Imigrasi Belawan Raih Penghargaan di Seminar Perpustakaan Ditjen Imigrasi, Sumbang Koleksi untuk Lentera Imigrasi
JAKARTA — Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu yang disimpan dalam lemari. Bagi institusi yang bertugas menjaga kedaulatan negara, sejarah juga menjadi bahan untuk memahami perjalanan dan menyiapkan langkah ke depan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Perpustakaan Direktorat Jenderal Imigrasi bertema “Membaca Sejarah, Merancang Masa Depan: Perjalanan Imigrasi Menjaga Kedaulatan dan Melindungi Warga Negara” yang berlangsung pada 26–27 Agustus 2026 di Hotel Ayana Midplaza Jakarta.
Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan turut mengikuti kegiatan tersebut. Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan, Eko Yudis Parlin Rajagukguk, juga hadir langsung dalam rangkaian kegiatan.
Imigrasi Belawan Raih Penghargaan
Dalam kegiatan tersebut, Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan menerima penghargaan sebagai satuan kerja yang berkontribusi dalam pengembangan Lentera Imigrasi melalui pemberian koleksi.
Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan.
Capaian ini menjadi bentuk apresiasi terhadap kontribusi satuan kerja dalam mendukung pengumpulan dan pelestarian berbagai bahan yang memiliki nilai sejarah serta pengetahuan mengenai keimigrasian.
Sebab, sejarah kalau tidak dirawat, lama-lama hanya tersisa kalimat, “katanya dulu begini.” Padahal sebuah institusi membutuhkan catatan yang bisa dibaca, dipelajari, dan dipertanggungjawabkan.
Lentera Imigrasi Resmi Diluncurkan
Seminar tersebut dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Imigrasi, Sandi Andaryadi, A.Md.IM., S.IP., M.Si.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Launching Lentera Imigrasi, sebuah perpustakaan yang dikembangkan menggunakan konsep G.L.A.M. (Gallery, Library, Archives, Museum).
Lentera Imigrasi menjadi wadah pengumpulan, pengelolaan, dan pelestarian berbagai koleksi, dokumen, arsip, serta benda yang berkaitan dengan sejarah keimigrasian.
Konsep tersebut diharapkan menjadi ruang untuk menjaga pengetahuan mengenai perjalanan keimigrasian Indonesia agar dapat dipelajari oleh generasi saat ini maupun generasi berikutnya.
Membaca Sejarah untuk Merancang Masa Depan
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Agus Setiawan, Ph.D., Prof. Dr. Mochamad Iman Santoso, S.H., M.H., M.A., dan Sarno Wijaya, S.H., M.H.
Berbagai materi dibahas, mulai dari sejarah migrasi Indonesia, perjalanan dan perkembangan keimigrasian, hingga perkembangan paspor Indonesia dari masa ke masa.
Para peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai konsep G.L.A.M. sebagai pendekatan dalam pengelolaan dan pelestarian sejarah serta pengetahuan keimigrasian.
Materi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan keimigrasian tidak berdiri sendiri. Ia berjalan mengikuti perubahan masyarakat, mobilitas manusia, perkembangan teknologi, serta dinamika kebutuhan negara dalam menjaga kedaulatan dan memberikan perlindungan kepada warga negara.
Dari Sejarah hingga Dunia Kepenulisan
Kegiatan juga menghadirkan Jombang Santani Khairen yang berbagi pengalaman di bidang kepenulisan sekaligus membahas karya-karyanya.
Kehadiran narasumber dari bidang kepenulisan turut memperkaya kegiatan dengan perspektif mengenai bagaimana pengalaman dan sejarah dapat dituangkan menjadi karya yang dapat dibaca serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, sejarah tidak hanya disimpan sebagai arsip, tetapi juga dapat dikemas menjadi pengetahuan yang lebih mudah dipahami.
Eko: Kontribusi untuk Pelestarian Sejarah Keimigrasian
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan, Eko Yudis Parlin Rajagukguk, menyampaikan bahwa kontribusi satuan kerja dalam pengembangan Lentera Imigrasi merupakan bagian dari upaya mendukung pelestarian sejarah dan pengetahuan keimigrasian.
Menurut Eko, pemahaman terhadap sejarah penting untuk menjadi pijakan dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas dan menghadapi tantangan keimigrasian di masa mendatang.
Kontribusi koleksi yang diberikan Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan juga menjadi bagian dari komitmen untuk menjaga rekam jejak perjalanan institusi.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan lancar.
Pada akhirnya, membaca sejarah bukan berarti sibuk menoleh ke belakang. Justru dari sanalah sebuah institusi bisa tahu bagian mana yang harus dipertahankan, diperbaiki, dan dibawa menuju masa depan.
Dan tentu saja, arsip jangan hanya rapi di rak. Harus dibaca, dipahami, lalu dijadikan pelajaran—supaya kesalahan masa lalu tidak perlu repot-repot dibuat ulang.(***)






