Ribuan Kafilah Dilepas, Warga Ikut Larut: Antara Syiar, Selfie, dan Seremoni di MTQ ke-59 Medan

Medan10 Dilihat

Jalan Gatot Subroto, Medan Sunggal, mendadak berubah fungsi dari jalur lalu lintas menjadi panggung megah penuh warna, Sabtu pagi. Ribuan kafilah dari 21 kecamatan turun ke jalan dalam Pawai Ta’aruf MTQ ke-59 Kota Medan—sebuah pembukaan yang, seperti biasa, sukses besar dalam hal meriah dan padat.

Di tengah iring-iringan itu, nuansa religius berpadu dengan parade budaya yang nyaris seperti karnaval. Busana islami bertemu ornamen adat, marching band berdampingan dengan miniatur ikon daerah, sementara lantunan shalawat bersaing halus dengan suara kamera ponsel yang tak pernah benar-benar hening.

Keberagaman pun tampil total. Dari Melayu hingga Batak, Minang sampai Karo, Jawa, Mandailing, bahkan etnis Tionghoa, India, dan Arab ikut ambil bagian. Sebuah potret harmonisasi Kota Medan yang, setidaknya di hari itu, terlihat sangat kompak—minimal kompak dalam barisan.

Di atas panggung kehormatan, Rico Tri Putra Bayu Waas bersama istri, Airin Rico Waas, melambaikan tangan dengan penuh semangat kepada setiap kafilah yang lewat. Sebuah gestur klasik yang selalu berhasil menyampaikan pesan: “Kami melihat, kami mengapresiasi, dan tentu saja, kami siap difoto.”

Turut hadir pula jajaran pejabat, mulai dari Sekda hingga unsur Forkopimda. Lengkap sudah formasi—sebuah komposisi yang mengingatkan bahwa acara besar memang tidak hanya butuh peserta, tapi juga barisan kursi VIP yang solid.

Kafilah Kecamatan Medan Selayang tampil pertama sebagai juara umum tahun lalu, membawa trofi dengan penuh percaya diri. Disusul kecamatan lain yang tak kalah kreatif, semuanya berlomba menampilkan yang terbaik—karena di pawai seperti ini, estetika sama pentingnya dengan semangat.

Dalam sambutannya, Rico Waas menegaskan bahwa Pawai Ta’aruf bukan sekadar seremoni, melainkan simbol persatuan dan syiar Islam. Pernyataan yang tentu benar, meskipun di lapangan, simbol itu sering hadir berdampingan dengan realitas: warga yang lebih sibuk mencari spot foto terbaik.

“Alhamdulillah berjalan lancar,” ujar Rico. Kalimat yang hampir selalu jadi penutup sempurna setiap acara besar—karena selama tidak ada yang macet total (atau setidaknya tidak terlalu viral), semuanya bisa dikategorikan sukses.

Sepanjang jalan, masyarakat tumpah ruah. Mereka berdiri sembari memberi semangat, sekaligus mengabadikan momen. Karena di era sekarang, menyaksikan saja tidak cukup—harus ada bukti digital bahwa kita pernah “hadir di sana.”

Setiap kecamatan menampilkan kreativitas maksimal: kendaraan hias, pertunjukan seni, hingga konsep tematik islami. Sebuah usaha serius untuk memastikan bahwa syiar tetap berjalan—dengan tambahan sentuhan visual yang tentunya lebih “menarik perhatian.”

MTQ ke-59 ini sendiri akan berlangsung hingga 18 April 2026, mengusung tema yang cukup dalam: membangun ketaatan yang hakiki. Sebuah tujuan mulia, yang semoga tidak berhenti di panggung utama, tapi juga sampai ke kehidupan sehari-hari—di luar jadwal lomba dan seremoni.

Usai pawai, peresmian stan pameran dilakukan dengan pengguntingan pita—ritual wajib yang menandakan bahwa acara resmi benar-benar sudah “dibuka secara resmi.” Sebuah momen sakral versi birokrasi.

Pada akhirnya, Pawai Ta’aruf MTQ ke-59 Kota Medan kembali menegaskan satu hal: kota ini tahu cara membuat acara besar yang meriah, penuh warna, dan sarat makna. Tinggal satu pertanyaan kecil yang sering tertinggal—setelah panggung dibongkar dan jalan kembali normal, apakah semangatnya ikut terus berjalan, atau cukup sampai di galeri foto saja?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *