Subsektor Hortikultura Tekan NTP Jambi November 2025, Harga Jual Petani Melemah

Ekonomi, Nasional61 Dilihat

matabangsa.com – Medan : Penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi pada November 2025 tidak terlepas dari melemahnya kinerja subsektor hortikultura. Data terbaru menunjukkan NTP Jambi berada pada level 172,67 atau turun 1,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya kemampuan daya beli petani, khususnya mereka yang menggantungkan pendapatan dari komoditas hortikultura seperti sayur dan buah.

Subsektor hortikultura tercatat mengalami penurunan terdalam dengan angka mencapai 3,14 persen. Penurunan tersebut terjadi seiring melemahnya harga jual sejumlah komoditas hortikultura di tingkat petani. Melimpahnya pasokan hasil panen yang tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan pasar menjadi faktor utama yang menekan harga, terutama di sentra produksi hortikultura di Provinsi Jambi.

Data BPS Jambi, kondisi ini turut berdampak pada turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) secara keseluruhan sebesar 1,39 persen. It mencerminkan rata-rata perubahan harga produk pertanian yang dijual petani. Ketika harga jual turun, pendapatan petani ikut tergerus meskipun volume produksi relatif stabil. Situasi ini membuat petani menghadapi tekanan ekonomi dalam jangka pendek.

Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) pada November 2025 juga mengalami penurunan sebesar 0,34 persen. Penurunan Ib menunjukkan adanya penurunan biaya konsumsi rumah tangga dan biaya produksi pertanian. Namun, turunnya Ib belum mampu mengimbangi penurunan It yang lebih dalam, sehingga NTP secara total tetap mengalami kontraksi.

Selain hortikultura, subsektor tanaman perkebunan rakyat juga memberikan kontribusi terhadap penurunan NTP dengan penurunan sebesar 1,08 persen. Harga komoditas unggulan seperti karet dan kelapa sawit rakyat mengalami fluktuasi yang berdampak langsung pada pendapatan petani. Meskipun tidak sedalam hortikultura, penurunan ini tetap memengaruhi keseimbangan ekonomi rumah tangga petani.

Subsektor tanaman pangan juga tercatat mengalami penurunan NTP sebesar 0,20 persen. Penurunan ini relatif kecil, namun tetap mencerminkan tantangan yang dihadapi petani padi dan palawija. Harga gabah yang bergerak stagnan serta biaya distribusi yang masih menjadi beban membuat pendapatan petani pangan belum sepenuhnya optimal.

Di tengah tekanan tersebut, subsektor peternakan dan perikanan justru menunjukkan kinerja positif. Kenaikan NTP pada kedua subsektor ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan produk peternakan dan perikanan, terutama menjelang akhir tahun. Kenaikan harga jual komoditas seperti daging, telur, dan ikan memberikan tambahan pendapatan bagi petani dan nelayan.

Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Jambi pada November 2025 tercatat sebesar 177,84 atau turun 1,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan NTUP menunjukkan bahwa keuntungan bersih petani setelah dikurangi biaya produksi mengalami penurunan. Hal ini dapat memengaruhi kemampuan petani dalam melakukan investasi usaha tani ke depan.

Meski mengalami penurunan secara bulanan, kinerja NTP Jambi secara kumulatif Januari hingga November 2025 masih menunjukkan tren positif. NTP tercatat naik sebesar 10,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Kenaikan tahunan ini mencerminkan peningkatan daya beli petani dalam jangka panjang, terutama berkat kontribusi subsektor tanaman perkebunan rakyat yang masih menjadi tulang punggung ekonomi pertanian di Provinsi Jambi.(***)

Tags: NTP Jambi, Hortikultura Jambi, Harga Pertanian, Ekonomi Petani, Statistik Pertanian

Foto Caption: Petani hortikultura di Provinsi Jambi memanen hasil kebun di tengah fluktuasi harga yang memengaruhi Nilai Tukar Petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *