Silaturahmi Ride Sutarto: Gowes, Keringat, dan Diplomasi Tanpa Jas Dinas

Olahraga, Politik, Sumut14 Dilihat

MEDAN — Kalau biasanya urusan silaturahmi identik dengan kopi panas, kursi empuk, dan obrolan serius penuh kode politik, kali ini Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, Sutarto memilih cara yang lebih sehat: mengayuh sepeda sambil berkeringat.

Minggu pagi (26/4/2026), halaman Kantor DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol mendadak berubah fungsi. Bukan tempat rapat anggaran atau adu argumen antarfraksi, melainkan titik start dan finish acara bertajuk Silaturahmi Ride bersama Komunitas Road Bike Independent Cycling Club (RBICC) Medan.

Sebagai pembina RBICC, Sutarto tampaknya paham betul bahwa kadang hubungan sosial lebih lancar dibangun lewat gowes daripada lewat grup WhatsApp yang isinya hanya stiker “siap komandan.” Sekitar 50 anggota ikut menempuh lintasan kurang lebih 25 kilometer, cukup untuk membakar kalori sekaligus membuang stres akibat berita politik yang tak pernah diet.

Menurut Sutarto, kegiatan ini bukan sekadar olahraga, tapi juga upaya memperkuat tali silaturahmi. Sebab dalam dunia modern, kadang orang lebih mudah akrab saat sama-sama ngos-ngosan daripada saat duduk formal sambil memegang notulen.

“Kita membangun kebersamaan dan kekeluargaan lewat hobi yang sama, yaitu sepeda,” begitu kira-kira pesannya. Sebuah kalimat sederhana yang bila diterjemahkan bebas berarti: kalau bisa akur sambil gowes, kenapa harus ribut sambil rapat?

Menariknya lagi, acara ini juga diikuti Komunitas Sepeda Brompton Medan (SBM), membuktikan bahwa di atas sadel, kasta kendaraan tidak terlalu penting. Mau sepeda lipat, road bike, atau yang penting masih bisa dikayuh dan bukan cuma pajangan garasi, semua tetap saudara seperjalanan.

Sutarto juga menyebut banyak dokter ikut dalam komunitas ini. Maka selain membahas rute dan tanjakan, diskusi pun bisa melebar ke pola hidup sehat. Lumayan, sambil olahraga bisa dapat konsultasi gratis tanpa harus ambil nomor antrean rumah sakit.

Ia mengaku bersepeda sudah menjadi kebiasaan lama. Selain menjaga kebugaran, gowes juga memberinya kesempatan melihat suasana kota, singgah di warung tradisional, dan tentu saja berbincang dengan masyarakat. Sebuah metode turun ke lapangan yang jauh lebih ramah lingkungan daripada iring-iringan mobil dinas.

Amatan di lapangan menunjukkan rombongan ini bukan gowes biasa. Ada mantan Sekda Provsu Arief Sudarto Trinugroho, mantan Kajati Sumut M. Yusni, mantan Wakil Wali Kota Medan Maulana Pohan, hingga pengusaha kopi Agam Sulaiman. Ini bukan sekadar rombongan sepeda, tapi nyaris seperti reuni lintas profesi versi lebih sehat.

Ketua RBICC Medan, Mustafa Kamal atau yang akrab dipanggil “Ketubes,” menegaskan bahwa komunitas ini bebas dari pembahasan politik, SARA, dan bisnis. Sebuah pernyataan yang cukup revolusioner di negeri di mana obrolan warung kopi saja kadang bisa berubah jadi debat nasional.

“Di sini kami dipertemukan karena hobi yang sama,” katanya. Sebuah filosofi sederhana namun mahal: meninggalkan sekat perbedaan, lalu menyatukannya dalam satu hal universal—sama-sama capek di tanjakan.

Dan begitulah, di tengah hiruk-pikuk kota dan panasnya dinamika politik, para pesepeda ini membuktikan bahwa persatuan kadang tidak lahir dari podium pidato, melainkan dari rantai sepeda yang terus berputar dan niat untuk tetap sehat sambil tetap bersahabat.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *