Rp238,8 Miliar untuk Jalan: Antara Aspal, Harapan, dan Lubang yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Nasional, Sumut7 Dilihat

Matabangsa.com – Medan — Citra Sumatera Utara masih dikenal, di mana lubang jalan kadang lebih setia daripada janji kampanye. Kali ini muncul di layar tender, tentang gelontoran anggaran Rp238,8 miliar untuk tiga proyek jalan di Sipiongot terdengar seperti kabar gembira yang perlu disambut, tapi dengan sedikit curiga, mirip detektif Conan sembari hidangan gorengan dan segelas kopi pahit.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, melalui Dinas Bina Marga, kembali menegaskan cintanya pada aspal. Tiga ruas jalan di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) kini resmi masuk tahap pelaksanaan, setelah melewati ritual sakral bernama tender—sebuah proses yang konon transparan, meski sering terasa seperti kaca film mobil pejabat: terlihat, tapi tidak sepenuhnya jelas.

Ruas Sipiongot–Batas Tapanuli Selatan (Tolang) mendapat jatah Rp72 miliar. Ruas Sipiongot–Batas Labuhanbatu memperoleh Rp96 miliar. Dan ruas Hutaimbaru–Sipiongot kebagian Rp70,8 miliar. Jika dijumlahkan, nilainya cukup untuk membuat jalan mulus—atau setidaknya membuat laporan keuangan terlihat sangat mulus.

Menariknya, semua proyek ini sudah menemukan pemenangnya. Dua paket besar jatuh ke tangan PT Sumatera Pioneer Building Material, sementara satu paket lainnya dimenangkan oleh PT Zhafiara Tetap Jaya. Nama-nama perusahaan ini kini menjadi harapan baru masyarakat—atau setidaknya menjadi nama yang akan sering disebut jika jalan kembali berlubang sebelum masa garansi habis.

Seperti biasa, nilai kontrak disebut-sebut “sedikit di bawah” Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Sebuah frasa yang dalam dunia proyek sering terdengar seperti diskon di pusat perbelanjaan: terlihat hemat, tapi entah benar-benar menguntungkan atau hanya permainan angka yang cerdas.

Di atas kertas, semuanya tampak rapi. Anggaran jelas, pemenang ada, dan proses telah dilalui. Namun, rakyat di lapangan biasanya tidak membaca dokumen LPSE—mereka membaca jalan. Jika ban motor mereka selamat dari guncangan, maka proyek dianggap berhasil. Jika tidak, maka Rp238,8 miliar itu hanya akan dikenang sebagai angka yang besar, tapi terasa kecil di bawah roda.

Kita tentu berharap proyek ini tidak sekadar menjadi “peningkatan struktur jalan” dalam laporan, tetapi juga peningkatan kualitas hidup bagi warga Sipiongot dan sekitarnya. Karena bagi masyarakat, jalan bukan sekadar infrastruktur—ia adalah urat nadi ekonomi, jalur anak sekolah, dan akses menuju harapan yang sering kali tertunda.

Namun, pengalaman mengajarkan satu hal: di negeri ini, jalan baru sering kali hanya butuh waktu satu musim hujan untuk kembali ke habitat aslinya—berlubang, bergelombang, dan penuh cerita.

Jadi, mari kita sambut proyek Rp238,8 miliar ini dengan optimisme yang terukur. Kita doakan semoga aspalnya lebih tebal dari janji, drainasenya lebih lancar dari birokrasi, dan pengawasannya lebih ketat dari standar formalitas.

Karena pada akhirnya, rakyat tidak butuh angka miliaran. Mereka hanya butuh satu hal sederhana: jalan yang tidak membuat mereka merasa sedang off-road setiap kali berangkat kerja atau jalan ke sekolah dengan sepatu masih bersih tidak berlumpur.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *