Dari Manisan Balakka hingga Gupak, Stand Padang Lawas di PRSU Bikin Pengunjung Penasaran Sekaligus Lapar
Medan – Kalau banyak orang datang ke Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) hanya untuk mencari hiburan atau menonton konser, jangan buru-buru pulang sebelum mampir ke Paviliun Kabupaten Padang Lawas (Palas). Siapa tahu niatnya cuma jalan-jalan, eh malah pulang membawa manisan, kopi, sampai parang tradisional.
Sejak PRSU dibuka pada 3 Juli lalu, Stand Padang Lawas menjadi salah satu tempat yang rajin memperkenalkan hasil karya masyarakatnya. Tak sekadar memajang produk di etalase, setiap barang yang dipamerkan punya cerita dan identitas daerah yang masih dijaga hingga kini.
Saat ditemui di paviliun, Kamis (23/7/2026), pengelola stand, Ihsan Mudiansyah Hasibuan, dengan semangat memperkenalkan produk yang paling sering membuat pengunjung bertanya, “Ini buah apa?”
“Produk andalan kita ada Manisan Balakka. Buah ini memang khas Padang Lawas. Bentuknya mirip plum sebelum diolah, lalu diproses oleh pelaku UMKM menjadi manisan,” ujarnya.
Kalau lidah masih belum puas, ada pula Ulame, makanan tradisional yang sekilas mirip dodol, tetapi dibuat dari tepung beras dengan cita rasa khas Padang Lawas. Sementara pencinta kopi bisa membawa pulang Kopi Robusta asli Padang Lawas dengan harga Rp40 ribu per kemasan 250 gram. Rasanya boleh jadi sederhana, tetapi aromanya cukup membuat mata kembali melek.
Tak hanya urusan perut, Padang Lawas juga membawa hasil karya para pengrajin. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Gupak, parang panjang buatan pandai besi lokal yang biasa digunakan warga untuk menebang pohon maupun membersihkan lahan pertanian.
“Gupak ini memang alat bantu pertanian. Selain itu kami juga membawa kulit manis, pasak bumi, hingga berbagai kerajinan anyaman rotan,” jelas Ihsan.
Melihat isi paviliun ini, rasanya Padang Lawas ingin menyampaikan satu pesan sederhana. Daerah tidak hanya dikenal dari nama di peta, tetapi juga dari produk yang lahir dari tangan masyarakatnya. Mulai dari makanan, hasil bumi, hingga kerajinan, semuanya menjadi cara memperkenalkan identitas daerah kepada para pengunjung.
Meski demikian, Ihsan mengaku masih memiliki satu harapan untuk penyelenggaraan PRSU ke depan. Menurutnya, harga tiket masuk sebaiknya bisa lebih ramah di kantong masyarakat.
“Harapannya tiket masuk bisa diturunkan. Jadi pengunjung lebih ramai seperti tahun lalu, dan uang mereka tidak habis di loket masuk. Sisanya bisa dipakai belanja produk UMKM di paviliun,” katanya sambil tersenyum.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup mengena. Sebab, tujuan orang datang ke PRSU bukan hanya menikmati panggung hiburan, melainkan juga mengenal potensi daerah. Kalau isi dompet sudah menipis sebelum sempat masuk ke area pameran, yang kasihan justru para pelaku UMKM yang sejak jauh-jauh hari berharap dagangannya ikut pulang bersama para pengunjung.
Di sinilah tantangannya. PRSU memang menjadi pesta rakyat, tetapi pesta akan terasa lebih meriah jika semua ikut menikmati. Pengunjung senang karena bisa datang dengan biaya terjangkau, sementara para pelaku UMKM pun tersenyum karena produk-produk lokal mereka benar-benar laku, bukan sekadar dipajang sebagai penghias stan.







