Gubernur Bobby Nasution: Kendalikan Inflasi dan Pemerataan Pembangunan, Wujud Mengisi Kemerdekaan
DELISERDANG – Mengisi kemerdekaan ternyata tidak selalu harus dengan pidato panjang, parade, atau lomba makan kerupuk. Bagi Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution, kemerdekaan juga harus terasa di meja makan masyarakat: harga kebutuhan pokok terkendali dan pembangunan tidak berhenti di kawasan yang itu-itu saja.
Pesan tersebut disampaikan Bobby Nasution usai mengikuti Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka Peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di Lapangan Astaka, Jalan Willem Iskandar, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang, Senin (17/8/2026).
Upacara dihadiri unsur Forkopimda Sumut, organisasi kemasyarakatan, pelajar, ASN, serta sejumlah tamu kehormatan dari negara sahabat. Namun setelah upacara selesai, persoalan yang dihadapi masyarakat tetap kembali ke dunia nyata: harga pangan, daya beli, dan pembangunan yang harus dirasakan hingga ke pelosok.
Bobby mengatakan pemerintah terus berupaya mengendalikan inflasi, terutama yang bersumber dari harga kebutuhan pokok. Beras menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian karena pergerakan harganya langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah ingin agar harga kebutuhan pokok antardaerah tidak terlalu timpang. Sebab, secara sederhana, masyarakat di satu wilayah tidak seharusnya membayar jauh lebih mahal hanya karena secara geografis mereka dipisahkan laut.
“Terkait inflasi, ya kita berupaya agar bagaimana harga bahan terutama kebutuhan pokok di semua daerah itu sama. Khususnya di Kepulauan Nias, kita akan membangun Gudang Pangan di sana. Tujuannya, supaya harga di sana dan di Pulau Sumatera, sama,” ujar Bobby.
Kalau boleh diterjemahkan secara sederhana, pemerintah ingin mengurangi apa yang selama ini terasa seperti “pajak geografis”. Barang yang sampai ke pulau harus melewati perjalanan lebih panjang, biaya angkut lebih besar, lalu harga di tingkat konsumen ikut naik. Jangan sampai kemerdekaan sudah berusia 81 tahun, tetapi harga beras masih seolah-olah harus ikut menyeberangi perjuangan kemerdekaan.
Karena itu, pembangunan Gudang Pangan di Kepulauan Nias dinilai penting. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus membantu mengurangi disparitas harga kebutuhan pokok antara wilayah kepulauan dan daratan Sumatera.
Bobby mengatakan langkah tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai pentingnya memastikan ketahanan pangan di seluruh wilayah Indonesia.
“Sebagaimana arahan Presiden RI, Bapak Prabowo Subianto untuk memastikan ketahanan pangan di seluruh daerah. Karenanya kita ingin hadirkan itu di sana (Kepulauan Nias),” ungkapnya.
Merdeka Bukan Hanya Soal Upacara
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI juga dimanfaatkan Bobby untuk menegaskan kembali komitmen pemerintah terhadap pemerataan pembangunan, terutama di wilayah yang selama ini membutuhkan perhatian lebih.
Kepulauan Nias menjadi salah satu wilayah yang disebut secara khusus. Kawasan yang masuk kategori Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (3T) tersebut, menurut Bobby, harus terus didorong agar tidak tertinggal dalam menikmati hasil pembangunan.
Sebab, kemerdekaan akan terasa lebih bermakna ketika pembangunan tidak hanya terlihat dari gedung-gedung baru di pusat kota, tetapi juga dari jalan yang semakin baik, distribusi pangan yang lancar, layanan publik yang mudah dijangkau, serta harga kebutuhan pokok yang masuk akal.
Dengan kata lain, ukuran keberhasilan pembangunan bukan sekadar berapa banyak proyek yang selesai, tetapi seberapa jauh masyarakat merasakan manfaatnya.
Dan di sinilah pekerjaan rumah pemerintah masih panjang. Meratakan pembangunan di negara kepulauan memang bukan perkara membalik telapak tangan. Ada laut, jarak, biaya logistik, keterbatasan infrastruktur, dan berbagai persoalan klasik lainnya yang kadang lebih keras kepala daripada slogan pembangunan.
Penghargaan untuk Pengabdian
Dalam rangkaian upacara tersebut, Bobby Nasution juga menyematkan tanda kehormatan Satyalencana kepada sejumlah aparatur sipil negara (ASN) yang telah mengabdi selama 20 hingga 30 tahun.
Selain itu, pemerintah juga menyerahkan remisi dan pengurangan masa pidana kepada narapidana yang memenuhi persyaratan.
Usai upacara, Bobby menyapa peserta dan pasukan upacara, kemudian berfoto bersama Paskibraka dan para pelajar.
Setelah rangkaian kegiatan di lapangan selesai, agenda berlanjut ke Kantor Gubernur Sumatera Utara. Bobby bersama rombongan mengikuti pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia secara virtual.
Hari Kemerdekaan pun kembali menjadi pengingat bahwa pekerjaan pemerintah sesungguhnya baru dimulai setelah bendera diturunkan.
Sebab, mengisi kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pendahulu, tetapi juga memastikan rakyat hari ini bisa hidup lebih layak. Harga pangan terkendali, pembangunan lebih merata, dan masyarakat di wilayah terluar tidak merasa menjadi penonton di rumah sendiri.
Kalau itu bisa diwujudkan, barangkali itulah bentuk kemerdekaan yang paling sederhana sekaligus paling nyata: rakyat tidak perlu bertanya lagi kapan pembangunan akan sampai ke tempat mereka, karena pemerintah sudah lebih dulu datang.(***)







