke Medan, perannya berubah. Tidak lagi sekadar mendampingi, tapi mulai memimpin.

Sebagai Kasi Kesejahteraan Sosial, Azwar berhadapan langsung dengan realita masyarakat. Bantuan sosial, pemberdayaan, dan berbagai persoalan yang kadang tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori.

Lalu jadi Sekcam Medan Tembung. Posisi yang sering disebut “motor administrasi”—yang artinya kalau mesin tidak jalan, biasanya semua ikut terasa.

Dan menariknya, dilantik tepat di hari ulang tahun. Sebuah hadiah yang mungkin lebih berat dari kue ulang tahun.

Kuliah S2: Di Tengah Kesibukan yang Tidak Berkurang

Di saat banyak orang memilih fokus satu hal, Azwar justru menambah satu lagi: kuliah S2.

Ini semacam kombinasi unik—siang mengurus administrasi, malam mengurus teori. Siang menghadapi realita, malam mempelajari konsep idealnya.

Studi banding ke luar negeri juga menambah perspektif. Dari Singapura, Bangkok, sampai Kuala Lumpur—melihat bagaimana kota ditata rapi.

Lalu kembali ke Medan… dan mulai menyesuaikan teori dengan kenyataan. Sebuah latihan yang tidak selalu mudah, tapi justru di situlah ilmunya terasa.

Dari Lapangan ke Meja Perencanaan

Semua pengalaman ini perlahan membentuk satu hal: keseimbangan.

Antara aturan dan fleksibilitas. Antara rencana dan realita. Antara idealisme dan kondisi lapangan yang kadang punya “logika sendiri”.

Jadi ketika bicara soal perencanaan wilayah, setidaknya ini bukan sekadar teori dari buku. Sudah pernah diuji—meski mungkin tidak selalu berjalan mulus.

Kalau dirangkum, perjalanan ini sebenarnya sederhana:

pernah di belakang layar,
pernah di tengah lapangan,
dan akhirnya duduk di meja perencanaan.

Lengkap.

Dan mungkin itu inti dari semuanya—bahwa memahami sebuah sistem tidak cukup dari satu sisi saja.

Harus pernah melihat dari dekat, merasakan dari bawah, dan baru kemudian merancang dari atas.

Meski, tentu saja… tetap dengan satu catatan kecil: di lapangan, rencana terbaik pun kadang harus siap bernegosiasi dengan kenyataan.

Mahakarya di Tanah Talun Kenas: Ketika Mimpi Dibangun Pakai Semangat (dan Sedikit Nekat)

Di sebuah sudut bernama STM Hilir, ada cerita klasik yang sebenarnya sering kita dengar: anak-anak ingin sekolah, tapi jaraknya jauh, ongkosnya bikin mikir dua kali, dan akhirnya… ya sudah, mimpi ditunda dulu.

Masuklah Azwar, S.STP, M.Si. Bukan sebagai tokoh superhero, tapi cukup sebagai camat—jabatan yang biasanya lebih identik dengan stempel dan rapat daripada “membangun peradaban”.

Tapi rupanya, kali ini ada yang sedikit berbeda.

Ketika Masalah Lama Dijawab dengan Cara yang Tidak Biasa

Saat pertama datang, Azwar melihat kenyataan yang cukup menyentuh: banyak anak berhenti sekolah bukan karena malas, tapi karena… terlalu jauh untuk sekadar hadir di kelas.

Solusinya? Biasanya sih kita tunggu program, tunggu anggaran, tunggu waktu yang tepat, lalu… ya, tetap menunggu.

Tapi kali ini, tampaknya menunggu dianggap terlalu lama.

Membangun SMA: Versi “Kalau Tidak Ada, Ya Kita Buat Sendiri”

Daripada menunggu anggaran turun seperti hujan yang kadang lupa musimnya, Azwar memilih jalan alternatif: mulai saja dulu.

SMA Negeri 1 STM Hilir pun lahir—awalnya numpang di SMP. Tidak mewah, tapi cukup untuk membuat papan tulis kembali punya arti.

Guru? Tidak pakai proses panjang. Cukup kumpulkan alumni UNIMED, ajak bicara dari hati ke hati, lalu… jadilah relawan tanpa gaji.

Kalau dipikir-pikir, ini semacam rekrutmen paling jujur: tidak ada janji besar, hanya harapan besar.

Dari Lahan ke Harapan

Bagian paling menarik tentu soal lahan. Biasanya, urusan tanah bisa jadi drama panjang. Tapi di sini, warga justru dengan sukarela menghibahkan 6 hektar.

Jalan pun dibuka sepanjang 2 kilometer. Mungkin ini satu-satunya proyek di mana warga tidak bertanya, “Untung saya apa?” tapi langsung menjawab, “Ini untuk kita semua.”

Agak langka, tapi nyata.

Camat yang Turun ke Ladang (Bukan Cuma Turun Tangan di Rapat)

Selama menjabat, Azwar tidak hanya duduk di balik meja. Ia turun ke ladang, ikut mendengar keluhan, bahkan hadir saat konflik muncul.

Sederhana saja sebenarnya—hadir. Tapi di beberapa tempat, kehadiran seperti ini sudah terasa seperti kemewahan.

Penghargaan: Bonus dari Konsistensi

Negara pun memberi penghargaan. Satya Lencana Karya Satya X Tahun.

Sebuah pengakuan resmi bahwa bekerja dengan serius, meski di level kecamatan, tetap bisa terlihat sampai pusat.

Walau, jujur saja, yang paling terasa mungkin bukan medalinya—tapi hasil nyatanya.

Pelajaran Kecil dari Talun Kenas

Cerita ini sebenarnya sederhana. Tidak ada teknologi canggih, tidak ada anggaran fantastis, tidak ada jargon berlapis-lapis.

Hanya ada satu hal: mulai dulu.

Dan mungkin itu yang sering kita lupakan. Bahwa kadang, yang dibutuhkan bukan rencana sempurna—tapi keberanian untuk memulai meski belum sempurna.

Kalau di satu kecamatan saja bisa berdiri SMA dari semangat gotong royong, mungkin memang benar: yang sering kurang bukan kemampuan, tapi kemauan.

Dan di antara semua cerita pembangunan yang penuh istilah besar, kisah dari Talun Kenas ini terasa lebih sederhana…

…dan justru karena itu, lebih mengena.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *