Persaudaraan Diserukan, Realitas Dipertanyakan: Halalbihalal Akbar Melayu Jadi Panggung Retorika yang Tak Pernah Lelah Diulang

Sumut2 Dilihat

Di ballroom hotel mewah, kata “persaudaraan” kembali diangkat tinggi—setinggi langit-langit ruangan berlampu kristal—sementara di luar sana, realitas sosial masih sibuk berdebat dengan dirinya sendiri. Halalbihalal Akbar Melayu di Medan kembali menghadirkan parade kalimat indah tentang kebersamaan, seolah konflik sosial hanyalah mitos yang bisa dibubarkan dengan satu acara formal dan beberapa tepuk tangan.

Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, mengajak masyarakat memperkuat persaudaraan dalam bingkai keberagaman. Sebuah ajakan yang secara ide terdengar tak terbantahkan—karena siapa yang berani menolak persaudaraan? Namun di saat yang sama, pola pikir seperti ini sering berhenti pada tataran slogan, tanpa keberanian menyentuh akar masalah yang justru membuat persaudaraan itu rapuh sejak awal.

Tema yang diusung pun tak kalah megah: merajut persaudaraan dalam keberagaman. Kalimat yang sudah begitu sering dipakai hingga nyaris kehilangan makna, seperti lagu lama yang terus diputar tanpa pernah benar-benar didengarkan. Di atas panggung, semuanya tampak rapi dan harmonis—tidak ada gesekan, tidak ada perbedaan tajam—karena memang yang ditampilkan hanyalah versi terbaik dari realitas, bukan realitas itu sendiri.

Ada keyakinan yang terus dipelihara: bahwa dengan berkumpul, bersalaman, dan saling memaafkan dalam satu acara, maka harmoni sosial otomatis tercipta. Sebuah asumsi yang nyaman, tapi juga berbahaya—karena ia membuat kita percaya bahwa simbol sudah cukup, tanpa perlu kerja nyata yang seringkali jauh lebih sulit dan tidak seremonial.

Dalam sambutannya, Surya menegaskan pentingnya menjaga keharmonisan dan merawat silaturahmi. Pernyataan yang terdengar benar, tapi juga terasa seperti pengulangan dari daftar panjang pesan moral yang sudah bertahun-tahun disampaikan tanpa pernah benar-benar diukur dampaknya.

Apresiasi juga diberikan kepada berbagai organisasi Melayu seperti PB MABMI, PB ISMI, dan PB GAMI. Nama-nama organisasi disebut dengan penuh hormat, seolah struktur kelembagaan otomatis menjamin terjaganya nilai-nilai yang mereka bawa. Padahal, sejarah sering menunjukkan bahwa institusi bisa kuat di nama, tapi lemah di implementasi.

Di sisi lain, pernyataan tentang keberagaman sebagai “rahmat” kembali digaungkan. Sebuah narasi yang indah, namun seringkali diperlakukan sebagai slogan aman—karena tidak pernah dipaksa untuk berhadapan dengan kenyataan bahwa keberagaman juga bisa menjadi sumber konflik jika tidak dikelola dengan serius, bukan sekadar dirayakan.

Kehadiran tokoh-tokoh penting menambah legitimasi acara, mempertegas bahwa ini bukan sekadar pertemuan biasa. Namun justru di titik itu, pertanyaan menjadi semakin tajam: jika semua sepakat tentang pentingnya persaudaraan, mengapa persoalan yang sama terus berulang dari tahun ke tahun?

Akhirnya, Halalbihalal Akbar ini kembali menjadi cermin—bukan tentang keberhasilan persaudaraan, tetapi tentang betapa kita sangat piawai membicarakannya. Karena di negeri ini, persatuan sering kali lebih rajin diucapkan daripada diperjuangkan, dan keberagaman lebih sering dirayakan di panggung daripada diselesaikan di kehidupan nyata.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *