Dinkes Medan dan PWPM: Saat Jarum Informasi Harus Lebih Tajam dari Jarum Suntik

Medan11 Dilihat

Di tengah derasnya arus informasi yang kadang lebih cepat menyebar daripada fakta itu sendiri, Dinas Kesehatan Kota Medan tampaknya sadar satu hal penting: melawan penyakit bukan hanya soal obat, tetapi juga soal informasi yang sampai ke masyarakat dengan benar. Karena itulah, saat Pengurus Persatuan Wartawan Pemko Medan (PWPM) datang bersilaturahmi ke Kantor Dinas Kesehatan Kota Medan, Selasa (2/6/2026), yang dibangun bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan jembatan komunikasi antara dunia kesehatan dan dunia pemberitaan.

Plh Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, drg. Henni Savitri, M.KN, menerima rombongan PWPM yang dipimpin Ketua Muhammad Edison Ginting bersama jajaran pengurus. Suasana pertemuan berlangsung hangat. Tidak ada tensi tinggi seperti pasien yang baru melihat hasil cek tekanan darah, melainkan diskusi santai mengenai bagaimana informasi kesehatan bisa lebih mudah dipahami masyarakat.

Henni menegaskan bahwa media memiliki peran yang sangat strategis. Di era sekarang, masyarakat sering kali lebih cepat mengetahui kabar dari ponsel ketimbang dari pengumuman resmi. Karena itu, media menjadi mitra penting agar informasi kesehatan tidak kalah cepat dari gosip yang beredar di grup WhatsApp keluarga.

Dalam pertemuan tersebut, Dinas Kesehatan juga memaparkan sejumlah persoalan kesehatan yang masih menjadi perhatian serius di Kota Medan. Mulai dari TBC, ISPA, hipertensi, hingga HIV/AIDS yang masih menjadi tantangan besar. Penyakit-penyakit ini tentu tidak bisa ditangani hanya dengan resep dokter, tetapi juga dengan edukasi yang konsisten kepada masyarakat.

Khusus HIV/AIDS, Henni mengungkapkan bahwa angka kasus di Medan masih cukup tinggi. Data menunjukkan sekitar 13.000 kasus tercatat sejak 2022 hingga April 2025. Angka yang mengingatkan bahwa kampanye kesehatan masih harus bekerja lembur, bahkan mungkin tanpa mengenal hari libur.

Wilayah Martubung, Helvetia, Tuntungan, dan Padang Bulan menjadi daerah yang mencatat jumlah kasus cukup tinggi. Fakta ini menjadi pengingat bahwa virus tidak mengenal batas wilayah, jabatan, ataupun status sosial. Karena itu, edukasi dan pencegahan harus terus digencarkan agar masyarakat semakin memahami risiko dan cara perlindungannya.

Untuk itu, Dinas Kesehatan terus menggandeng berbagai pihak, termasuk lembaga sosial dan komunitas kesehatan. Sebab, dalam menghadapi persoalan kesehatan masyarakat, kerja sama sering kali lebih ampuh daripada bekerja sendiri. Sama seperti permainan sepak bola, kemenangan jarang diraih oleh satu pemain saja.

Di sisi lain, Henni juga memastikan stok obat di puskesmas masih dalam kondisi aman meski sesekali mengalami keterlambatan pasokan dari distributor. Kabar yang tentu cukup melegakan, karena tidak ada warga yang ingin mendengar obat datang lebih lambat daripada penyakitnya.

Ketua PWPM Muhammad Edison Ginting menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari program kerja organisasi pasca pelantikan pengurus pada Mei lalu. Selain mempererat silaturahmi, PWPM ingin membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan berbagai OPD, termasuk Dinas Kesehatan Kota Medan.

Menurut Edison, hubungan baik antara pemerintah dan media sangat penting agar masyarakat mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan berimbang. Sebab dalam dunia informasi, kabar yang jelas jauh lebih menyehatkan dibanding kabar yang setengah matang.

Pertemuan ini pun menjadi sinyal positif bahwa Dinas Kesehatan dan PWPM memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar dan bermanfaat. Jika tenaga kesehatan bertugas menjaga kesehatan fisik warga, maka media membantu menjaga kesehatan informasi publik. Dan di zaman sekarang, keduanya sama-sama penting untuk mencegah “wabah” kesalahpahaman yang sering kali menyebar lebih cepat daripada penyakit itu sendiri.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *