Kulit Pisang yang Dulu Masuk Tempat Sampah, Kini Masuk Etalase PRSU

Kulit Pisang yang Dulu Masuk Tempat Sampah, Kini Masuk Etalase PRSU

Di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), hampir setiap stan punya cerita. Ada yang datang membawa kopi, kain tenun, atau makanan khas daerah. Namun di Paviliun Kabupaten Asahan, ada satu produk yang membuat banyak pengunjung mengernyitkan dahi sebelum akhirnya tersenyum.

Kerupuk dari kulit pisang.

Reaksi pertama hampir selalu sama.

“Serius… kulit pisang?”

Lalu setelah mencicipi, kalimat berikutnya biasanya berubah menjadi, “Eh… ternyata enak juga.”

Begitulah cerita sederhana yang dibawa Syahri Ramadhani YS, pelaku UMKM asal Dusun IV, Desa Sei Alim Hasak, Kecamatan Sei Dadap, Kabupaten Asahan. Bersama keluarganya, ia membuktikan bahwa sesuatu yang selama ini dianggap limbah ternyata bisa berubah menjadi produk yang bernilai ekonomi.

Semuanya bermula dari sang ayah, Yanto, yang setiap hari membuat pisang sale goreng. Di sela kesibukan itu, ia merasa sayang melihat tumpukan kulit Pisang Awak terus berakhir sebagai sampah.

Daripada dibuang begitu saja, muncul pertanyaan sederhana yang ternyata mengubah jalan hidup keluarga mereka.

“Apa kulit pisang ini bisa dimanfaatkan?”

Jawabannya tidak datang dalam semalam. Ia lahir dari bertahun-tahun mencoba, gagal, memperbaiki resep, hingga belajar secara otodidak, termasuk mencari referensi dari internet. Setelah melalui berbagai percobaan sejak 2014, lahirlah kerupuk kulit pisang dengan merek Syaqueenah.

Kini, camilan itu bukan lagi sekadar eksperimen dapur. Produknya sudah dipasarkan di berbagai kota di Sumatera, masuk ke toko oleh-oleh, supermarket, hingga Rumah BUMN. Di PRSU 2026, satu kemasan 80 gram dijual seharga Rp18 ribu.

Yang menarik, Syahri bukan pengusaha penuh waktu. Sehari-harinya ia adalah seorang guru di UPTD SD Negeri 016549 Sijabut Penggalangan, Kabupaten Asahan.

Pagi mengajar anak-anak di kelas, sore hingga malam mengurus produksi camilan bersama keluarga.

Kalau orang lain selesai mengajar lalu beristirahat, Syahri justru membuka internet mencari inspirasi makanan baru.

“Kalau sudah selesai tugas mengajar, saya terus mencoba mencari tahu camilan apa lagi yang bisa dibuat,” ujarnya.

Ia bahkan sempat mencoba berbagai jenis kulit pisang lain agar tidak bergantung pada Pisang Awak yang kini semakin sulit diperoleh. Namun hasilnya tetap sama.

“Yang paling pas tetap kulit Pisang Awak,” katanya sambil tersenyum.

Di situlah letak satirenya.

Sering kali kita sibuk mengejar ide usaha yang terdengar rumit dan modern, padahal peluang justru bersembunyi di tempat yang paling sering kita abaikan. Bahkan di tempat sampah sekalipun.

Kulit pisang yang biasanya selesai begitu saja setelah buahnya dimakan, di tangan keluarga ini justru mendapat “kehidupan kedua”. Diolah melalui proses perendaman, perebusan, penghalusan, lalu dipadukan dengan tepung, bawang putih, udang kecepe, dan bumbu lainnya hingga berubah menjadi kerupuk yang renyah.

Kini usaha Syaqueenah tak hanya memproduksi kerupuk kulit pisang. Ada pula pisang sale goreng, emping pisang, dan berbagai camilan lain yang terus dikembangkan. Label halal sudah dikantongi, sementara perizinan BPOM tengah dipersiapkan agar produk mereka semakin dipercaya pasar.

PRSU tahun ini sekali lagi mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih. Kadang ia muncul dari dapur rumah, dari rasa sayang melihat sesuatu terbuang sia-sia, lalu dipadukan dengan kemauan untuk terus belajar.

Dan mungkin itulah pelajaran paling berharga dari Paviliun Asahan.

Bukan soal kerupuknya semata, melainkan tentang cara memandang sebuah peluang. Sebab bagi orang kreatif, kulit pisang bukan akhir dari sebuah buah. Ia justru bisa menjadi awal dari sebuah usaha, membuka lapangan pekerjaan, menghidupi keluarga, bahkan mengharumkan nama daerah di panggung PRSU.

Dipromosikan di PRSU
Produk Syaqueenah dan UMKM lainnya oleh Pemkab Asahan diperkenalkan di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026.

Produk Kerupuk Kulit Pisang itu pun menjadi salah satu camilan dengan peminat tinggi.
“Alhamdulillah produk UMKM seperti Kerupuk Kulit Pisang produk Syaqueenah banyak pembelinya. Pengunjung mengaku penasaran rasa kerupuk dari kuli pisang dan ada juga konsumen yang kemudian datang lagi membeli dengan alasan ketagihan,” ujar Darmawan, salah satu penjaga stan Pemkab Asahan.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan dan Perindustrian Asahan Khualid Armansyah Lubis, S Sos melalui Kepala Bidang Nofrida Lasmaria Sitorus, S, STP., M A P mengatakan, Pemkab Asahan terus melakukan pembinaan ke UMKM agar naik kelas.

Salah satunya adalah membantu promosi dan pemasaran seperti di PRSU 2026 dan dinilai efektif.
“Sudah banyak UMKM yang maju di Asahan, meski memang harus terus didukung penuh,”kata Nofrida. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *