Matabangsa.com – Medan: Di sebuah siang hangat dan beawan, tepatnya Kamis 09 April 2026, para wartawan yang sehari-hari berkumpul di DPRD Medan dan berjibaku dengan bahan berita, rapat-rapat komisi serta realita poilitik, berkumpul di Cafe & Resto Kopi Kereta Api. Bukan untuk mengusut skandal, bukan pula memburu narasumber yang menghilang saat dikonfirmasi—melainkan untuk satu agenda sakral: Halal Bihalal 1447 Hijriah.
Acara berlangsung penuh kehangatan. Senyum berseliweran, tawa pecah dan canda tawa, dan tentu saja, kalimat klasik yang selalu hadir setiap Lebaran: “kalau ada salah kata, mohon dimaafkan.” Sebuah tradisi yang luar biasa—meski ironisnya, sebagian besar “salah kata” itu biasanya kembali terulang setelah deadline berikutnya.
Ketua Koordinator Wartawan DPRD Medan, Said Ilham Assegaf SH M.Ikom, tampil sebagai nahkoda yang memastikan kapal kebersamaan ini tetap berlayar. Ia menyebut kegiatan ini sebagai agenda rutin tahunan. Sebuah rutinitas yang patut diapresiasi—karena di tengah dunia jurnalistik yang serba cepat, konsistensi seringkali kalah oleh breaking news dan kopi dingin yang terlupakan.
Namun, di balik kata “silaturahmi”, ada pertanyaan kecil yang menggoda: apakah kebersamaan ini hanya hidup saat makan bersama dan foto grup, atau juga ketika menghadapi isu-isu serius seperti independensi, profesionalisme, dan kualitas pemberitaan? Karena, jujur saja, kekompakan tanpa arah itu seperti berita tanpa verifikasi—ramai, tapi rawan. Said dengan kelakar mengingatkan kekompakan ini tetap terjaga meski dalam waktu dekat ada pemilihan Ketua Koordinator Pemko Medan.
Penasehat, Suwarno, dengan penuh semangat memuji soliditas di bawah kepemimpinan Said. Ia melihat adanya kekuatan kebersamaan yang terjaga. Tentu, ini kabar baik. Tapi publik mungkin juga berharap soliditas itu tidak hanya terlihat saat halal bihalal, melainkan juga saat wartawan harus berdiri tegak di antara tekanan kepentingan—yang seringkali datang lebih cepat daripada undangan konferensi pers.

Sebagai Ketua DPD Macan Asia Indonesia Kota Medan, Suwarno juga menekankan pentingnya sinergi. Kata “sinergi” ini memang indah—sering diucapkan, jarang dijelaskan, dan kadang-kadang lebih sering dipakai untuk memperhalus kompromi daripada memperkuat integritas.
Sementara itu, penasehat lainnya, Pagihutan Sirumapea, menyebut kegiatan ini sebagai bukti komitmen menjaga solidaritas. Raker, halal bihalal, dan agenda rutin lainnya disebut sebagai indikator keberhasilan organisasi. Sebuah standar yang menarik—karena di dunia luar, keberhasilan wartawan biasanya diukur dari kualitas liputan, bukan frekuensi makan bersama.
Kehadiran Sekretaris Irwan Sahat Manalu, Bendahara Amsari, serta puluhan anggota lainnya semakin menambah semarak acara. Lengkap sudah struktur organisasi, lengkap pula suasana kekeluargaan. Tinggal satu yang kadang masih perlu dilengkapi: arah strategis untuk menjadikan wadah ini lebih dari sekadar komunitas—melainkan institusi yang punya daya tawar dan marwah.
Acara ditutup dengan makan bersama dan bernyanyi. Sebuah penutup yang manis, seperti gula di kopi—nikmat, tapi tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang lebih pahit di lapangan jurnalistik.
Barangkali, ke depan, halal bihalal ini bisa naik kelas. Tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan, tetapi juga momen refleksi: sudah sejauh mana wartawan DPRD Medan semakin kompak dan lebih sejahtera. Karena pada akhirnya, wartawan yang kompak itu baik. Tapi wartawan yang kompak dan berani—itu baru berita utama.(***)






