Kapolsek Baru, Warung Lama: Diplomasi Hangat di Warung Pinang Raja Dua

Hukum, Sumut11 Dilihat

KOTAPINANG — Kalau biasanya pergantian pejabat identik dengan map tebal, pidato formal, dan wajah serius yang kadang lebih tegang dari rapat anggaran, di Kotapinang suasananya justru berbeda. Kapolsek baru disambut bukan di aula ber-AC, melainkan di tempat yang jauh lebih jujur suasananya: warung kopi.

Sabtu malam (25/4/2026), Warung Pinang Raja Dua berubah fungsi menjadi pusat diplomasi rakyat. Bukan ada sidang kabinet, tapi malam silaturahmi bersama Kapolsek Kotapinang yang baru, Maruli Tua Siregar. Dan seperti biasa, kalau sudah di warung, pembicaraan cenderung lebih tulus karena ditemani kopi, bukan protokol.

Suasana hangat langsung terasa. Tawa ringan, sapaan akrab, dan obrolan yang mengalir membuat acara ini terasa lebih seperti kumpul keluarga besar daripada agenda resmi institusi. Sebab di Sumatera Utara, kadang urusan besar lebih cepat selesai lewat meja warung daripada meja kantor.

Turut hadir Camat Kotapinang Khairul Efendi Batu Bara, Danramil 11 Kotapinang Hendra Gunawan, Lurah Kotapinang Mirwan Sentosa Siregar, serta para tokoh masyarakat dan tokoh agama, khususnya dari kalangan marga Siregar. Bisa dibilang ini bukan sekadar silaturahmi, tapi hampir seperti rapat keluarga besar dengan level keamanan yang lebih resmi.

Lurah Mirwan Sentosa Siregar mengatakan bahwa tradisi seperti ini memang sudah menjadi budaya masyarakat Kotapinang dalam menyambut pemimpin baru. Sebuah cara elegan untuk mengatakan: sebelum bekerja, mari kenalan dulu, supaya nanti kalau ada masalah, tidak canggung saat saling menelepon.

Menurutnya, ini bukan hanya tradisi, tetapi cara membuka pintu komunikasi yang baik. Karena hubungan antara masyarakat dan aparat itu seperti sambal dan ikan goreng—akan lebih pas kalau saling melengkapi, bukan saling menghindari.

Senada dengan itu, Camat Khairul Efendi Batu Bara menegaskan bahwa masyarakat Kotapinang dikenal tertib, terbuka, dan mudah diajak berdiskusi. Artinya, kalau ada masalah, warga lebih suka musyawarah daripada status Facebook bernada sindiran.

Perwakilan tokoh masyarakat, H. Salim Fahri Siregar, juga menegaskan bahwa budaya duduk bersama masih sangat dijunjung tinggi. Di sini, persoalan tidak langsung dibawa ke konflik, tapi dibawa dulu ke kursi plastik dan segelas teh manis.

Sebagai bentuk penghormatan, prosesi adat upah-upah turut dilaksanakan kepada Kapolsek baru. Ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol doa, restu, dan pesan halus dari masyarakat: selamat datang, semoga betah, dan semoga kalau ada masalah jangan langsung marah dulu.

AKP Maruli Tua Siregar tampak terharu menerima sambutan tersebut. Ia mengaku merasa sangat dihargai dan berharap doa-doa itu menjadi kekuatan dalam menjalankan tugas menjaga kamtibmas di Kotapinang. Sebuah kalimat yang dalam bahasa rakyat bisa diterjemahkan: “Saya siap kerja, asal kopi tetap jalan.”

Ia juga menegaskan bahwa dirinya membuka ruang komunikasi seluas-luasnya bagi masyarakat. Silakan datang, berdiskusi, dan berkoordinasi. Karena polisi yang baik bukan hanya yang cepat datang saat ada masalah, tapi juga yang dikenal baik sebelum masalah datang.

Malam itu, yang terbangun bukan hanya silaturahmi, tetapi juga rasa saling memiliki antara aparat dan warga. Sebab keamanan bukan hanya tugas polisi, melainkan hasil gotong royong semua pihak—dan kadang, semuanya memang dimulai dari satu meja warung yang sederhana.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *