SMSI Sergai Siapkan Muskab, Kursi, dan Takdir Mulia Bernama “Ketua”

Sumut5 Dilihat

Sergai — Setelah melewati satu periode penuh dinamika, diskusi, dan mungkin beberapa grup WhatsApp yang terlalu aktif di malam hari, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Serdang Bedagai akhirnya bersiap menggelar Musyawarah Kabupaten (Muskab) ke-1. Sebuah forum sakral, tempat takdir organisasi ditentukan—dan kursi ketua diperebutkan dengan penuh rasa persaudaraan yang kompetitif.

Kepengurusan sebelumnya telah resmi berakhir. Sebuah akhir yang, seperti biasa, bukan benar-benar akhir, melainkan jeda sebelum dimulainya babak baru: babak pencalonan, pendekatan, dan tentu saja, saling “silaturahmi intensif” menjelang pemilihan.

Pelaksana Tugas Ketua, Waliyono, dengan penuh tanggung jawab menyampaikan persiapan telah dimulai. Panitia pun sudah terbentuk—lengkap dengan ketua Mukhlis Siregar, sekretaris Anwar Siregar, bendahara Budiono, dan didukung sejumlah anggota lainnya.

Rapat pembentukan panitia digelar di Kantor Sekretariat SMSI Sergai, Dusun VIII Desa Firdaus, Kecamatan Sei Rampah, Jumat (17/4/2026).

Sebuah struktur rapi,  membuktikan sebelum memilih pemimpin organisasi, yang terpenting adalah memastikan ada cukup orang untuk mengurus konsumsi dan spanduk.

Muskab dijadwalkan berlangsung 21 Mei 2026 di Desa Firdaus. Sebuah lokasi tampaknya dipilih dengan penuh pertimbangan: cukup strategis berkumpul, dan cukup jauh untuk memastikan suasana tetap fokus—atau setidaknya sinyal tidak terlalu kuat untuk mengganggu konsentrasi politik kecil-kecilan.

Dari pengurus tingkat provinsi, pesan serius pun turun. SMSI diingatkan sebagai organisasi pemilik perusahaan media online, bukan organisasi wartawan. Sebuah penegasan identitas penting, karena di lapangan, kadang batas antara “pemilik”, “pengelola”, dan “yang penting punya kartu” bisa menjadi diskusi filosofis tersendiri.

Penertiban KTA juga menjadi sorotan. Ini langkah bijak, mengingat banyak organisasi, kartu anggota sering kali memiliki dua fungsi utama: bukti keanggotaan dan akses ke grup yang lebih ramai.

Sementara itu, Ketua sebelumnya, Zuhari, memberikan pesan penuh kebijaksanaan: jangan hanya berambisi menjadi ketua, tapi abaikan AD/ART. Sebuah nasihat klasik biasanya disambut dengan anggukan serius—sebelum perlahan dilupakan saat proses pemilihan mulai menghangat.

Beliau mengingatkan organisasi ini dibangun dengan susah payah. Kalimat ini memiliki makna mendalam: bahwa segala sesuatu yang susah dibangun, idealnya juga tidak mudah diperebutkan, meskipun kenyataannya sering justru sebaliknya.

Dengan perkembangan pesat SMSI secara nasional, kepengurusan daerah diharapkan menjaga marwah dan profesionalisme. Sebuah harapan indah, yang akan diuji dalam forum sama di mana mikrofon kadang lebih banyak dipakai untuk uji suara para anggota bukan untuk klarifikasi, apalagi visi.

Rapat persiapan pun dihadiri sejumlah pengurus, termasuk tokoh-tokoh penting organisasi. Semua tampak solid, kompak, dan siap menyukseskan Muskab.

Karena pada akhirnya, dalam setiap musyawarah organisasi, ada satu hal yang selalu pasti: siapa pun terpilih nanti, akan memulai pidatonya dengan kalimat, “Ini bukan kemenangan saya, tapi kemenangan kita bersama.”

Dan yang tidak terpilih, akan dengan bijak berkata, “Yang penting organisasi tetap solid.” Setidaknya, sampai Muskab berikutnya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *