MALANG — Wisuda sering kali dianggap sebagai hari paling sakral setelah perjuangan panjang melawan tugas akhir, revisi dosen pembimbing, dan pertanyaan legendaris keluarga: “Kapan wisuda?” Begitu toga terpasang, senyum mengembang, dan kamera mulai bekerja lebih keras dari mahasiswa selama semester akhir.
Namun di Universitas Merdeka Malang, Minggu (26/4), suasana wisuda kali ini mendapat suntikan pesan yang lebih serius dari Komandan Korem 083/Baladhika Jaya, Wahyu Ramadhanus. Beliau mengingatkan bahwa wisuda bukan garis finish, melainkan garis start menuju dunia nyata—tempat deadline tidak lagi bisa dinegosiasikan dengan alasan “laptop error.”
Dalam acara Wisuda Program Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana itu, Danrem menegaskan bahwa para lulusan bukan hanya pencetak CV yang rapi, tetapi juga calon motor penggerak pembangunan bangsa. Sebab gelar akademik, sehebat apa pun, tidak otomatis membuat hidup lebih mudah—kadang justru membuat grup keluarga lebih rajin bertanya soal pekerjaan.
Menurutnya, tantangan ke depan bukan hanya soal kompetisi global dan teknologi yang bergerak lebih cepat dari sinyal Wi-Fi kampus, tetapi juga bagaimana menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk. Karena bangsa ini tidak hanya butuh orang pintar, tetapi juga orang yang tidak mudah ribut hanya karena beda pendapat di kolom komentar.
Danrem menekankan pentingnya toleransi, persatuan, dan kebhinekaan. Sebuah pengingat bahwa Indonesia ini bukan tugas kelompok yang bisa dikerjakan sendiri, melainkan proyek besar bersama yang kadang rumit, tapi tetap harus dijaga agar tidak bubar di tengah jalan.
Ia berharap para sarjana hadir membawa gagasan, keteladanan, dan energi positif. Bukan sebaliknya—baru lulus seminggu sudah sibuk jadi ahli segala bidang di media sosial, lengkap dengan analisis yang lebih tajam dari skripsinya sendiri.
“Bangsa ini membutuhkan generasi cerdas yang mampu menjadi jembatan kebersamaan,” ujarnya. Sebuah kalimat yang secara halus mengingatkan bahwa menjadi pintar itu bagus, tapi menjadi peneduh di tengah panasnya perdebatan jauh lebih mahal nilainya.
Karena itu, toga tidak boleh hanya menjadi kostum satu hari untuk difoto lalu disimpan di lemari bersama kenangan organisasi kampus. Ia harus menjadi simbol tanggung jawab bahwa setelah ini, masyarakat akan lebih sering bertanya “kontribusimu apa?” daripada “IPK-mu berapa?”
Wisuda juga menjadi pengingat bahwa gelar bukan mahkota permanen. Ia hanya tiket masuk ke arena yang sesungguhnya: dunia kerja, dunia pengabdian, dan dunia nyata yang tidak menyediakan tombol undo seperti saat mengetik skripsi.
Pada akhirnya, kualitas lulusan memang tidak semata diukur dari panjangnya gelar di belakang nama, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. Karena bangsa ini tidak kekurangan orang bergelar—yang sering langka justru orang yang mau benar-benar bekerja.
Maka, dari aula wisuda hingga kehidupan masyarakat, para sarjana baru itu kini resmi naik level. Selamat datang di babak berikutnya: tempat teori diuji, idealisme ditantang, dan pertanyaan “sudah kerja di mana?” menjadi ujian nasional yang sesungguhnya.(***)






