Musrenbang dan Mimpi yang Dirapikan: Antara Aspirasi Rakyat dan Agenda yang Sudah Dijadwalkan”

Politik32 Dilihat

Di ballroom Four Points by Sheraton Medan, Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Kota Medan Tahun 2027 digelar dengan penuh keseriusan—dan tentu saja, harapan yang tersusun rapi seperti slide presentasi.

Ketua DPRD Kota Medan, Wong Chun Sen, dalam sambutannya menegaskan bahwa forum ini harus menghasilkan dokumen yang berkualitas, realistis, dan benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat. Sebuah kalimat yang terdengar begitu ideal, sampai-sampai hampir semua orang di ruangan itu pasti setuju—setidaknya dalam hati. Selasa 31 Maret 2026.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini dibuka oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, didampingi Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap. Hadir pula Wakil Ketua DPRD Kota Medan, Rajudin Sagala, Zulkarnaen, dan Hadi Suhendra, bersama jajaran Forkopimda, OPD, camat, hingga tokoh masyarakat. Sebuah komposisi lengkap—seperti tim besar yang siap merencanakan masa depan, minimal sampai jam coffee break.

Dalam nuansa Horatian, semuanya terasa menyenangkan: diskusi tematik, sambutan berlapis, dan kata-kata seperti “inklusif”, “inovatif”, dan “responsif” yang mengalir dengan lancar. Kota Medan pun terasa seperti proyek bersama yang tinggal dirapikan di atas kertas.

Wong Chun Sen menegaskan komitmen DPRD untuk mengawal proses dari perencanaan hingga evaluasi. Sebuah janji yang terdengar seperti perjalanan panjang—dan memang demikian—karena pembangunan kota bukan sprint, melainkan maraton… yang kadang berhenti di beberapa titik untuk rapat koordinasi.

Yang menarik, Musrenbang ini disebut sebagai wadah untuk menampung aspirasi masyarakat. Sebuah konsep yang sangat mulia: suara rakyat naik ke forum, dibahas, lalu dirumuskan menjadi kebijakan. Meski dalam praktiknya, aspirasi sering kali harus antre rapi, menunggu giliran untuk dianggap “prioritas.”

Integrasi antara usulan masyarakat dan pokok pikiran (Pokir) dewan juga menjadi sorotan. Sebuah proses yang terdengar harmonis—seperti dua aliran yang bertemu di satu sungai. Hanya saja, kadang arusnya tidak selalu seimbang.

Di balik semua itu, ada satu hal yang diam-diam kita pahami bersama: Musrenbang adalah seni menyelaraskan harapan dengan kemungkinan. Antara yang diinginkan, yang dibutuhkan, dan yang bisa dilakukan—ketiganya tidak selalu duduk di meja yang sama.

Namun tentu saja, tidak ada yang salah dengan berharap. Bahkan, mungkin inilah inti dari forum ini: merancang masa depan dengan optimisme, sambil tetap menjaga wajah serius agar terlihat realistis.

Pada akhirnya, dokumen RKPD yang dihasilkan nanti diharapkan benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat. Dan jika itu terwujud, maka Musrenbang ini bukan hanya sukses sebagai acara—tetapi juga sebagai jembatan antara kata-kata di ruangan ber-AC dan kenyataan di jalanan Kota Medan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *