Medan — Beginilah nasib modernisasi setengah matang di negeri +62: bus listrik yang digadang-gadang sebagai simbol transportasi masa depan akhirnya tumbang bukan karena baterai habis, bukan karena teknologi gagal, tapi karena… listriknya mati.
Lewat akun Instagram Bus Listrik Medan, pengelola menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena operasional bus listrik besok terpaksa dikurangi drastis di setiap koridor. Penyebabnya sederhana, klasik, sekaligus tragis: pemadaman listrik massal alias blackout yang melanda Aceh, Sumatera Bagian Utara, Riau, hingga Kepulauan Riau.
Sungguh ironis. Kendaraan masa depan dipaksa berhenti karena masalah yang bahkan sudah akrab sejak zaman televisi tabung dan lilin darurat.
Negeri ini memang unik. Kita bicara kendaraan ramah lingkungan, transisi energi, digitalisasi transportasi, bahkan smart city. Tapi fondasi paling dasar bernama pasokan listrik stabil saja masih sering lebih misterius daripada ramalan cuaca.
Bus listrik akhirnya berubah menjadi monumen berjalan tentang betapa rapuhnya sistem yang dibangun terlalu sibuk mengejar pencitraan dibanding kesiapan infrastruktur.
Mungkin ini satu-satunya negara di mana rakyat bisa mendengar pidato tentang energi hijau di siang hari, lalu malamnya makan sambil kipas-kipas karena listrik padam total.
Yang lucu sekaligus menyakitkan, masyarakat selalu diminta memahami keadaan. Selalu diminta maklum. Selalu diminta bersabar. Seolah blackout berjamaah lintas provinsi adalah fenomena alam seperti gerhana matahari, bukan kegagalan sistem yang seharusnya bisa diantisipasi.
Di atas kertas, bus listrik dipromosikan sebagai simbol kemajuan kota Medan. Sunyi, modern, hemat emisi, dan futuristik. Tapi dalam praktiknya, nasib armada miliaran rupiah itu ternyata masih bergantung pada satu hal paling mendasar: colokan yang hidup.
Akhirnya publik kembali diingatkan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan berarti jika infrastruktur dasarnya masih ringkih. Bus listrik boleh futuristik, tetapi kalau listriknya sendiri sering “menghilang”, maka yang tersisa hanyalah futuristik dalam brosur dan presentasi seminar.
Dan rakyat? Tetap jadi penumpang paling setia dari sistem yang selalu meminta pengertian, tetapi jarang benar-benar memberi kepastian.






