Akses Warga Makin Aman, Jembatan Beton Aek Karontang Rampung Dibangun
HUMBAHAS — Warga Dusun Karontang, Desa Sitanduk, Kecamatan Tarabintang, Kabupaten Humbang Hasundutan, kini tak lagi harus dibuat waswas setiap kali melintasi jembatan. Jembatan Beton Aek Karontang akhirnya rampung 100 persen pada Jumat, 11 September 2026.
Jembatan sepanjang 15 meter dengan lebar 4 meter itu dibangun Kodim 0210/TU melalui Babinsa Koramil 11/Parlilitan bersama mitra Kodam I/BB. Pembangunan tersebut merupakan bagian dari program Bakti TNI yang diprakarsai Presiden RI Prabowo Subianto melalui TNI AD untuk mendukung akses masyarakat di wilayah tersebut.
Bagi warga, keberadaan jembatan ini bukan sekadar tambahan beton di atas aliran sungai. Infrastruktur tersebut menjadi jalur penting yang menghubungkan permukiman warga dengan dusun serta kawasan pertanian.
Sedikitnya 384 jiwa disebut menjadi penerima manfaat dari pembangunan jembatan tersebut.
Sebelumnya, warga masih mengandalkan jembatan lama yang kondisinya sudah memprihatinkan. Faktor usia dan material yang lapuk membuat jembatan tersebut tidak lagi layak dilintasi.
Kini, cerita itu perlahan berganti. Warga tak perlu lagi terlalu sering menghitung-hitung apakah jembatan kuat menahan kendaraan atau justru kendaraan yang harus kuat menahan rasa khawatir.
Dengan jembatan beton baru, mobilitas masyarakat diharapkan menjadi lebih aman dan nyaman. Akses menuju lahan pertanian juga semakin mudah, sehingga aktivitas ekonomi warga dapat berjalan lebih lancar.
Pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan dasar masyarakat di daerah pelosok tidak kalah penting dibanding proyek-proyek besar yang kerap menghiasi pemberitaan.
Kapendam I/BB Kolonel Inf Sandy, S.I.P., M.Han., mengatakan pembangunan infrastruktur melalui program Bakti TNI merupakan bentuk kepedulian TNI AD dalam membantu meningkatkan akses dan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Jembatan Aek Karontang pun kini telah berdiri kokoh. Bagi masyarakat, yang paling penting bukan siapa yang paling banyak bicara soal pembangunan, melainkan siapa yang benar-benar menghadirkan akses yang bisa dipakai warga setiap hari.
Sebab, bagi warga di pelosok, pembangunan memang sederhana ukurannya: jalan bisa dilewati, jembatan aman dilintasi, hasil pertanian mudah dibawa keluar, dan aktivitas sehari-hari tidak lagi dipertaruhkan hanya karena infrastruktur yang rapuh.(***)






