Setiap tahun, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) selalu menghadirkan lantunan ayat-ayat suci yang menenangkan hati. Namun sesungguhnya, nilai terbesar dari MTQ bukan terletak pada siapa yang paling merdu membaca Al-Qur’an, melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh mengamalkan isinya setelah perlombaan selesai.
Suasana itu terasa dalam pembukaan MTQ ke-59 Kota Medan Tahun 2026 yang digelar pada Sabtu (11 April 2026) di Jalan Jenderal Gatot Subroto Km 5, Kecamatan Medan Sunggal. Acara dibuka secara resmi oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, bersama Wakil Wali Kota H. Zakiyuddin Harahap, ditandai dengan pemukulan bedug yang didampingi unsur Forkopimda Kota Medan.
Ketua DPRD Kota Medan, Drs. Wong Chun Sen, M.Pd.B., hadir bersama Wakil Ketua DPRD H. Rajudin Sagala, S.Pd.I., dan H. Zulkarnaen, S.K.M., serta sejumlah anggota DPRD Kota Medan. Kehadiran para pemimpin daerah ini menjadi simbol bahwa nilai-nilai keagamaan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan kota.
Sebelum acara pembukaan, sebanyak 21 kafilah dari seluruh kecamatan di Kota Medan mengikuti Pawai Ta’aruf. Pemandangan ini mengingatkan bahwa keberagaman di Kota Medan bukan sekadar slogan. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, masyarakat tetap bisa berjalan bersama dalam satu semangat yang sama.
Mengusung tema “Membangun Ketaatan yang Hakiki kepada Allah dan Rasul-Nya Menuju Medan Bertuah”, MTQ tahun ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan membaca Al-Qur’an. Tema tersebut juga mengajak semua pihak untuk menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutannya, Wong Chun Sen menyampaikan bahwa MTQ adalah perayaan jiwa, sebuah pertemuan antara manusia dengan Kalam Ilahi. Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an tidak seharusnya hanya terdengar indah saat dibaca di atas panggung, tetapi juga terlihat indah melalui perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau dipikir-pikir, tantangan terbesar bukanlah menghafal ayat demi ayat. Yang jauh lebih sulit adalah menjaga kejujuran ketika memiliki jabatan, berlaku adil saat memiliki kekuasaan, serta tetap rendah hati ketika memperoleh keberhasilan. Di situlah sebenarnya nilai Al-Qur’an diuji.
Harapan agar lahir generasi Qurani yang mampu membaca, menghafal, sekaligus mengamalkan isi Al-Qur’an tentu menjadi doa bersama. Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan qari dan qariah yang bersuara merdu, tetapi juga generasi yang menghadirkan akhlak mulia dalam keluarga, lingkungan kerja, sekolah, dan kehidupan bermasyarakat.
Acara ini turut dihadiri unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, kepala OPD, camat, lurah, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga peserta MTQ dari 21 kecamatan. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa membangun kehidupan religius bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari pembangunan sosial Kota Medan.
Pada akhirnya, piala akan menemukan pemiliknya, dan perlombaan akan selesai sesuai jadwal. Namun semoga semangat MTQ tidak ikut selesai bersama penutupan acara. Sebab kemenangan yang paling indah bukanlah ketika nama seseorang dipanggil sebagai juara, melainkan ketika nilai-nilai Al-Qur’an benar-benar hidup dalam sikap, keputusan, dan cara masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari. Itulah makna “Medan Bertuah” yang sesungguhnya—bukan hanya ramai oleh lantunan ayat, tetapi juga teduh oleh akhlak warganya.(***)







