Trotoar Berkelas Dunia: Jalan Kaki Naik Level, Nyaman Belakangan

Medan9 Dilihat

Di sebuah rapat yang tampaknya lebih serius dari sidang masa depan kota, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menegaskan satu hal penting: trotoar tidak boleh lagi sekadar trotoar.

Karena di era modern ini, berjalan kaki bukan lagi aktivitas sederhana. Ini sudah masuk kategori pengalaman premium—lengkap dengan konsep, estetika, dan mungkin sedikit sentuhan filosofis.

“Sekali dibangun harus bertahan lama,” tegas beliau. Sebuah kalimat yang terdengar bijak, terutama jika diingat bahwa sebagian trotoar kita selama ini memang terkenal… cepat berevolusi.

Dalam arahannya, desain trotoar tidak boleh seragam. Harus menyesuaikan kondisi lapangan. Sebuah ide yang terdengar sangat masuk akal—dan sekaligus menarik, mengingat selama ini justru keseragaman sering muncul tanpa banyak pertanyaan.

Setiap blok harus punya karakter. Mungkin nanti ada trotoar bertema klasik, trotoar modern minimalis, atau bahkan trotoar “ekspresif” yang menantang imajinasi pejalan kaki untuk tetap seimbang.

Rapat itu dihadiri jajaran penting. Lengkap. Mulai dari Sekda, dinas teknis, hingga pihak terkait lainnya. Semua berkumpul untuk membahas satu hal yang selama ini dianggap sederhana: tempat orang berjalan kaki tanpa tersandung.

Wali kota juga menegaskan, kualitas harus naik. Tidak boleh lagi “trotoar biasa”. Karena tampaknya, trotoar sekarang harus punya standar yang hampir setara dengan destinasi wisata.

Material harus diperhatikan. Drainase harus rapi. Pencahayaan harus bagus. Bahkan akses untuk penyandang disabilitas juga ditekankan. Semua terdengar ideal—seperti daftar keinginan yang selama ini memang sering disebut, hanya saja jarang benar-benar konsisten terlihat.

Trotoar, katanya, bukan sekadar jalan kaki. Ini adalah ruang hidup. Ruang interaksi. Ruang estetika. Sebuah konsep yang indah, terutama jika tidak terganggu oleh parkir liar, pedagang mendadak, atau lubang yang muncul tanpa pemberitahuan.

Ada juga peringatan penting: jangan membangun tanpa perencanaan matang. Jangan asal tutup jalan. Karena itu bisa membuat masyarakat tidak nyaman. Sebuah pengingat yang terasa seperti refleksi dari pengalaman-pengalaman sebelumnya—yang mungkin terlalu sering terjadi untuk disebut kebetulan.

Setiap titik harus direncanakan detail. Bahkan jalan sempit dan kebutuhan parkir pun harus diperhitungkan. Ini menarik, karena dalam praktiknya, parkir sering kali punya logika sendiri yang tidak selalu sejalan dengan trotoar.

Daftar jalan yang akan ditata pun tidak main-main. Dari Jalan HM Yamin, Zainul Arifin, Juanda, hingga kawasan Masjid Raya dan Istana Maimun. Lokasi strategis, penuh aktivitas, dan tentu saja penuh tantangan.

Harapannya jelas: hasil terbaik yang benar-benar dirasakan masyarakat. Sebuah harapan yang selalu hadir di setiap rencana besar, berdampingan dengan realita yang kadang punya rencana sendiri.

Pada akhirnya, Medan sedang bersiap naik level—setidaknya dari sisi trotoar. Karena di kota ini, berjalan kaki tidak lagi sekadar berpindah tempat, tapi menjadi bagian dari proyek besar bernama “penataan”.

Dan semoga saja, di tengah semua konsep, desain, dan estetika itu, pejalan kaki tetap bisa melakukan hal paling dasar: berjalan lurus… tanpa harus zig-zag menghindari kenyataan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *