Trotoar Berkonsep: Jalan Kaki Naik Kelas, Realita Menyusul Nanti

Medan7 Dilihat

Di sebuah rapat yang mungkin menentukan arah peradaban trotoar dunia, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menegaskan bahwa pembangunan trotoar tidak boleh sembarangan. Karena ternyata, selama ini trotoar bukan sekadar tempat orang lewat—melainkan proyek peradaban yang tertunda.

“Harus punya konsep yang benar. Sekali dibangun harus bertahan lama,” tegas beliau. Sebuah kalimat sakral, yang jika diulang tiga kali mungkin bisa membuat paving block lebih tahan banting secara spiritual.

Rapat berlangsung di rumah dinas, tempat di mana ide-ide besar lahir. Di sana, para pejabat berkumpul, membahas sesuatu yang selama ini sering dianggap sederhana: bagaimana manusia berjalan tanpa harus bernegosiasi dengan lubang, parkir liar, dan kenyataan.

Trotoar, katanya, tidak boleh seragam. Harus menyesuaikan kondisi lapangan. Sebuah konsep revolusioner, mengingat selama ini justru kondisi lapangan yang sering dipaksa menyesuaikan trotoar.

Setiap blok harus punya karakter. Mungkin nanti ada trotoar yang lembut secara emosional, ada yang kuat secara struktural, dan ada juga yang reflektif—tempat pejalan kaki merenungkan nasib sambil mencari celah untuk lewat.

Kualitas juga harus naik. Tidak boleh lagi trotoar biasa. Karena di kota ini, berjalan kaki tampaknya harus menjadi pengalaman premium—mungkin dengan sensasi sedikit melayang di atas realita.

Material, drainase, pencahayaan, hingga akses disabilitas dibahas dengan serius. Semua aspek diperhitungkan. Sebuah daftar lengkap yang terdengar seperti janji masa depan, yang kadang tersimpan rapi di dokumen perencanaan.

Trotoar juga harus terintegrasi dengan ruang hijau dan fasilitas umum. Jadi nanti, sambil berjalan kaki, warga bisa menikmati pohon, cahaya lampu, dan mungkin juga harapan yang tumbuh perlahan.

Ada juga peringatan penting: jangan asal tutup jalan. Karena itu bisa membuat masyarakat tidak nyaman. Pernyataan ini terdengar seperti pengakuan halus bahwa ketidaknyamanan sebelumnya mungkin bukan sekadar mitos.

Setiap titik harus dirancang detail. Bahkan jalan sempit dan kebutuhan parkir harus diperhitungkan. Ini menarik, karena parkir di kota sering kali punya hukum sendiri—tidak tunduk pada perencanaan, tapi pada kesempatan.

Daftar jalan yang akan ditata pun tidak main-main. Dari HM Yamin hingga kawasan Masjid Raya dan Istana Maimun. Sebuah jalur yang, jika ditata dengan sempurna, mungkin bisa menjadi destinasi wisata baru: “Jalan Kaki Berkonsep Medan”.

Harapannya jelas: hasil terbaik yang benar-benar dirasakan masyarakat. Sebuah harapan yang selalu hadir, berdampingan dengan realita yang sering datang tanpa undangan.

Karena pada akhirnya, yang sedang dibangun bukan hanya trotoar. Tapi konsep. Konsep yang rapi, indah, dan penuh perhitungan—meskipun kadang di lapangan harus berhadapan dengan hal-hal kecil seperti kebiasaan, spontanitas, dan gravitasi sosial.

Dan mungkin, di masa depan, orang tidak lagi sekadar berjalan di trotoar. Mereka akan merasakan pengalaman berjalan yang terkurasi, terkonsep, dan terencana—selama mereka berhasil menemukan ruang untuk melangkah di antara semua itu.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *