PRSU Tak Cuma Jual Hiburan, Ada Tempat Curhat Gratis yang Mungkin Lebih Dibutuhkan daripada Wahana

PRSU Tak Cuma Jual Hiburan, Ada Tempat Curhat Gratis yang Mungkin Lebih Dibutuhkan daripada Wahana

Medan – Datang ke Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) biasanya identik dengan berburu kuliner, belanja produk UMKM, atau menikmati konser musik. Namun, di salah satu sudut area pameran, ada “stand” yang tak menjual apa pun. Yang dibagikan justru sesuatu yang belakangan semakin mahal harganya: ketenangan pikiran.

Di Paviliun RS Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem, Psikolog Cory membuka layanan konseling gratis setiap hari Jumat bagi siapa saja yang ingin berbagi cerita. Tak perlu membeli tiket tambahan, tak perlu malu, cukup datang dan berbicara.

Pada Jumat (24/7/2026), Cory melayani tiga pengunjung yang datang dengan cerita dan beban masing-masing. Jumlahnya memang tidak banyak, tetapi setiap cerita yang dibawa memiliki bobot yang tak bisa diukur dengan angka.

Menurut Cory, kelompok yang paling sering datang justru para remaja. Bukan karena mereka kurang kuat menghadapi hidup, melainkan karena mereka sedang berada di usia ketika tekanan datang dari berbagai arah. Ada yang merasa tertekan oleh aturan orang tua, ada yang sulit berkomunikasi dengan keluarga, dan ada pula yang merasa tak punya tempat untuk didengar.

Setelah remaja, giliran kaum muda yang mulai memasuki dunia kerja. Keluhannya juga tidak kalah berat. Mulai dari target pekerjaan yang terus bertambah, hubungan dengan rekan kerja yang tak selalu mulus, hingga tekanan dari atasan yang kadang membuat hari Senin terasa datang terlalu cepat.

“Umumnya mereka yang datang belum sampai harus menjalani pengobatan atau minum obat. Setelah berbicara dari hati ke hati, mereka biasanya sudah merasa jauh lebih lega,” ujar Cory.

Pendampingan biasanya berlangsung tiga hingga lima kali pertemuan. Untuk kasus remaja, Cory juga kerap mengajak orang tua ikut berdiskusi. Sebab, menyelesaikan persoalan keluarga tentu lebih mudah jika semua pihak mau duduk bersama, bukan hanya saling mengira-ngira isi kepala masing-masing.

Di tengah ramainya PRSU yang dipenuhi musik, lampu warna-warni, dan aroma jajanan, keberadaan layanan konseling ini menjadi pengingat bahwa tidak semua orang datang membawa wajah ceria dengan hati yang sama ringannya. Ada yang tertawa di depan panggung, tetapi diam-diam sedang memikul beban yang tidak terlihat.

Sayangnya, di masyarakat kita masih ada anggapan bahwa pergi ke psikolog berarti sedang “gila”. Padahal kenyataannya, berkonsultasi dengan psikolog sama wajarnya seperti memeriksakan gigi saat sakit atau memeriksa mata ketika penglihatan mulai kabur. Bedanya, yang dirawat adalah pikiran dan perasaan.

Cory pun mengajak masyarakat untuk tidak menunggu sampai masalah terasa terlalu berat. Jika mulai merasa tertekan, kehilangan semangat, atau pikiran terasa sesak karena berbagai persoalan, jangan ragu mencari bantuan profesional. Tidak semua masalah harus dipendam sendirian, dan tidak semua orang harus selalu terlihat kuat.

Kadang, solusi pertama bukanlah nasihat panjang atau kalimat “yang sabar ya.” Kadang, yang paling dibutuhkan hanyalah seseorang yang benar-benar mau mendengarkan tanpa menghakimi. Dan di tengah riuhnya PRSU, ternyata tempat seperti itu juga ada.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *