Rapat Evaluasi Komisi 3 DPRD Medan: Ketika Angka Diperiksa, Harapan Ikut Dihitung

Politik9 Dilihat

Medan — Di balik angka-angka yang tersusun rapi dalam laporan, selalu ada satu pertanyaan sederhana: sudah sejauh mana semua itu berjalan sesuai rencana? Pertanyaan inilah yang menjadi “menu utama” dalam Rapat Evaluasi Kinerja Triwulan I Tahun 2026 yang digelar Komisi 3 DPRD Kota Medan, Selasa (24/02/2026).

Rapat tersebut dipimpin oleh Salomo Tabah Ronal Pardede, S.E., M.M., didampingi Wakil Ketua T Bahrumsyah, S.H., M.H., serta dihadiri para anggota Komisi 3 DPRD Kota Medan. Suasana rapat pun berjalan serius—sebagaimana mestinya ketika angka mulai dibicarakan.

Hadir sebagai mitra kerja dalam evaluasi ini Dinas Pariwisata Kota Medan dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Medan. Dua OPD yang perannya cukup strategis, terutama dalam urusan menarik minat—baik wisatawan maupun investor.

Dalam rapat ini, dibahas capaian kinerja serta realisasi pendapatan dan belanja yang telah diserap dari APBD Tahun Anggaran 2026 pada Triwulan I. Sebuah sesi yang, dalam nuansa Horatian, bisa diibaratkan seperti “rapor awal tahun”—masih ada waktu memperbaiki, tapi tetap perlu dilihat dengan teliti.

Tujuan evaluasi ini jelas: mengetahui sejauh mana target tercapai, baik dalam pembangunan maupun pelayanan. Karena pada akhirnya, semua bermuara pada satu hal yang selalu disebut dengan nada serius: peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Namun di balik itu, ada ironi ringan yang terasa. Angka-angka bisa terlihat rapi di atas kertas, tetapi realitas di lapangan sering kali punya cerita sendiri. Di sinilah fungsi pengawasan DPRD menjadi penting—untuk memastikan bahwa antara laporan dan kenyataan tidak berjalan di jalur yang berbeda.

Sebagai wakil rakyat, DPRD Kota Medan menjalankan fungsi pengawasan dengan melihat apakah kinerja OPD sudah sesuai target dan tepat sasaran. Sebuah tugas yang terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya sering membutuhkan lebih dari sekadar membaca laporan.

Rapat evaluasi ini juga menjadi ruang dialog antara legislatif dan eksekutif. Bukan hanya untuk menilai, tetapi juga untuk mencari solusi—agar capaian di triwulan berikutnya bisa lebih baik dari sebelumnya.

Pada akhirnya, evaluasi bukanlah tentang mencari kekurangan semata, tetapi tentang memperbaiki arah. Karena dalam perjalanan satu tahun anggaran, yang paling penting bukan hanya bagaimana memulai, tetapi bagaimana memastikan semuanya tetap berjalan sesuai tujuan.

Dan jika setelah rapat ini angka-angka tidak hanya rapi di laporan, tetapi juga terasa manfaatnya di masyarakat, maka evaluasi ini bisa dibilang berhasil—tanpa perlu tambahan catatan kaki yang terlalu panjang.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *