Pendidikan Nias Barat Tak Bisa Jalan Sendiri, Surya: Kolaborasi Jangan Sekadar Jadi Slogan

Pendidikan Nias Barat Tak Bisa Jalan Sendiri, Surya: Kolaborasi Jangan Sekadar Jadi Slogan

NIAS BARAT — Pendidikan tidak akan maju hanya karena sekolah memiliki papan nama, seragam rapi, dan upacara Senin yang rutin. Di balik semua itu, masih ada pekerjaan rumah besar yang membutuhkan kerja bersama. Pesan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya saat mengunjungi SMAN 1 Mandrehe, Nias Barat, Selasa (11/8/2026).

Di hadapan kepala sekolah, guru, dan siswa, Surya menegaskan peningkatan kualitas pendidikan Nias Barat membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, sekolah, guru, serta seluruh pemangku kepentingan. Terlebih, wilayah Kepulauan Nias masih menghadapi keterbatasan dalam pembangunan.

“Keinginan-keinginan ini harus kita kolaborasikan secara bersama, sehingga apa yang menjadi keinginan kita bersama bisa diwujudkan,” ujar Surya.

Surya meminta para guru tidak hanya menjalankan pekerjaan sebagai profesi, tetapi benar-benar hadir sebagai pendidik dan teladan bagi siswa. Menurutnya, guru memiliki tanggung jawab membentuk karakter sekaligus memberikan pengetahuan kepada generasi muda.

“Didiklah anak kita ini dengan tulus dan ikhlas, menjadi teladan bagi anak-anak kita. Kita itu bersikap, bertindak sebagai orang tua, sebagai pendidik,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan setiap siswa berbeda. Karena itu, metode pendidikan tidak bisa menggunakan pendekatan seragam seolah semua anak memiliki kecepatan belajar yang sama. “Dari 32 anak yang kita berikan ilmu, belum tentu 32 ini sama kemampuannya,” ujarnya.

Menurut Surya, ilmu merupakan harta yang tidak akan habis meski terus dibagikan. Karena itu, guru PNS, PPPK, paruh waktu maupun guru tidak tetap diminta tetap menjalankan tugas dengan ketulusan. Sebab mendidik generasi muda bukan sekadar soal berapa rupiah yang diterima setiap bulan.

Namun, idealisme guru tentu perlu ditopang sistem pendidikan yang memadai. Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu menyebut daerahnya memiliki 31 satuan pendidikan SMA, SMK dan SLB, tetapi masih menghadapi keterbatasan jumlah pengawas sekolah.

Persoalan tersebut ikut berdampak pada kualitas pendidikan dan kesempatan siswa melanjutkan pendidikan tinggi. Eliyunus menyebut IPM Nias Barat berada di angka 66,05, masih di bawah rata-rata Sumut dan menjadi yang terendah di kawasan Kepulauan Nias.

Jika kualitas pendidikan ingin dikejar, maka persoalannya tidak cukup dijawab dengan meminta guru bekerja lebih keras. Sekolah membutuhkan pengawasan, fasilitas, tenaga pendidik, akses pendidikan tinggi, dan dukungan kebijakan yang benar-benar sampai ke lapangan.

Eliyunus mengapresiasi program pembangunan Pemprov Sumut di Nias Barat dan berharap peningkatan fasilitas pendidikan dapat memperkuat kemampuan siswa agar mampu bersaing dengan pelajar dari daerah lain. Dengan begitu, keterbatasan geografis tidak berubah menjadi keterbatasan masa depan.

Dalam kunjungannya, Surya juga meninjau progres pembangunan ruang kelas SMAN 1 Mandrehe serta proses perekaman KTP elektronik bagi siswa. Langkah administratif tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dokumen kependudukan merupakan bagian penting agar pelajar tidak tersandung urusan administrasi ketika membutuhkan layanan pemerintah.

Pada akhirnya, membangun pendidikan Nias Barat memang tidak cukup dengan slogan “kolaborasi”. Guru perlu dukungan, sekolah perlu fasilitas, siswa perlu kesempatan, dan pemerintah perlu memastikan kebijakan benar-benar bekerja. Sebab pendidikan yang maju bukan hanya menghasilkan siswa yang pintar menjawab soal, tetapi generasi yang mampu menjawab tantangan hidup setelah meninggalkan bangku sekolah.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *