matabangsa.com – Medan | Aktivitas industri berskala besar di Tapanuli dinilai memberi perubahan signifikan terhadap bentang alam. Peta terbaru menunjukkan pola bukaan yang mengitari sejumlah desa dan area hutan alam.
Sumber data dan peta yang digunakan dalam laporan ini berasal dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), sebuah organisasi masyarakat sipil yang selama bertahun-tahun fokus melakukan advokasi, riset, dan pemantauan terhadap aktivitas pertambangan serta industri ekstraktif di Indonesia.
JATAM secara rutin merilis peta spasial, laporan investigatif, dan analisis dampak lingkungan berbasis data resmi pemerintah, citra satelit, serta temuan lapangan, sehingga informasi yang disajikan menjadi rujukan penting bagi publik dalam memahami dinamika penggunaan lahan dan potensi ancaman ekologis di berbagai daerah.
Konsesi PT Toba Pulp Lestari yang mencapai 185.015 hektare menjadi salah satu yang paling luas. Bukaan hutan untuk tanaman industri memberi pengaruh terhadap kontur tanah dan aliran air permukaan.
Pada sisi barat peta tampak jelas area tambang PT Agincourt Resources yang membentuk pola cekungan besar. Citra satelit memperlihatkan perubahan drastis pada vegetasi dan tekstur tanah di wilayah tambang tersebut.
Para pemerhati lingkungan memperingatkan risiko longsor dan sedimentasi apabila lahan terus dibuka tanpa kontrol ketat. Wilayah dataran tinggi Tapanuli diketahui memiliki karakter tanah yang rapuh dan rentan erosi.
Penambahan proyek panas bumi pada 447.000 hektare WKP Gunung Sibual-Buali memperbesar tekanan ekologis.
Aktivitas pemboran dan pembangunan fasilitas panas bumi juga berpotensi mengubah struktur tanah. Bukaan industri seperti 49.230 hektare milik PT Anugrah Rimba Makmur turut memberi efek kumulatif terhadap ekosistem.
Analisis spasial menunjukkan irisan antara konsesi dan habitat beberapa satwa langka. Kekhawatiran publik meningkat terutama pada kawasan yang berada dekat sungai dan lereng curam.
Para ahli menekankan pentingnya kajian AMDAL yang ketat dan tidak bersifat formalitas. Perubahan bentang alam tercatat mempengaruhi pola hidrologi dan potensi banjir bandang.
Warga di beberapa desa mulai merasakan perubahan debit air yang tidak stabil. Dalam jangka panjang, tekanan industri dapat menggerus fungsi ekologis hutan primer.
Pemerintah diminta meninjau ulang seluruh izin konsesi untuk menutup celah penyalahgunaan. Perlindungan lansekap Tapanuli dinilai harus menjadi prioritas nasional karena menyangkut keberlanjutan generasi mendatang.(***)
Tags : #Tapanuli, #TPL, #DanauToba, #IndustriEkstraktif, #Tambang, #EnergiPanasBumi, #LingkunganHidup, #BatangToru, #Sarulla,
Foto: Peta bukaan lahan industri di kawasan Danau Toba menampilkan konsesi PT Toba Pulp Lestari seluas 185.015 ha, proyek panas bumi 447.000 ha, area tambang PT Agincourt Resources, serta sejumlah infrastruktur energi dan kehutanan.





