Diisi Kuliah Umum Kapolri, Rico Waas Semangati Ribuan Mahasiswa Baru UMSU

Diisi Kuliah Umum Kapolri, Rico Waas Semangati Ribuan Mahasiswa Baru UMSU

MEDAN — Memasuki dunia kampus tidak cukup hanya membawa tas, laptop, dan semangat mencari nilai bagus. Ada satu bekal lain yang kini sama pentingnya: kemampuan membedakan mana informasi, mana disinformasi, dan mana jebakan digital yang datang dengan kemasan seolah-olah menguntungkan.

Pesan itulah yang terasa dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) 2026 di Kampus Utama UMSU, Jalan Kapten Muchtar Basri, Medan, Senin (28/9/2026).

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas hadir dalam kegiatan tersebut sekaligus memberikan semangat kepada ribuan mahasiswa baru yang memulai perjalanan akademiknya. Kegiatan PKKMB juga diisi kuliah umum Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Kehadiran sejumlah tokoh nasional dan daerah membuat suasana penyambutan mahasiswa baru itu terasa lebih dari sekadar seremoni. Hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, Wamen Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Wakil Kepala BP2MI Dzulfikar Ahmad Tawalla, Wamen Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq, Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution, Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, Bupati Deli Serdang Asriludin Tambunan, serta Anggota DPR RI Ade Jona Prasetyo.

Kuliah Bukan Sekadar Mengejar Gelar

Di hadapan mahasiswa baru, Kapolri Listyo Sigit mengapresiasi pilihan mereka menempuh pendidikan di UMSU. Ia mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan masa kuliah dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin.

“Rekan-rekan sudah benar memilih sekolah di Universitas Muhammadiyah. Semuanya sudah teruji. Tinggal bagaimana adik-adik mempersiapkan diri dengan baik untuk mengikuti jejak para senior,” ujar Listyo Sigit.

Namun, tantangan mahasiswa hari ini tentu berbeda dengan generasi sebelumnya. Kalau dulu ancaman terbesar mahasiswa mungkin tugas kuliah yang datang bersamaan, kini ada “dosen tambahan” bernama algoritma media sosial—yang rajin memberi informasi, tetapi tidak selalu rajin memberi kebenaran.

Kapolri karena itu mengajak mahasiswa baru UMSU menguasai teknologi digital secara bijak dan produktif. Kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), menurutnya, membuka peluang besar bagi generasi muda untuk belajar, berinovasi, dan menghasilkan karya.

Di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan berbagai ancaman, mulai dari penipuan daring, pencurian data, phishing, judi online, hoaks, disinformasi, deepfake hingga kejahatan berbasis AI.

Mahasiswa, kata dia, harus memiliki literasi digital yang memadai agar tidak menjadi korban sekaligus tidak terjebak menjadi bagian dari kejahatan siber.

Kapolri juga mengingatkan mahasiswa untuk memahami perkembangan global yang dapat berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap Indonesia. Dinamika geopolitik, gangguan jalur logistik dunia, fluktuasi harga minyak, perang Rusia-Ukraina hingga perang dagang Amerika Serikat dan China merupakan sejumlah faktor yang perlu dipahami generasi muda.

Tak Perlu Minder Kuliah di Kampus Swasta

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak mahasiswa baru UMSU memiliki kebanggaan terhadap almamater.

Ia menegaskan, mahasiswa tidak perlu merasa rendah diri hanya karena menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta.

“Percaya sama saya, kalian berada di tempat yang tepat: kuliah di kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara,” tegas Haedar.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar meluruskan niat dalam menuntut ilmu. Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar perlombaan mengumpulkan SKS lalu mengejar selembar ijazah.

Lebih dari itu, pendidikan merupakan proses membangun karakter, kedewasaan, akhlak, sekaligus kemampuan menghadapi kehidupan.

“Luruskan niat untuk tetap mencari ilmu. Kehormatan dan kemuliaan kalian, kini dan ke depan, kuncinya pada iman dan ilmu,” pesannya.

Rico: Ini Pintu Gerbang Masa Depan

Usai mengikuti rangkaian PKKMB, Rico Waas menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh mahasiswa baru UMSU.

Menurutnya, memasuki perguruan tinggi merupakan awal sekaligus pintu gerbang menuju dunia baru yang akan turut menentukan masa depan generasi muda.

Rico juga mengapresiasi pelaksanaan PKKMB UMSU 2026. Menurutnya, penyambutan mahasiswa baru tersebut menjadi momentum penting untuk membangun semangat sebelum mahasiswa menjalani kehidupan perkuliahan.

“Selamat kepada seluruh mahasiswa baru UMSU. Manfaatkan kesempatan belajar ini sebaik-baiknya, bangun karakter, perluas wawasan dan persiapkan diri menghadapi tantangan masa depan,” menjadi pesan yang sejalan dengan semangat kegiatan tersebut.

6.027 Mahasiswa Baru

Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim sebelumnya menjelaskan, pada PKKMB 2026 UMSU menerima 6.027 mahasiswa baru dari jenjang S1, S2 dan S3.

Dengan tambahan tersebut, jumlah mahasiswa UMSU kini mencapai 29.617 orang.

UMSU juga terus berkembang sebagai perguruan tinggi yang inklusif dan berorientasi global. Saat ini terdapat 1.031 mahasiswa non-Muslim, termasuk 194 mahasiswa baru, serta 117 mahasiswa asing dari berbagai negara.

Menariknya, sebanyak 59 personel kepolisian juga tercatat sedang menempuh pendidikan di UMSU. Artinya, di kampus ini bukan hanya mahasiswa yang belajar memahami hukum dan kehidupan sosial. Polisi pun ikut kembali duduk di bangku kuliah—karena rupanya seragam tidak otomatis membuat seseorang berhenti menjadi pembelajar.

Di tengah perkembangan tersebut, UMSU juga mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah 2027.

Kampus 4 atau Kampus Terpadu UMSU di Kabupaten Deli Serdang dengan luas sekitar 25 hektare tengah dipersiapkan bersama sejumlah fasilitas utama.

PKKMB 2026 akhirnya bukan sekadar pintu masuk mahasiswa menuju ruang kuliah. Ia menjadi pengingat bahwa kampus hari ini harus menyiapkan generasi yang mampu menghadapi dua dunia sekaligus: dunia nyata yang penuh tantangan dan dunia digital yang kadang lebih ramai daripada dunia nyata.

Di situlah pendidikan dituntut tidak berhenti pada soal nilai akademik. Mahasiswa juga perlu dibekali iman, karakter, wawasan kebangsaan, literasi digital, serta kemampuan membaca perubahan global.

Sebab, masa depan tidak cukup hanya dikejar dengan IPK. Kadang ia juga menuntut kemampuan berpikir jernih ketika satu layar ponsel sudah menawarkan seribu informasi—dan separuhnya belum tentu benar.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *