Rapat, Kopi, dan UMKM: Ketika Sinergi Jadi Menu Utama di Langsa
LANGSA – Kunjungan kerja pejabat biasanya identik dengan dua hal: agenda padat dan kopi yang tidak pernah benar-benar dingin. Kali ini, Kepala Kantor Wilayah DJBC Aceh datang ke Bea Cukai Langsa dengan misi mulia—memperkuat sinergi. Sebuah kata yang sering diucapkan, kadang dipahami, dan hampir selalu masuk notulen.
Acara pun dimulai dengan khidmat, dihadiri para pimpinan dari berbagai satuan kerja. Dari KPPBC TMP C Langsa, KPP Pratama Langsa, hingga KPPN Langsa, semuanya hadir. Lengkap. Tinggal menunggu satu hal: siapa yang pertama menyebut kata “kolaborasi strategis” sebagai pembuka diskusi.
Tidak butuh waktu lama. Kata itu meluncur mulus, diikuti istilah lain seperti “penguatan koordinasi,” “integrasi program,” dan tentu saja “pengembangan UMKM.” Para peserta tampak mengangguk-angguk, seolah kata-kata itu adalah playlist wajib dalam setiap rapat lintas instansi.
Namun, di balik deretan istilah resmi tersebut, ada semangat yang sebenarnya cukup sederhana: bagaimana UMKM bisa naik kelas. Bukan hanya naik dari meja dapur ke etalase, tapi juga dari sekadar bertahan menjadi berkembang.
Diskusi pun berlangsung hangat. Ide-ide bermunculan—dari pelatihan, pendampingan, hingga strategi pemasaran.
Semua terdengar menjanjikan. Bahkan mungkin terlalu menjanjikan, sampai-sampai kopi di meja mulai merasa tersaingi oleh semangat yang menggelegak.
Beberapa peserta tampak serius mencatat, sementara yang lain terlihat seperti sedang merenungkan masa depan ekonomi daerah—atau mungkin hanya mencari angle terbaik untuk foto dokumentasi. Karena bagaimanapun, sinergi juga perlu bukti visual.
Yang menarik, UMKM kembali jadi bintang utama. Mereka disebut sebagai “pilar ekonomi nasional,” sebuah gelar yang cukup berat untuk usaha yang kadang masih berjuang antara stok bahan baku dan biaya listrik. Tapi begitulah, UMKM selalu punya tempat istimewa dalam setiap pidato.
Di sisi lain, pertemuan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarinstansi. Karena selain membahas strategi, penting juga memastikan semua masih saling kenal dan ingat nama—minimal saat saling tag di media sosial nanti.
Kunjungan kerja ini pun ditutup dengan optimisme. Harapannya, sinergi yang dibangun tidak hanya berhenti di ruang rapat, tapi benar-benar turun ke lapangan.
Karena UMKM tidak hidup dari kata-kata, melainkan dari tindakan nyata—dan sedikit bantuan yang tepat sasaran.
Akhirnya, semua kembali ke rutinitas masing-masing. Dokumen disusun, foto dipilih, dan laporan mulai dirangkai. Sementara itu, UMKM tetap berjalan seperti biasa—menunggu kapan “sinergi” benar-benar datang, bukan sekadar disebut.(***)






