AI Sudah Datang, Jangan Sampai Pelayanannya Masih “Loading”
Kedatangan Wakil Menteri Kesehatan dan Wakil Menteri Dalam Negeri ke Medan membawa kabar baik. Pemerintah pusat serius ingin mempercepat pemberantasan tuberkulosis (TB), penyakit yang sampai hari ini masih menjadi pekerjaan rumah besar Indonesia. Teknologi pun mulai turun ke lapangan. Ada X-ray portable, ada analisis berbasis Artificial Intelligence (AI), bahkan target puluhan ribu warga Medan akan menjalani pemeriksaan kesehatan.
Semuanya terdengar modern.
Namun ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin juga ada di benak warga: apakah pelayanan pemerintah daerah sudah ikut “upgrade”, atau baru alatnya saja yang naik kelas?
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan komitmen Pemko Medan mempercepat penanggulangan TB melalui deteksi dini, penambahan anggaran, hingga pemanfaatan teknologi. Komitmen itu tentu patut diapresiasi. Tetapi masyarakat biasanya tidak mengukur komitmen dari banyaknya rapat koordinasi atau panjangnya paparan di depan pejabat pusat. Yang mereka rasakan adalah apakah datang ke puskesmas semakin mudah, petugas semakin cepat melayani, dan informasi kesehatan benar-benar sampai ke lingkungan tempat tinggal mereka.
Sebab, AI memang bisa membaca hasil foto paru-paru dalam hitungan detik. Sayangnya, teknologi secanggih itu belum tentu mampu mempercepat birokrasi kalau warga masih harus berpindah dari satu meja ke meja lain hanya untuk mendapatkan pelayanan dasar.
Wamenkes memberi analogi yang menarik. Menurutnya, screening itu seperti memancing ikan di laut, sedangkan tracing adalah mendatangi langsung orang-orang yang tinggal serumah dengan pasien. Logikanya jelas: pemerintah harus lebih aktif, bukan menunggu masyarakat datang.
Nah, semangat “jemput bola” ini mestinya tidak berhenti pada urusan TB saja. Sudah saatnya menjadi budaya pelayanan di lingkungan Pemko Medan. Jangan hanya sigap ketika ada kunjungan menteri, tetapi juga ketika warga biasa datang mengurus pelayanan setiap hari.
Target memeriksa 66.100 warga hingga akhir November tentu bukan angka kecil. Dibutuhkan kerja lapangan yang serius, koordinasi lintas instansi, serta komunikasi yang baik kepada masyarakat. Kalau tidak, target itu bisa berubah menjadi sekadar angka yang cantik di atas kertas, sementara warga masih bingung harus ke mana ketika membutuhkan pemeriksaan.
Di sisi lain, penambahan anggaran dan alat kesehatan juga harus diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan aparatur. Percuma memiliki X-ray portable yang bisa dibawa ke mana-mana kalau proses administrasinya masih terasa seperti membawa lemari arsip ke setiap lokasi pemeriksaan.
Keberhasilan memberantas TB tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau besarnya anggaran. Yang lebih menentukan adalah disiplin birokrasi, kecepatan pelayanan, dan keseriusan pemerintah daerah hadir di tengah masyarakat. Karena penyakit menular tidak mengenal jam kerja, tidak menunggu rapat koordinasi selesai, dan tentu tidak peduli berapa banyak spanduk sosialisasi yang dipasang.
Masyarakat Medan tentu berharap kunjungan Wamenkes dan Wamendagri bukan sekadar menghasilkan foto bersama atau laporan keberhasilan program. Harapannya lebih sederhana: pelayanan kesehatan makin cepat, petugas makin responsif, dan pemerintah daerah benar-benar hadir sebelum penyakit datang mengetuk pintu rumah warga.
Kalau AI sudah bisa membantu membaca paru-paru manusia, sudah waktunya birokrasi juga belajar membaca kebutuhan masyarakat dengan kecepatan yang sama.(***)







