Dewan Hakim Dilantik, Keadilan Ditekankan: Harapan Lama di Panggung Baru MTQ ke-59 Medan

Medan13 Dilihat

Pelantikan Dewan Pengawas dan Dewan Hakim MTQ ke-59 Kota Medan kembali digelar dengan penuh khidmat—sebuah ritual yang setiap tahun selalu membawa pesan besar: profesionalisme dan keadilan. Pesan yang terdengar mulia, meski publik kadang sudah hafal polanya—diucapkan lantang di awal, diuji pelan-pelan di belakang layar. Di Gedung Serbaguna PKK, seremoni berjalan rapi, seakan menegaskan bahwa sistem sudah siap, tinggal realitas yang nanti menyusul menyesuaikan.

Di balik itu, ada satu ide yang terus diproduksi: bahwa pelantikan adalah titik nol dari integritas. Seolah-olah dengan mengenakan toga dan mengucap sumpah, manusia langsung kebal dari subjektivitas. Pola pikir ini menarik—karena menempatkan simbol di atas sistem, dan seremoni di atas mekanisme pengawasan yang sebenarnya jauh lebih menentukan.

Acara dipimpin langsung oleh Rico Tri Putra Bayu Waas, didampingi Wakil Wali Kota dan Sekda, lengkap dengan jajaran pejabat yang membuat barisan kursi tampak lebih padat daripada daftar nilai yang nanti akan diperdebatkan. Semua hadir, semua menyaksikan, semua sepakat bahwa keadilan itu penting—meskipun sejarah kecil-kecilan sering menunjukkan bahwa “penting” tidak selalu berarti “terjadi”.

Namun menariknya, kita masih percaya bahwa masalah utama ada pada individu, bukan sistem. Bahwa selama hakim diingatkan untuk tidak dekat secara sosial dengan peserta, maka objektivitas otomatis terjaga. Sebuah logika yang sederhana—dan mungkin terlalu sederhana untuk dunia yang kenyataannya jauh lebih kompleks dari sekadar “jangan kenal peserta”.

Dalam sambutannya, Rico Waas menekankan bahwa peran dewan hakim sangat krusial, menyangkut masa depan generasi Qurani. Pernyataan yang benar, tapi juga berat—karena di titik itu, setiap nilai bukan lagi sekadar angka, melainkan potensi arah hidup seseorang. Dan ironisnya, keputusan sebesar itu sering kali tetap bergantung pada manusia yang, bagaimanapun, tidak pernah sepenuhnya bebas dari bias.

Ia juga mengingatkan agar penilaian didasarkan pada “kedekatan kepada Allah,” bukan kedekatan sosial. Sebuah standar yang sangat tinggi—bahkan mungkin terlalu ideal untuk diukur dalam ruang lomba yang penuh tekanan, waktu terbatas, dan faktor teknis yang kadang lebih dominan daripada niat.

Berbicara soal teknis, perhatian pada sound system juga disorot. Hal yang terdengar sepele, tapi justru sering jadi penentu besar. Karena di banyak kasus, bacaan yang merdu bisa kalah oleh speaker yang sember, dan penilaian yang objektif bisa goyah hanya karena suara yang tidak sampai utuh.

Menariknya lagi, tema MTQ kali ini diambil dari Surah An-Nisa ayat 59, diselaraskan dengan angka penyelenggaraan ke-59. Sebuah pendekatan yang kreatif—atau setidaknya terlihat kreatif—karena mampu menggabungkan simbol angka dengan pesan spiritual, walau publik mungkin tetap bertanya: apakah maknanya benar-benar akan hidup, atau sekadar cocok di spanduk?

Pada akhirnya, pelantikan ini kembali mengingatkan kita pada satu hal klasik: bahwa sistem selalu dimulai dengan niat baik. Namun di antara niat dan hasil, ada ruang panjang bernama praktik—tempat di mana profesionalisme dan keadilan benar-benar diuji, bukan oleh pidato, tapi oleh keputusan-keputusan kecil yang sering luput dari sorotan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *