403 Calon Tamtama Jalani Sidang Sub Panpus, TNI AD Cari Prajurit Bukan Sekadar Jago Push-Up
MANOKWARI — Menjadi prajurit TNI AD rupanya bukan perkara siapa yang paling kuat berlari atau paling banyak melakukan push-up. Di balik seragam dan kemampuan fisik, ada pula karakter, loyalitas, ketangguhan, hingga kesiapan menjalani pendidikan yang ikut menjadi pertimbangan.
Sebanyak 403 calon mengikuti Sidang Pemilihan Tingkat Sub Panitia Pusat (Sub Panpus) Penerimaan Calon Tamtama Prajurit Karier (Cata PK) TNI AD Gelombang III Tahun Anggaran 2026 di Aula Makodam XVIII/Kasuari, Manokwari, Papua Barat, Senin (21/9/2026).
Sidang dipimpin langsung Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen TNI Christian Kurnianto Tehuteru.
Dalam kesempatan tersebut, Pangdam membacakan amanat Asisten Personalia Kasad yang menekankan agar proses rekrutmen dilaksanakan secara transparan, modern dan berkualitas.
Seleksi Makin Digital, Data Tak Cukup Disimpan di Map
Sistem seleksi penerimaan prajurit kini diperkuat melalui digitalisasi. Hasil pemeriksaan administrasi, kesehatan, jasmani, hingga penelitian personel diunggah ke server Panpus.
Tahapan psikologi juga menggunakan Computer Assisted Test (CAT).
Artinya, era calon prajurit membawa map tebal sambil berharap berkasnya tidak tercecer perlahan bergeser ke sistem yang lebih terdigitalisasi. Tetapi teknologi tentu hanya alat. Yang tetap menentukan adalah bagaimana data tersebut diverifikasi dan digunakan secara objektif.
Dalam amanat tersebut ditegaskan, keputusan kelulusan harus berdasarkan akumulasi hasil seleksi yang objektif, komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Calon yang terpilih diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan fisik dan akademik, tetapi juga karakter tangguh, loyalitas serta kesiapan mengikuti pendidikan militer.
Dengan kata lain, menjadi prajurit bukan sekadar urusan kuat badan. Kalau hanya soal fisik, mungkin cukup mencari atlet. TNI membutuhkan calon yang juga siap menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai prajurit.
Verifikasi Data Jadi Kunci
Panitia juga diminta memastikan ketelitian dalam proses verifikasi data, kesiapan personel dan perlengkapan (serpas), serta kesiapan sarana dan prasarana lembaga pendidikan.
Dalam proses pengambilan keputusan, perhatian secara proporsional juga diberikan kepada sejumlah kelompok sesuai ketentuan, antara lain anak prajurit, siswa SMA Kartika, pendaftar dari pulau terluar dan calon yatim piatu.
Namun perhatian tersebut tetap ditempatkan dalam kerangka kepentingan organisasi dan ketentuan seleksi.
Pesannya cukup jelas: proses seleksi harus memberi ruang bagi pertimbangan yang telah diatur, tetapi tetap menjaga kualitas calon prajurit yang akan diterima.
Dari 403, Siapa yang Lolos?
Sidang Sub Panpus menjadi salah satu tahapan dalam proses panjang penerimaan Cata PK TNI AD Gelombang III TA 2026.
Keputusan yang dihasilkan diharapkan mampu melahirkan prajurit berkualitas sekaligus memperkokoh kehormatan dan marwah Kodam XVIII/Kasuari sebagai garda terdepan penjaga kedaulatan di Bumi Kasuari.
Namun hasil sidang tersebut belum menjadi garis akhir.
Hasil pemilihan tingkat Sub Panpus selanjutnya akan menjalani verifikasi di tingkat Panpus sebelum pengumuman resmi.
Jadi, bagi 403 calon yang hari itu mengikuti sidang, perjuangan belum selesai. Seragam kebanggaan memang sudah terbayang, tetapi sebelum benar-benar dikenakan, masih ada satu kata yang harus dilewati: verifikasi.
Sebab dalam urusan menjadi prajurit, yang dicari bukan sekadar siapa yang mampu melewati tes, melainkan siapa yang memenuhi seluruh persyaratan untuk mengemban tugas sebagai prajurit TNI AD.(***)






