MEDAN — Di negeri +62 versi Sumatera Utara, inovasi kadang lahir bukan dari ide cemerlang, melainkan dari kemampuan merias masalah lama menjadi panggung baru. Tahun 2026 ini, panggung itu bernama “Gebyar Pajak Sumut”, sebuah pertunjukan megah yang diklaim mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), lengkap dengan hadiah mobil, emas, paket umroh, hingga alat elektronik—karena ternyata, taat bayar pajak sekarang rasanya harus seperti ikut kuis berhadiah.
Di balik gemerlap undian dan jargon peningkatan kesadaran pajak, muncul bisik-bisik dari lorong-lorong Bapenda Sumut yang lebih panas dari knalpot becak tua. Sumber internal menyebut, petunjuk teknis alias juknis kegiatan itu sampai sekarang masih dalam tahap “dicoret-coret”, sebuah istilah birokratis yang artinya: acara sudah dipromosikan, tapi aturan mainnya masih seperti naskah sinetron episode kejar tayang.
“Juknisnya belum siap, tapi gebyarnya sudah terasa,” ujar seorang sumber dengan nada pasrah, seolah sedang menjelaskan resep rendang tanpa santan. Katanya, SK gubernur yang menjadi dasar pelaksanaan pun masih dalam proses verifikasi. Namun anehnya, aroma hadiah sudah lebih dulu beredar, seolah undian bisa berjalan dengan prinsip: aturan belakangan, pencitraan duluan.
Yang lebih menarik, sumber dana kegiatan ini disebut-sebut seperti sulap panggung: ada, tapi tak jelas dari mana topinya. Dugaan paling nyaring datang dari insentif pegawai atau upah pungut Bapenda sendiri. Dari total sekitar Rp54 miliar lebih, yang cair baru sekitar Rp17 miliar. Tahun 2025, gebyar ini dikomandoi Sekretaris Badan.
Sisanya? Nah, di sinilah publik diajak bermain tebak-tebakan berhadiah—bedanya, hadiahnya belum tentu sampai.
Pegawai yang seharusnya menerima hak malah seperti penonton VIP yang diminta beli tiket sendiri. Upah pungut yang sejatinya menjadi penyemangat kinerja, justru terasa seperti janji kampanye: indah saat disampaikan, menghilang saat ditagih. ASN pun mulai resah. Mereka bekerja memungut pajak, tapi giliran menunggu hak sendiri, rasanya seperti antre bantuan sosial yang datanya masih diverifikasi.
“Ini seperti makan buah simalakama,” kata sumber. Jika Gebyar Pajak dipuji, pegawai merasa dizalimi. Jika dikritik, dianggap tidak mendukung inovasi. Maka pilihan paling aman adalah mengelus dada sambil melihat baliho hadiah mobil dan bertanya dalam hati: “Itu mobilnya siapa duluan yang tahu?”
Dugaan lain yang tak kalah menggigit adalah soal penerima hadiah yang konon sudah “dikondisikan”. Ini tentu menarik, sebab jika benar, maka konsep undian berubah menjadi sekadar formalitas. Bukan lagi keberuntungan, tapi seni administrasi tingkat tinggi. Dalam dunia seperti ini, keberuntungan bukan soal nasib, tapi soal siapa yang lebih dulu masuk daftar.
Kepala Bapenda Sumut, Sutan Tolang Lubis, mengakui juknis memang belum rampung. Namun ia menegaskan semuanya masih dalam mekanisme yang benar. Tentang insentif yang diduga dipakai untuk gebyar pajak, ia membantah. Tentang dari mana sebenarnya anggaran hadiah berasal, beliau memilih irit bicara—mungkin karena dalam birokrasi, diam juga termasuk strategi komunikasi publik.
Sementara itu, berdasarkan laman LPSE Sumut, perusahaan event organizer asal Jakarta, PT Swara Lentara, berhasil memenangkan tender kegiatan ini dengan nilai kontrak fantastis mencapai Rp27,81 miliar. Angka yang cukup untuk membuat rakyat kecil spontan mengecek kembali nominal saldo rekeningnya, lalu menutup aplikasi mobile banking dengan penuh kesadaran diri.
Program ini diklaim sebagai inovasi untuk masyarakat disiplin membayar PKB. Sebuah ide yang sebenarnya bagus: rakyat taat, negara memberi apresiasi. Hanya saja, jika apresiasi itu justru membuat pegawai internal gigit jari dan publik bertanya-tanya, maka gebyar ini bisa berubah dari pesta pajak menjadi festival kecurigaan.
Pada akhirnya, rakyat hanya ingin satu hal sederhana: pajak yang dibayar benar-benar kembali untuk kepentingan bersama, bukan untuk panggung penuh lampu yang menyilaukan logika. Karena jika pajak sudah seperti arisan, dan birokrasi seperti EO konser, maka mungkin yang perlu diundi berikutnya adalah: siapa sebenarnya yang paling beruntung di negeri ini.(***)






