Kampung Sehat FIFGROUP: Ketika Sanitasi dan Gizi Sama-Sama Tak Boleh Diabaikan
JAKARTA — Kalau kesehatan masyarakat hanya diukur dari seberapa rajin orang datang ke fasilitas kesehatan, mungkin ada yang terlupa: kesehatan juga dimulai dari hal yang jauh lebih sederhana—air bersih, sanitasi yang layak, makanan bergizi, dan lingkungan yang tidak mengajak bakteri ikut tinggal serumah.
Di titik itulah Kampung Sehat FIFGROUP mencoba mengambil peran. Pada 2026, program Corporate Social Responsibility (CSR) di bawah pilar FIFGROUP Sehat kembali diperluas dengan menggabungkan dua persoalan yang kelihatannya sederhana, tetapi dampaknya panjang: sanitasi dan pencegahan stunting.
Pelaksanaannya berlangsung di Kelurahan Ciganjur, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Program ini mengintegrasikan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal dengan program Sehat Ceria Tanpa Stunting (SeCanting).
Dengan kata lain, bukan hanya urusan bagaimana air limbah tidak menjadi masalah, tetapi juga bagaimana anak-anak mendapatkan dukungan gizi agar tumbuh sehat. Sebab, membangun generasi sehat memang tidak cukup dengan slogan—apalagi kalau urusan jamban dan gizi masih berjalan masing-masing.
Direktur FIFGROUP, Esther Sri Harjati, mengatakan pengembangan Kampung Sehat merupakan bagian dari upaya perseroan menghadirkan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Melalui program ini, kami ingin memberikan dukungan yang lebih menyeluruh, mulai dari terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat melalui fasilitas sanitasi hingga mendukung pemenuhan gizi serta pencegahan stunting,” ujar Esther.
IPAL Komunal: Karena Urusan Buang Air Tak Bisa Cuma Mengandalkan Kesadaran
Program IPAL Komunal FIFGROUP sebenarnya bukan program baru. Sejak 2020, fasilitas tersebut dikembangkan untuk meningkatkan kualitas sanitasi sekaligus mendukung terciptanya lingkungan Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan.
Hingga akhir 2025, IPAL Komunal FIFGROUP telah memberikan manfaat kepada 674 jiwa di enam lokasi.
Tahun ini, program tersebut dilanjutkan di Gandaria Selatan, Ciganjur, Bangka, dan Kalibata, Jakarta Selatan. Manfaatnya kemudian diperluas ke Rangkasbitung, Lebak, Banten.
Hasilnya, hingga 2026 total penerima manfaat IPAL Komunal FIFGROUP mencapai 1.218 jiwa.
Angka tersebut tentu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada persoalan klasik perkotaan dan permukiman yang sering dianggap sepele sampai akhirnya menjadi serius.
Karena sanitasi memang punya satu keunikan: ketika semuanya berjalan baik, hampir tidak ada yang membicarakannya. Tetapi begitu bermasalah, semua orang mendadak menjadi ahli lingkungan.
SeCanting: Gizi Anak Jangan Sampai Jadi Urusan Nanti
FIFGROUP juga memperluas Kampung Sehat melalui SeCanting, program yang sudah berjalan sejak 2022 dan diarahkan untuk mendukung pemenuhan gizi serta pencegahan stunting.
Sepanjang 2024–2025, SeCanting telah dilaksanakan di 12 lokasi dan menjangkau 1.086 penerima manfaat, terdiri atas 561 anak, 250 ibu hamil, serta 275 remaja dan calon pengantin.
Pada 2026, program tersebut menyasar empat kecamatan di Jakarta Selatan: Cilandak, Jagakarsa, Mampang Prapatan, dan Pancoran.
Sebanyak 120 anak dengan kondisi gizi kurang dan stunting menjadi sasaran program, disertai edukasi bagi ibu hamil serta calon pengantin.
Pendekatannya cukup masuk akal: mencegah persoalan sejak awal, bukan menunggu sampai persoalan tumbuh besar lalu semua orang sibuk mencari solusi.
Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan, Firmanudin Ibrahim, turut mengapresiasi dukungan FIFGROUP terhadap program pemerintah, termasuk dalam mewujudkan lingkungan ODF dan pencegahan stunting.
Kampung Sehat, Manfaatnya Jangan Berhenti di Acara Peresmian
Pengembangan Kampung Sehat FIFGROUP menunjukkan bahwa program sosial perusahaan tidak harus berhenti pada seremoni, spanduk, foto bersama, lalu selesai.
IPAL Komunal menyentuh persoalan lingkungan. SeCanting menyasar persoalan gizi dan tumbuh kembang anak. Dua pendekatan tersebut kemudian dipertemukan dalam satu program yang lebih menyeluruh.
Tantangannya tentu bukan hanya membangun fasilitas atau menyalurkan bantuan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan fasilitas tersebut dirawat, digunakan dengan benar, dan pengetahuan kesehatan yang diberikan benar-benar menjadi kebiasaan masyarakat.
Sebab, fasilitas sebagus apa pun tidak akan banyak berarti jika setelah peresmian semua kembali ke kebiasaan lama.
FIFGROUP sendiri menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menghadirkan program sosial yang memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, Kampung Sehat bukan sekadar soal kampung yang terlihat sehat ketika difoto. Ukurannya justru jauh lebih sederhana: lingkungan lebih bersih, sanitasi lebih layak, anak tumbuh lebih sehat, dan masyarakat mampu menjaga semuanya setelah acara peresmian selesai.
Itulah barangkali bentuk CSR yang paling masuk akal: tidak banyak bicara soal manfaat, tetapi membuat manfaatnya terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Dan kalau sebuah kampung bisa sehat karena sanitasi dibenahi sekaligus gizi anak diperhatikan, setidaknya ada satu kabar baik: untuk urusan kesehatan masyarakat, kita masih punya banyak alasan untuk optimistis.(***)






