Membangun pasar ternyata tidak otomatis membuat pasar menjadi ramai. Gedungnya bisa baru, kiosnya bisa rapi, tetapi tanpa aktivitas jual beli yang hidup, pasar hanya menjadi bangunan yang menunggu pengunjung datang. Itulah potret yang kini menjadi perhatian di Pasar Aksara Baru Medan.
Rabu, 13 Mei 2026, Ketua DPRD Kota Medan, Drs. Wong Chun Sen, M.Pd.B., melakukan kunjungan lapangan ke Pasar Aksara Baru Medan bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Kunjungan ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas permintaan para pedagang yang berharap kondisi pasar dapat ditinjau langsung oleh DPRD Kota Medan dan instansi terkait.
Pertemuan itu bukan sekadar agenda seremonial. Para pedagang ingin menunjukkan kondisi nyata yang mereka hadapi setiap hari. Sebab laporan di atas kertas sering kali terlihat lebih rapi daripada kenyataan di lapangan.
Sedikit satire memang sulit dihindari. Sebuah pasar tanpa pembeli ibarat panggung megah tanpa penonton. Semua fasilitas tersedia, tetapi denyut ekonomi yang seharusnya menghidupkan tempat itu justru belum terasa.
Dalam dialog bersama Ketua DPRD dan OPD, para pedagang menyampaikan harapan agar Pasar Aksara Baru kembali diaktifkan dan ditata secara lebih optimal. Sejak diresmikan pada tahun 2022, aktivitas perdagangan di pasar tersebut dinilai belum berkembang sesuai harapan sehingga banyak kios yang masih sepi pengunjung.
Kunjungan lapangan menjadi langkah penting karena persoalan seperti ini tidak cukup diselesaikan dari balik meja rapat. Melihat langsung kondisi pasar memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai apa yang sebenarnya dibutuhkan pedagang dan bagaimana solusi dapat dirancang secara lebih tepat.
Turut hadir dalam peninjauan tersebut Direktur PUD Pasar Kota Medan, perwakilan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Medan, serta para pedagang yang selama ini menggantungkan harapan mereka pada hidupnya kembali aktivitas di Pasar Aksara Baru.
Harapan pedagang sebenarnya sederhana. Mereka tidak meminta pasar menjadi pusat perbelanjaan terbesar, tetapi ingin tempat mereka berdagang kembali ramai sehingga usaha yang dijalankan mampu menghidupi keluarga. Sebab bagi pedagang, keramaian pengunjung adalah modal yang sama pentingnya dengan barang dagangan.
Kunjungan ini sekaligus menunjukkan bahwa keluhan masyarakat sebaiknya dijawab dengan kehadiran langsung, bukan sekadar balasan surat atau janji dalam rapat. Ketika pemangku kebijakan melihat sendiri kondisi di lapangan, solusi yang lahir biasanya lebih membumi.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan lagi membangun fisik pasar, melainkan membangun kepercayaan masyarakat untuk kembali berbelanja di sana. Karena pasar yang sesungguhnya bukan diukur dari megahnya bangunan, tetapi dari ramainya transaksi, hidupnya para pedagang, dan bergeraknya roda ekonomi masyarakat setiap hari.(***)






