Di sebuah ruangan bernama Gedung PKK Medan, waktu tampak berjalan, tapi makna seperti lupa ke mana harus pergi. Halalbihalal HIMPAK digelar dengan hangat, penuh senyum, dan kalimat-kalimat yang terdengar sangat benar—hingga akhirnya terasa seperti gema yang memantul tanpa tujuan.
Kebersamaan dirayakan, keberagaman ditegaskan, dan semua orang sepakat… tanpa benar-benar tahu apa yang sedang disepakati selain bahwa semuanya “harus baik-baik saja.”
Di tengah pusaran itu, Rico Tri Putra Bayu Waas berdiri, mengapresiasi masyarakat Pakpak yang disebut memiliki kontribusi besar lintas daerah. Dari Pakpak Barat ke Dairi, hingga Aceh Singkil—sebuah jaringan sosial yang terdengar seperti peta yang bergerak sendiri, menyambung tanpa ujung, seperti percakapan yang terus berlanjut tanpa pernah benar-benar dimulai.
Ucapan “mohon maaf lahir dan batin” pun meluncur, seperti tradisi tahunan yang selalu tepat waktu, selalu tepat kata, dan selalu terasa seperti déjà vu kolektif. Semua saling memaafkan, bahkan sebelum sempat saling menyalahkan. Sebuah siklus yang sempurna—atau mungkin terlalu sempurna untuk benar-benar nyata.
Lalu halalbihalal disebut bukan sekadar temu kangen, melainkan ruang pelestarian budaya. Sebuah ruang yang secara ajaib mampu menampung segalanya: rindu, tradisi, identitas, hingga harapan pembangunan. Seolah satu acara bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bahkan belum sempat diajukan.
Budaya Pakpak pun didorong untuk lebih sering tampil di ruang publik. Sebuah ajakan yang terdengar logis, namun dalam praktiknya sering berubah menjadi pertanyaan sederhana: ruang publik yang mana? Dan apakah ruang itu benar-benar siap, atau hanya sekadar disebut-sebut agar terdengar tersedia?
“Medan untuk Semua dan Semua untuk Medan” kembali ditegaskan—sebuah kalimat yang, jika dipikir terlalu lama, mulai kehilangan arah. Semua untuk semua, lalu siapa untuk siapa? Dan di titik mana “semua” itu berhenti menjadi kata, dan mulai menjadi tindakan?
Acara pun berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Semua tersenyum, semua terlihat akrab, semua tampak harmonis. Tidak ada yang salah, tidak ada yang bertanya, dan mungkin memang tidak ada yang perlu dipertanyakan—karena dalam dunia seperti ini, pertanyaan seringkali justru menjadi hal yang paling tidak diundang.
Akhirnya, halalbihalal ini menjadi seperti cermin yang aneh: memantulkan kebersamaan yang indah, tapi tidak pernah benar-benar menunjukkan apa yang ada di belakangnya. Dan mungkin di situlah letak keabsurdannya—ketika semua terasa penuh makna, justru karena tidak ada yang benar-benar dimaknai.(***)






