Namun sayangnya bagi NS (38), warga Jalan Pelita V, Kecamatan Medan Timur, pelanggan kali ini bukan ibu-ibu pemburu diskon, melainkan jajaran Satresnarkoba Polrestabes Medan yang datang tanpa perlu menawar harga—langsung bayar lunas dengan sepasang borgol.
Rabu (22/4) sore itu, suasana di Jalan Selamat, Kelurahan Durian, sebenarnya tampak biasa saja. Pedagang sibuk melayani pembeli, tukang parkir sibuk meniup peluit seolah mengatur lalu lintas negara, dan NS sibuk menjalankan bisnis haramnya dengan harapan bisa tetap terlihat seperti warga biasa yang hanya sedang mencari tomat.
Sayangnya, dunia kriminal sering lupa bahwa warga sekarang bukan cuma rajin belanja, tapi juga rajin memperhatikan. Informasi dari masyarakat yang mulai curiga akhirnya sampai ke telinga aparat. Rupanya, program Kentongan Kamtibmas bukan cuma membangunkan orang sahur, tapi juga membangunkan kesadaran melawan narkoba.
Kasatresnarkoba Polrestabes Medan, Kompol Rafli Yusuf Nugraha, menjelaskan bahwa laporan warga langsung ditindaklanjuti. Tim bergerak cepat, karena dalam urusan narkoba, menunggu terlalu lama sama saja memberi pelaku waktu untuk ganti lokasi dan ganti alasan.
“Begitu laporan masuk, tim segera bergerak. Ini juga berkat hidupnya kembali sistem siskamling melalui program Kentongan Kamtibmas. Sinergi ini membuat pelaku tak berkutik,” ujarnya, Jumat (24/4).
NS tampaknya cukup percaya diri dengan strateginya: berbaur di tengah pasar, menyamar di antara pembeli dan pedagang, berharap transaksi sabu terlihat seperti transaksi ikan asin. Ia mungkin berpikir, selama orang sibuk menawar ayam potong, tak ada yang memperhatikan bisnis kecilnya.
Namun Kanit Narkoba dan tim rupanya bukan pelanggan baru dalam urusan seperti ini. Gerak-gerik yang terlalu santai justru sering jadi petunjuk. Pengintaian dilakukan dengan sabar, hingga akhirnya momen penangkapan datang—tanpa drama kejar-kejaran sinetron, tanpa adegan loncat pagar, hanya satu akhir yang pasti: masuk mobil polisi.
Dari tangan pelaku, petugas mengamankan paket sabu siap edar dan sejumlah uang tunai hasil transaksi. Keuntungan yang diraup pun terbilang “lumayan” menurut pelaku: sekitar Rp100 ribu per gram. Sebuah angka yang mungkin terasa besar, sampai akhirnya harus ditukar dengan tidur gratis tanpa AC di ruang tahanan.
Dalam pemeriksaan awal, NS juga mengaku bukan pemain tunggal. Ada pemasok utama yang kini sedang diburu polisi. Seperti biasa, dalam dunia narkoba selalu ada bos besar yang lebih suka bersembunyi sambil membiarkan anak buah tampil duluan di berita kriminal.
“Kami tidak berhenti sampai di sini. Pemasoknya sedang kami kejar. Perkembangannya akan segera kami sampaikan,” tegas Rafli.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pasar tradisional sebaiknya tetap menjadi tempat mencari cabai, bukan tempat mencari candu. Sebab kalau salah pilih dagangan, yang datang bukan pelanggan tetap—melainkan petugas dengan pertanyaan yang jauh lebih serius daripada, “Bang, ini bisa kurang?”(***)






