Rico Waas Lepas Ribuan Kafilah, Pawai Ta’aruf MTQ ke-59 Medan: Antara Syiar, Gaya, dan Sedikit Lambaian Tangan

Medan5 Dilihat

Medan — Ada yang menarik dari pawai yang satu ini: bukan hanya barisan kafilah yang rapi dan penuh warna, tetapi juga cara sebuah kota merayakan keberagaman sambil tetap khusyuk. Sabtu (11/4/2026), di sepanjang Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Medan Sunggal, ribuan peserta Pawai Ta’aruf MTQ ke-59 Kota Medan melangkah dengan semangat, seolah ingin membuktikan bahwa syiar agama bisa tampil meriah tanpa kehilangan makna. Dan tentu saja, di tengah semua itu, ada lambaian tangan yang tak kalah penting—simbol kehangatan sekaligus “ritual wajib” dalam setiap seremoni.

Suasana pagi itu terasa seperti perpaduan antara festival budaya dan parade religius. Busana islami dipadukan dengan ornamen khas daerah, dari Melayu hingga Batak, Minang sampai Karo, bahkan sentuhan Tionghoa, India, dan Arab ikut meramaikan. Kalau dilihat sekilas, ini bukan sekadar pawai, tapi semacam “etalase berjalan” yang menunjukkan bahwa Medan memang jago dalam urusan keberagaman—dan juga cukup kreatif dalam memadukan estetika dengan semangat lomba.

Di atas panggung kehormatan, Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Airin Rico Waas tampak menikmati momen tersebut. Dengan penuh semangat, keduanya melambaikan tangan kepada setiap kafilah yang melintas—sebuah gestur sederhana yang, dalam konteks acara seperti ini, bisa berarti banyak: apresiasi, dukungan, atau sekadar memastikan kamera menangkap sudut terbaik.

Turut hadir mendampingi, Wiriya Alrahman bersama Ismiralda Wiriya Alrahman, serta Saipul Bahri, Hasan Matsum, dan Impun Siregar. Kehadiran para pejabat ini menambah kesan bahwa pawai bukan hanya milik peserta, tetapi juga panggung kolektif bagi seluruh unsur pemerintahan—sebuah kolaborasi yang, setidaknya hari itu, tampak harmonis tanpa agenda yang terlalu berat.

Kafilah dari Kecamatan Medan Selayang membuka parade sebagai juara umum tahun lalu, membawa trofi dengan iringan marching band yang cukup percaya diri. Disusul kecamatan lain seperti Medan Labuhan, Medan Baru, hingga Medan Helvetia, masing-masing menampilkan ciri khasnya. Dan tentu saja, tuan rumah Medan Sunggal tampil sebagai penutup, seolah ingin memastikan bahwa akhir parade tetap meninggalkan kesan—kalau bisa, sedikit lebih “wah”.

Dalam sambutannya, Rico Waas menegaskan bahwa Pawai Ta’aruf bukan sekadar seremoni pembuka, melainkan simbol persatuan dan syiar Islam di tengah masyarakat yang majemuk. Pernyataan yang terdengar ideal ini, menariknya, benar-benar tercermin di lapangan—meski di sela-selanya, tak bisa dipungkiri ada juga unsur “siapa paling kreatif” yang diam-diam menjadi kompetisi tersendiri.

“Alhamdulillah Pawai Ta’aruf berjalan lancar. Saya apresiasi seluruh kafilah yang telah tampil dengan penuh semangat,” ujar Rico Waas. Pernyataan yang sederhana, namun cukup mewakili suasana: semua berjalan baik, semua tampak senang, dan—yang tak kalah penting—tidak ada yang terlalu serius hingga melupakan sisi meriahnya.

Di sepanjang jalan, masyarakat tumpah ruah menyaksikan pawai. Dari anak-anak hingga orang tua, semua sibuk dengan ponsel masing-masing, mengabadikan momen yang mungkin akan segera tenggelam di galeri, tapi tetap penting untuk dibagikan. Sorak sorai dan tepuk tangan mengiringi setiap kafilah, menciptakan suasana yang hangat—dan sedikit riuh, tentu saja.

Setiap penampilan terasa seperti kombinasi antara dakwah dan pertunjukan. Ada kendaraan hias, seni budaya, hingga lantunan shalawat yang menggema. Di satu sisi, ini adalah penguatan nilai religius; di sisi lain, ini juga menjadi bukti bahwa kreativitas warga Medan tidak bisa diremehkan—bahkan dalam acara yang sarat makna spiritual.

MTQ ke-59 Kota Medan sendiri akan berlangsung hingga 18 April 2026, mengusung tema membangun ketaatan yang hakiki kepada Allah SWT dan Rasul-Nya menuju Medan Bertuah. Tema yang berat, tentu saja, tetapi disampaikan melalui rangkaian kegiatan yang justru terasa ringan dan membumi.

Usai pawai, Rico Waas bersama Airin Rico Waas meresmikan stan pameran dengan pengguntingan pita—sebuah momen klasik yang selalu berhasil menandai dimulainya sesuatu, sekaligus memberi ruang bagi ekonomi kreatif untuk ikut bersinar di tengah kegiatan religius.

Pada akhirnya, Pawai Ta’aruf ini bukan hanya tentang siapa yang paling meriah atau paling rapi. Ia adalah refleksi sederhana tentang bagaimana sebuah kota bisa merayakan iman, budaya, dan kebersamaan dalam satu waktu. Dan jika ada satu hal yang bisa disimpulkan, mungkin ini: di Medan, bahkan keseriusan pun bisa dikemas dengan cara yang santai—asal tetap ada lambaian tangan di waktu yang tepat.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *