Viral Video Mesra Kepala Desa dan Istri Orang di Hotel, Warga Paluta Geleng-Geleng Kepala
Padangsidimpuan – Sebuah video yang bikin heboh tengah beredar luas di kalangan wartawan dan masyarakat. Pemerannya bukan selebriti, melainkan seorang pejabat desa—Syawal Siregar, Kepala Desa Hutabaru Naka, Kecamatan Halongonan Timur, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta).
Dalam video yang tersebar itu, Syawal terekam bermesraan di dalam kamar hotel bersama seorang perempuan berinisial FN, yang ternyata istri orang. Diduga kuat, keduanya tengah memadu cinta terlarang di sebuah hotel di Kota Padangsidimpuan.
Meski hubungan mereka telah jadi konsumsi publik, Syawal Siregar tampaknya cuek bebek. Ia tidak memberikan klarifikasi resmi soal video tersebut. Bahkan saat dihubungi wartawan melalui nomor 0823-2308-7045, Syawal memilih bungkam saat ditanya apakah sudah menikah siri dengan FN.
“Video Mesra Beredar di Kalangan Wartawan”
Udin Lubis, seorang warga asal Kota Padangsidimpuan, mengaku mendapat info dari temannya di Paluta mengenai hubungan spesial Syawal dan FN.
“Saya tahu dari teman di Paluta. Dia kirim videonya juga ke saya, dan memang benar mereka tampak mesra banget di kamar,” ujar Udin, Selasa 1 Juli 2025.
Udin merasa heran sekaligus kecewa, karena menurutnya Syawal sempat dikenal sebagai sosok kalem dan sopan saat masih menjabat sebagai Sekretaris Desa.
“Sayang sekali ya. Seharusnya sebagai kepala desa, dia bisa kasih contoh yang baik ke masyarakat,” tambah Udin.
FN Sudah Bersuami, Syawal Tetap Nekat
FN sendiri diketahui tinggal di Padangsidimpuan dan merupakan istri sah dari IR, seorang buruh lepas. Meski telah berumah tangga, FN dan Syawal disebut-sebut sudah berulang kali bertemu secara diam-diam.
Terakhir, mereka dilaporkan terlihat di Hotel Mutiara Kota Padangsidimpuan pada Senin, 9 Juni 2025. Berdasarkan informasi yang diperoleh, mereka masuk ke kamar sekitar pukul 13.00 WIB dan keluar sekitar pukul 16.00 WIB.
Belum Ada Klarifikasi Resmi
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi baik dari Syawal Siregar maupun pihak FN. Warga berharap pihak berwenang, terutama Inspektorat Kabupaten Paluta, turun tangan untuk menindaklanjuti persoalan ini, apalagi menyangkut etika dan moral pemimpin desa.
“Kalau benar, ini mencoreng nama baik institusi desa. Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan,” ujar seorang tokoh masyarakat yang enggan disebut namanya.(***)






