Kisah Inspiratif Perjuangan Guru MTsN Sibolga Ibnu Tasnim

Pendidikan58 Dilihat

Tepatnya hari Senin 13 Mei 1968 lalu lahir bayi laki-laki diberi nama Ibnu Tasnim yang artinya Mata Air Yang Mengalir Dari Surga, pemberian nama wujud kasih sayang sang kakek dengan harapan kelak sang cucu menjadi penyejuk hati, anak yang sholeh lagi berguna bagi nusa dan bangsa terlebih untuk agamanya.

Beliau hanya sekejap dapat merasakan nikmatnya hidup didampingi orang tua lengkap, karena saat duduk dikelas 4 SD sang nenek membawanya ke Aceh Singkil untuk melanjutkan sekolah. Dimana sang nenek membawanya untuk menjaga pengaruh buruk dari kawan bermainnya Sibolga. Ibnu kecilpun melanjutkan pendidikannya yang dibiayai oleh sang nenek di Aceh Singkil.

Ayah yang bernama lengkap Ibnu Tasnim Tampubolon,S.Ag memiliki empat orang anak, yakni Muarif Abbas Tampubolon sebagai putra sulung kebanggaan tamatan dari Politeknik Negeri Batam jurusan perawatan pesawat udara dan kini telah bekerja di PELITA AIR sebagai mekanik pesawat udara, putri kedua Dinda Humaira Tampubolon sedang kuliah di UNIMED jurusan Bahasa Inggris, Sofie Raihana Tampubolon putri ketiga sedang kuliah di UNIMED jurusan Biologi dan si bungsu Ahyana Rizkia Tapubolon duduk di kelas VIII di MTsN Sibolga.

Baca Juga: Rapat Pengawas Madrasah Kota Binjai: Fokus pada Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Pengelolaan Madrasah

Kendati harus sambil menjajakan kue martabak dan onde-onde bacucuk (bahasa sibolga), Ibnu berhasil menamatkan sekolah tingkat dasar dan melanjutkan tingkat SMP di Sibolga kembali, Tapi kembali Ibnu Tasnim harus pindah mengikuti orang tuanya pindah ke Jambi saat kelas 2 SMP dan melanjutkan pendidikan disana. Dengan bermodalkan uang 1 juta rupiah keluarganya merantau ke Jambi dengan harapan merubah nasib.

Tapi apa hendak dikata, untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, ayah handa meninggalkan mereka dengan kondisi yang serba kekurangan. Kenang putra sulung dari tujuh bersaudara ini dengan mata berbinar.

“Tetap semangat menggapai cita-cita ditengah gempuran ujian hidup”, ucap Ibnu Tasnim dengan semangat kepada Humas, Kamis (6/3/2025). Tekad melanjutkan pendidikan kembali, genap satu tahun mengadu nasib di Jambi akhirnya mereka pulang kampung ke Sibolga kembali melanjutkan jenjang Madrasah Aliyah Negeri Sibolga. Ibnu Tasnim yang akrab dengan sapaan Ustadz dikesehariannya ini memiliki kebiasaan suka membaca Al-Quran hingga menjadi qori diusia muda.

Satu hal yang sangat membuatnya sedih bila mengingatnya, saat duduk dibangku MAN, salah satu gurunya menunjuk siswa yang dapat melanjutkan Pendidikan keperguruan tinggi, sedangkan dirinya tidak ditunjuk karena miskin dan anak yatim. Tetapi dia bertekad ini menjadi motivasi kuat didirinya untuk berhasil dengan ikhtiar dan kekuatan do’a dari ibunya.

Baca Juga: Penyuluhan Katolik Merangkul Tuna Laras Membangun Hubungan Dengan Tuhan Dan Sesama Manusia

Jalan kesuksesan terbuka ditahun 1990 Ibnu Tasnim mengikuti MTQ Kota Sibolga untuk tingkat remaja dan berhasil juara satu dengan memperoleh hadiah satu set Televisi yang akhirnya dijual dengan harga 150 ribu rupiah dan bermodalkan uang itu beliau nekat berangkat kemedan untuk kuliah di IAIN. Sesampai dimedan, muncul pertanyaan, mau tinggal dimana? Rumah siapa yang dituju? Dan apa yang dilakukan? Semuanya tidak jelas karena sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di kota Medan ucap suami Tetty Murliana lubis,S.Pd dengan senyum kecilnya.

Ditengah kebingungnnya sesampai di Kota Medan, dia singgah disebuah Mesjid tepat saat akan sholat subuh, mengambil wuduk dan mengumandangkan azan yang menjadikan awal cerita kehidupan baru. Kumandang azan yang merdu membuat warga terpana, alhasil ada salah seorang warga mengajaknya untuk singgah kerumahnya dan memberikan pekerjaan sampingan sebagai guru mengaji anak-anak pegawai Hotel Natour Parapat Danau Toba.

Baca Juga: Rakor Pelaksanaan Pembelajaran di Bulan Ramadhan 1446 H Bersama Kepala MAN Labuhanbatu

Dengan hobby membaca Al-Qur’an dan kemampuan mengumandangkan suara azan yang merdu, Ibnu Tasnim memperoleh pendapatan untuk biaya kuliah dan biaya makan. Hingga di Medan beliau memperoleh ayah angkat dan saudara angkat yang selalu mendukungnya dan siap mendengarkan keluh kesahnya sebagai perantau.

Bukan hannya sekedar mengajar megaji, demi tekad dan cita-cita yang sudah tertanam dihatinya, Ibnu Tasnim mengerjakan semua kerjaan asalkan halal, mulai dari menarik becak dayung, mengantarkan kue lemang daun kekampus-kampus dengan mengendarai sepeda sembari berangkat kuliah.Baca Juga: KUA Padangsidimpuan Utara, Gelar Tadarus, Live Kultum dan Tanya Jawab Sepanjang Ramadan

Tak cukup disitu beliau juga menjual asam dipasar sambo dan ikan dipasar Cemara pada pukul 3 dini hari, kenangnya bangga akan dirinya yang gigih saat mudanya. bahkan dia pernah menjual ikan asin yang dibawanya dari Sibolga dari gang ke gang di Medan serta pernah menjadi kernet angkutan umun rute Belawan.

“Pernah sepeda saya disembunyikan dikamar mandi ulah usil teman kuliah”, karena saya bersepeda ke kampus, jadi ada teman-trman yang usilnya keterlauan hingga sempat memancing emosi. Karena sepeda yang menjadi tunggangan satu-satunya raib dari parkiran. Lelah mencari kesana kemari alhasil ketemu dikmar mandi kampus. Ini mejadi pengalaman yang membuat emosi sekaligus lucu ungkap ustadz yang selalu baik dan ramah dalam kesehariannya.

Baca Juga: Awali Pembelajaran Keagamaan, MIN 2 Sibolga Gelar Tadarus Bersama

Keberhasilan semakin nyata saat tahun 1999 dinyatakan lulus menjadi PNS dan ditugaskan di MTsN Sibolga yang pada saat itu dipimpin oleh Drs.Nasyaruddin Batu Bara. Merasa mapan Ibnu Tasnim memberarikan diri menikah dengan murid mengajinya pada tahun 2. Dan harus mejalani perjalanan bolak balek sibolga medan setiap seminggu sekali dikarenakan, istrinya sedang kuliah di UNIMED yang pada waktu itu masih bernama IKIP Medan. Hingga akhirnya istrinya lulus kuliah dan diajak menetap disibolga serta istrinyapun lulus PNS pada tahun 2 lalu.

Ibnu Tasnim dalam kesehariannya dalam mentransfer ilmu tidak megalami kendala apapun tetapi di era sekarang ini, siswa semakin sulit menerima ilmu dikarenakan adanya pergeseran nilai dan penurunan etika serta rendahnya ekonomi masyarakat sehingga berpengaruh terhadap kualitas belajar peserta didik. Apalagi beliau adalah guru bidang studi Bahasa Inggris membutuhkan pemahaman serius dari siswa.

Baca Juga: KUA Padangsidimpuan Utara, Gelar Tadarus, Live Kultum dan Tanya Jawab Sepanjang Ramadan

“Terkadang bingung melihat tingkah anak sekarang yang tidak serius dalam belajar”, ucap Ibnu Tasnim dengan lesu. Walaupun menggunakan metode ajar berganti-ganti untuk tujuan mempermudah siswa untuk memahami materi. Namun demikian profesi menjadi guru adalah pekerjaan yang menyenangkan karena bisa langsung berinteraksi degan anak-anak.

Diakhir perbincangan ustadz yang sekarang ini telah mencapai karir ASN di MTsN Sibolga dengan golongan IV.b yang Inshaallah sedang mengurus kenaikan golongan ke IV.c yang menjadi kado terakhir menjelang masa pensiunnya 4 tahun mendatang.

Pesan beliau untuk generasi muda, belajarlah dengan giat dan pergunakan waktu dengan sebaik-baiknya, untuk meraih cita-cita tetaplah bekerja dan berdo’a dan jangan gengsi, malu ataupun malas, berharaplah hannya kepada Allah, niscaya kau tidak akan kecewa, yang terakhir tetaplah jalin hubungan Habblumminnallah dan Habblumminannas dengan baik dan yang terakhir milikilah keterampilan atau skill walaupun sekecil apapun. (RPA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *