Jam Pimpinan, Integritas, dan Sedikit Angin Laut di Langsa

Aceh, Ekonomi21 Dilihat

LANGSA – Ada satu momen sakral di dunia birokrasi yang tak kalah penting dari jam makan siang: jam pimpinan. Di momen inilah kata “integritas” diucapkan dengan penuh khidmat, seolah ia bukan sekadar nilai, tapi juga mantra yang harus dihafal di luar kepala.

Kali ini, Kepala Kantor Wilayah DJBC Aceh, M. Rizki Baidillah, hadir langsung di Bea Cukai Langsa untuk memastikan bahwa integritas tidak hanya jadi pajangan di spanduk, tapi juga sesekali dibicarakan secara serius—minimal selama durasi acara berlangsung.

Para pegawai pun berkumpul dengan rapi. Wajah-wajah penuh perhatian siap menyimak arahan. Entah karena materinya memang penting, atau karena posisi duduk sudah diatur sedemikian rupa sehingga sulit untuk terlihat tidak fokus.

Dalam arahannya, sang pimpinan menekankan pentingnya profesionalisme, akuntabilitas, dan tentu saja integritas. Tiga kata yang sering muncul bersamaan, seperti paket hemat yang tidak bisa dipisahkan. Pesannya jelas: jadi ASN itu bukan sekadar hadir, tapi juga harus dipercaya—dan kalau bisa, tidak bikin berita negatif.

Pegawai pun diharapkan menjaga komitmen, disiplin, transparan, dan bertanggung jawab. Sebuah daftar yang terdengar ideal, meski dalam praktiknya kadang harus bersaing dengan godaan klasik: rasa lelah, rutinitas, dan kopi yang terlalu enak untuk ditinggalkan.

Namun, jam pimpinan tidak berhenti di ruang rapat. Agenda berlanjut ke dermaga, tempat kapal patroli Bea Cukai bersandar dengan gagah. Di sinilah integritas bertemu angin laut—sebuah kombinasi yang jarang dibahas, tapi cukup menyegarkan.

Kunjungan ke kapal patroli ini menjadi simbol bahwa pengawasan tidak hanya dilakukan dari balik meja. Ada laut luas yang harus dijaga, dan tentu saja, kapal yang harus siap—baik secara teknis maupun secara moral, kalau istilah itu boleh dipinjam sebentar.

Beberapa pegawai tampak antusias melihat langsung sarana patroli. Mungkin sambil membayangkan bagaimana rasanya bekerja di tengah laut, atau sekadar menikmati pemandangan yang lebih segar dibanding layar komputer.

Di balik semua itu, pesan yang ingin disampaikan tetap sama: integritas harus hidup, tidak hanya di ruangan ber-AC, tapi juga di lapangan—bahkan di atas gelombang sekalipun.

Akhirnya, kegiatan pun selesai. Integritas sudah diperkuat, kapal sudah dikunjungi, dan foto dokumentasi sudah diamankan. Tinggal satu hal yang tersisa: memastikan semua yang dibahas tadi tidak ikut bersandar, tapi benar-benar berlayar dalam pekerjaan sehari-hari.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *