India–Sumatera Perkuat Koneksi Pariwisata, Danau Toba Disebut ‘Switzerland of North Sumatra’

MEDAN, 10 Agustus 2026 — Laut yang dulu menjadi jalan bagi rempah-rempah, perdagangan, budaya, dan pertukaran gagasan antara India dan Nusantara, kini tampaknya sedang mencari pekerjaan baru: menjadi jalan bagi wisatawan. Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan promosi pariwisata India–Indonesia yang digelar Konsulat Jenderal India di Medan di Grand Mercure Hotel Medan.

Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku pariwisata, perhotelan, penerbangan, bisnis, hingga sektor ekonomi kreatif dari India dan Indonesia. Tujuannya cukup ambisius, tetapi masuk akal: memperkuat hubungan India dan Sumatera melalui pariwisata, konektivitas, investasi, bisnis, serta hubungan antarmasyarakat. Kalau dulu orang datang membawa barang dagangan, kini harapannya mereka datang membawa koper dan pulang membawa cerita.

Konsul Jenderal India di Medan, H.E. Ravi Shankar Goel, menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan tersebut bersama Joint Secretary Kementerian Pariwisata India Hari Kashore, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Mumbai H.E. Edy Wardoyo, serta Charge d’Affaires KBRI New Delhi H.E. Yudho Sasongko. Forum ini kemudian dibuka dengan pembicaraan mengenai masa depan kerja sama pariwisata kedua negara yang selama ini punya hubungan sejarah cukup panjang.

Salah satu agenda utama menghadirkan keynote bertajuk “India & North Sumatra: Unlocking the Next Era of Tourism Partnership” yang disampaikan Dedi Ahmad Kurnia, Assistant Deputy Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Pesannya jelas: Sumatera Utara tidak seharusnya hanya menjadi daerah yang dilewati wisatawan menuju destinasi lain, tetapi harus mampu menjadi destinasi utama.

Dalam Destination Showcase, India diperkenalkan sebagai destinasi oleh CEO WoW Travels India, Sumit Mathur. Sementara potensi pariwisata Sumatera Utara dipaparkan Detty Silaban, Plt Direktur Industri Pariwisata dan Pengembangan Kelembagaan BPODT. Dari Himalaya sampai Danau Toba, dari Taj Mahal sampai budaya Batak, rupanya dunia pariwisata memang tidak pernah kekurangan alasan untuk membuat orang ingin bepergian.

Forum kemudian dibagi ke dalam tiga sesi penting, yakni Aviation & Connectivity, Tourism Business Forum, dan Special Interest Forums. Sesi konektivitas membahas bagaimana memperkuat hubungan udara antara India dan Sumatera, sesuatu yang terdengar teknis tetapi sebenarnya sangat sederhana: destinasi sebagus apa pun akan sulit didatangi kalau perjalanan menuju ke sana terasa seperti mengikuti lomba estafet dengan terlalu banyak pergantian tongkat.

Sesi Aviation & Connectivity dimoderatori Corry Novrica AP Sinaga, S.Sos., MA., PhD Cand, dengan menghadirkan Darius Tirto Suharto dari Bank Indonesia Sumatera Utara, Kedar Deshpande dari KNO Airport, Rachmad Suwardi dari sektor perhotelan, serta Junaidi dari DPMPTSP Aceh. Mereka membahas konektivitas penerbangan, bandara, pariwisata dan berbagai peluang untuk membuat perjalanan India–Sumatera semakin mudah.

Sementara Tourism Business Forum mempertemukan Ankit Kumar, Director Magadh, dan Neeraj Dev dari Thomas Cook India Group yang berpartisipasi secara daring. Forum ini membedah peluang bisnis pariwisata, tantangan yang masih harus diatasi, serta kemungkinan kerja sama jangka panjang. Karena pariwisata pada akhirnya bukan cuma soal foto bagus untuk Instagram, tetapi juga soal paket perjalanan, hotel terisi, restoran ramai, UMKM bergerak dan ekonomi lokal ikut mendapatkan manfaat.

Yang menarik, sektor special interest tourism juga ikut mendapat panggung, termasuk medical tourism. Perwakilan Apollo Hospitals, Ribkah Darmawanti, turut membahas peluang kerja sama di sektor kesehatan. Ini menunjukkan bahwa perjalanan lintas negara sekarang semakin beragam: orang tidak hanya bepergian untuk melihat pemandangan, tetapi juga untuk pendidikan, kesehatan, bisnis, olahraga, hingga pengalaman budaya.

Potensi hubungan ekonomi kedua negara juga menjadi perhatian. Indonesia disebut mencatat ekspor ke India sekitar US$18 miliar pada 2025, sementara perdagangan bilateral mencapai sekitar US$25 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan India bukan hubungan baru yang sedang mencari kenalan, melainkan hubungan lama yang masih punya banyak ruang untuk berkembang.

Ekonomi kreatif turut menjadi bagian penting pembicaraan. Indonesia memiliki kekayaan kuliner, fesyen, musik, kerajinan, film dan konten digital, sementara India sudah lama dikenal melalui industri film, desain, teknologi dan inovasinya. Peluang kolaborasi seperti festival budaya, pertukaran seniman, produksi film bersama hingga proyek kreatif lintas negara dinilai dapat memperkuat hubungan masyarakat kedua negara.

Sumatera juga didorong untuk keluar dari bayang-bayang Bali. Bali tetap menjadi destinasi favorit wisatawan India, tetapi Sumatera memiliki cerita sendiri yang tidak kalah menarik. Danau Toba bahkan disebut Ravi Shankar Goel sebagai “Switzerland of North Sumatra”, sementara Berastagi, kawasan Karo dan berbagai destinasi lain di Pulau Sumatera memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata bagi pasar India.

Masalahnya memang bukan kekurangan destinasi. Sumatera justru seperti toko yang barangnya terlalu banyak, tetapi etalasenya belum semuanya ditata dengan baik. Karena itu, penguatan promosi, akses penerbangan, kualitas layanan, paket wisata dan keterlibatan UMKM menjadi pekerjaan rumah agar wisatawan tidak hanya mengenal Sumatera dari peta, tetapi benar-benar memasukkannya ke dalam daftar perjalanan.

Di sisi lain, Ravi Shankar Goel juga mengajak wisatawan Indonesia menjelajahi India. Mulai dari Himalaya dan Jammu & Kashmir, gurun Rajasthan, situs ziarah Buddha di Bihar dan Uttar Pradesh, Delhi–Jaipur–Agra dengan Taj Mahal, pantai Goa, Maharashtra, Tamil Nadu dan Kerala, hingga Bollywood di Mumbai. India seolah ingin mengatakan bahwa kalau Indonesia punya Danau Toba, India punya daftar destinasi yang panjangnya bisa membuat itinerary liburan perlu diberi jilid tambahan.

Kemudahan perjalanan juga menjadi perhatian. Ravi Shankar Goel menyampaikan bahwa visa turis India tersedia secara daring dan gratis bagi wisatawan Indonesia, sehingga diharapkan dapat mendorong lebih banyak pertukaran wisatawan. India juga menawarkan peluang pendidikan dan layanan kesehatan, termasuk melalui sektor medical tourism yang dibahas dalam forum tersebut.

Konektivitas menjadi kunci berikutnya. Saat ini Sumatera terhubung dengan India melalui sejumlah hub penerbangan regional seperti Kuala Lumpur dan Singapura dengan berbagai pilihan penerbangan harian. Namun, peserta forum melihat perlunya penguatan konektivitas langsung maupun tidak langsung, kerja sama maskapai dan bandara, serta kemudahan perjalanan. Sebab, kalau perjalanan terlalu rumit, wisatawan biasanya punya satu keputusan sederhana: cari destinasi lain yang lebih mudah.

Yang tak kalah menarik adalah jejak sejarahnya. Sumatera dalam catatan India dikenal sebagai Swarna Dwipa, dan sejak berabad-abad lalu kawasan ini telah terhubung dengan dunia Samudra Hindia melalui perdagangan, budaya, agama, manusia dan pertukaran gagasan. Kini hubungan tersebut ingin dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih modern: wisatawan, investasi, ekonomi kreatif, bisnis dan kolaborasi budaya.

Acara tersebut juga diikuti berbagai pemangku kepentingan pariwisata Indonesia, termasuk PHRI, ASPPI, ASITA, operator perjalanan India, asosiasi hotel, maskapai dan pelaku industri lainnya. Pertunjukan budaya India, Karo, Samosir dan Politeknik Pariwisata menambah warna acara. Setelah diskusi panjang, B2B meeting kemudian menjadi ruang bagi pelaku usaha kedua negara untuk saling bertukar kontak dan menjajaki kerja sama konkret.

Pada akhirnya, promosi pariwisata India–Sumatera bukan sekadar acara seremonial dengan panggung, backdrop dan sesi foto bersama. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah lampu acara dimatikan. Apakah konektivitas bisa diperbaiki, paket wisata bisa dijual, promosi bisa konsisten, investasi bisa masuk, UMKM bisa ikut menikmati dampaknya, dan wisatawan India benar-benar datang ke Sumatera? Jika jawabannya iya, maka jalur sejarah antara India dan Sumatera tidak hanya dikenang sebagai cerita masa lalu, tetapi bisa kembali hidup sebagai jalur ekonomi dan pariwisata masa depan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *