Patroli Sampai Larut, Rakyat Tetap Takut: Negeri yang Sibuk Menjaga Gejala, Bukan Penyebab

Hankam, Nasional13 Dilihat

Wonogiri — Malam kembali dipenuhi suara sirene dan langkah sepatu aparat. Koramil 11/Manyaran dan Polsek Manyaran turun patroli hingga larut malam demi satu kalimat sakti yang selalu dipakai di negeri ini: menjaga kondusifitas wilayah.

Kalimat itu terdengar gagah. Sangat gagah bahkan. Seolah keamanan rakyat benar-benar berada di garis terdepan perhatian negara. Padahal rakyat sudah terlalu sering melihat patroli yang rajin berkeliling, sementara akar keresahan justru dibiarkan tumbuh subur siang dan malam.

Serka Sambudi Asih, Serda Tri Sasongko, Bripka Sriyanto, dan Bripka Pandit menyisir BRI Unit Manyaran hingga pertokoan di Jalan Raya Manyaran–Wuryantoro. Mereka memastikan malam tetap aman dari kriminalitas, premanisme, dan gangguan ketertiban lainnya.

Namun publik diam-diam bertanya: preman mana sebenarnya yang sedang diburu?

Sebab di republik ini, rakyat kecil kadang lebih cepat ditindak karena nongkrong di pinggir jalan daripada mereka yang merampok uang negara dari balik meja berpendingin udara. Preman jalanan dikejar senter patroli, sementara preman berdasi sering justru dikawal protokoler.

Patroli malam memang penting. Kehadiran aparat memang bisa memberi rasa aman. Tetapi rakyat juga tahu, keamanan bukan sekadar motor dinas berputar sampai dini hari. Keamanan lahir ketika hukum tidak pilih kasih, ketika lapangan kerja tersedia, ketika harga kebutuhan tidak mencekik, dan ketika pejabat berhenti menjadikan rakyat sekadar objek pidato.

Ironisnya, istilah “kondusif” di negeri ini sering terasa seperti permintaan halus agar rakyat tetap tenang, tetap diam, dan tetap tertib meski hidup makin sempit. Yang penting suasana aman. Soal perut lapar, pengangguran, pungli, atau korupsi, itu urusan nanti.

Maka patroli gabungan semacam ini kadang terlihat seperti ritual rutin negara: memadamkan percikan kecil di jalanan sambil membiarkan api besar menyala di pusat kekuasaan.

Warga tentu menyambut baik patroli keamanan. Tidak ada orang waras yang ingin lingkungannya kacau. Tetapi rasa aman sejati tidak lahir hanya dari aparat yang berjaga hingga larut malam. Rasa aman muncul ketika rakyat percaya bahwa hukum berdiri tegak untuk semua, bukan tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Situasi malam itu memang dilaporkan aman, tertib, dan tanpa kejadian menonjol. Namun pertanyaan besarnya tetap menggantung di udara Manyaran: apakah negeri ini benar-benar sedang menjaga keamanan rakyat, atau sekadar menjaga agar keresahan rakyat tidak terlihat?(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *