Gempa NTT: Alam Tidak Pernah Menunggu Rapat Koordinasi
Gempa tidak mengenal jabatan, pangkat, afiliasi politik, maupun jumlah pengikut di media sosial.
Ketika tanah bergerak, semuanya sama-sama mencari tempat aman.
Rumah bisa roboh.
Jalan bisa rusak.
Warga bisa kehilangan tempat tinggal.
Dan angka korban tidak pernah menjadi sekadar angka bagi keluarga yang kehilangan orang tercinta.
Di tengah hiruk-pikuk politik, polemik hukum, dan perang opini di media sosial, bencana alam mengingatkan kita pada sesuatu yang sangat sederhana: ada persoalan yang jauh lebih besar daripada siapa yang menang dalam perdebatan di internet.
Ketika masyarakat NTT menghadapi bencana, yang dibutuhkan bukan debat panjang.
Yang dibutuhkan adalah evakuasi, bantuan, tempat tinggal, makanan, pelayanan kesehatan, dan kehadiran negara.
Di titik ini, negara diuji bukan melalui pidato, tetapi melalui kecepatan bertindak.
Bencana juga memberikan pelajaran yang agak pahit: manusia bisa berdebat berhari-hari mengenai siapa yang benar, tetapi gempa bisa menyelesaikan perdebatan itu dalam hitungan detik.
Alam memang tidak punya akun media sosial.
Tidak punya buzzer.
Tidak punya juru bicara.
Tidak bisa ditakedown.
Ia hanya datang dan mengingatkan bahwa ada urusan yang jauh lebih serius daripada sekadar perang komentar.






