Medan — Suara bedug kembali menggema di Taman Sri Deli, menandai dibukanya Ramadhan Fair ke-XX Tahun 2026. Sebuah tradisi tahunan yang bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang bagaimana suasana Ramadan dikemas dengan sedikit sentuhan panggung dan banyak aktivitas, Rabu (25/02/2026).
Anggota DPRD Kota Medan, Ade Taufiq, dr. H. Ade Taufiq, Sp.OG., hadir mewakili Ketua DPRD Kota Medan dalam acara pembukaan tersebut. Kehadirannya melengkapi barisan tamu penting yang datang—membuktikan bahwa Ramadhan Fair memang selalu punya daya tarik tersendiri.
Acara ini resmi dibuka oleh Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap, dengan penabuhan bedug—ritual simbolik yang selalu berhasil menciptakan suasana meriah, bahkan sebelum acara benar-benar dimulai.
Memasuki tahun ke-20, Ramadhan Fair ini menjadi simbol konsistensi Pemerintah Kota Medan dalam menggabungkan dakwah dan ekonomi rakyat. Sebuah kombinasi yang menarik: di satu sisi ada tausiah, di sisi lain ada stan UMKM yang tak kalah ramai.
Kehadiran Hadad Alwi turut menambah semarak acara. Karena dalam setiap kegiatan besar, selalu ada satu momen yang membuat suasana menjadi sedikit lebih istimewa—dan kali ini datang dari panggung religi.
Turut hadir pula berbagai tokoh penting, mulai dari unsur Forkopimda Kota Medan, Anggota DPRD Kota Medan Syaiful Ramadhan, hingga Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah. Daftar undangan yang panjang ini menunjukkan bahwa Ramadhan Fair bukan sekadar acara biasa, melainkan agenda yang mampu mengumpulkan banyak elemen dalam satu tempat.
Dalam nuansa Horatian yang santai, Ramadhan Fair ini seperti paket lengkap Ramadan: ada tausiah untuk menenangkan hati, lomba untuk meramaikan suasana, dan tentu saja UMKM untuk menggerakkan ekonomi—semuanya berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.
Kegiatan ini akan berlangsung hingga 16 Maret 2026, diisi dengan berbagai perlombaan seperti Da’i Cilik, lomba adzan, pembacaan surah pendek, hingga lomba stan UMKM terbaik. Sebuah rangkaian acara yang memastikan bahwa setiap pengunjung punya alasan untuk datang—lebih dari sekali.
Pada akhirnya, Ramadhan Fair bukan hanya tentang acara tahunan, tetapi juga tentang bagaimana suasana Ramadan dihidupkan bersama. Antara ibadah dan hiburan, antara refleksi dan transaksi—semuanya berpadu dalam satu ruang yang sama.
Dan jika pulang dari sana orang membawa dua hal sekaligus—ketenangan hati dan kantong belanja yang sedikit lebih ringan—maka Ramadhan Fair ini bisa dibilang sukses menjalankan dua misinya sekaligus.(***)






