Belawan Kekurangan SMP Negeri, Rico Waas Mulai Pembangunan Sekolah untuk 300 Siswa
MEDAN – Persoalan pemerataan pendidikan di kawasan pesisir kembali menjadi perhatian Pemerintah Kota Medan. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengakui Belawan masih membutuhkan tambahan sekolah menengah pertama (SMP) negeri untuk menjawab kebutuhan pendidikan anak-anak di kawasan tersebut.
Menurut Rico, saat ini Belawan baru memiliki satu SMP negeri yang berada di Sicanang. Kondisi itu dinilai belum sebanding dengan jumlah penduduk dan kebutuhan anak usia sekolah di wilayah tersebut.
Pembangunan SMP Classrooms of Hope di Jalan Karo, Belawan, pun mulai dilaksanakan. Prosesi peletakan batu pertama berlangsung pada Kamis (15/10/2026), dengan kapasitas sekolah yang direncanakan mampu menampung sekitar 300 siswa.
“Sudah lama sekali masyarakat berharap adanya sekolah, terutama di tingkat SMP di Belawan. Kita tahu di daerah Belawan ini hanya ada satu SMP, yaitu di Sicanang. Dengan begitu banyaknya penduduk dan anak-anak di Belawan, kita masih kekurangan sekolah SMP,” ujar Rico.
Ia berharap pembangunan fasilitas pendidikan tersebut dapat segera diselesaikan sehingga anak-anak Belawan memperoleh akses pendidikan yang lebih mudah.
“Alhamdulillah, hari ini pembangunannya sudah dimulai. Mudah-mudahan bisa segera selesai dan dimanfaatkan masyarakat Belawan,” katanya.
Belawan Butuh Sekolah, Bukan Sekadar Janji
Pembangunan SMP ini menjadi kabar baik bagi masyarakat Belawan. Namun, di balik seremoni peletakan batu pertama, terselip persoalan mendasar yang selama ini dihadapi warga: ketersediaan fasilitas pendidikan yang memadai dan mudah dijangkau.
Jika satu SMP negeri harus melayani kebutuhan anak-anak dari wilayah yang luas dan padat penduduk, persoalan jarak, daya tampung, hingga biaya transportasi berpotensi menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga.
Dalam situasi seperti itu, penambahan sekolah bukan sekadar pembangunan gedung, melainkan bagian dari upaya membuka kesempatan pendidikan yang lebih merata.
Satire ringan saja, anak-anak Belawan tentu tidak seharusnya harus berjuang lebih keras mencari sekolah sebelum berjuang meraih cita-cita. Pendidikan semestinya mendekatkan masa depan kepada anak-anak, bukan menambah panjang perjalanan mereka menuju ruang kelas.
Karena itu, pembangunan sekolah baru perlu diikuti kepastian operasional, ketersediaan tenaga pendidik, fasilitas belajar, serta daya tampung yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi Swasta, Pemko Menyiapkan Pengelolaan
Pembangunan SMP Classrooms of Hope merupakan hasil kolaborasi PT Belawan New Container Terminal (BNCT), PT Pelabuhan Indonesia (Persero), dan DP World Foundation melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) bertajuk Tumbuh Bersama.
Dalam kerja sama tersebut, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) menyediakan lahan seluas sekitar 5.000 meter persegi. Sementara itu, dukungan pembiayaan berasal dari DP World Foundation melalui PT BNCT.
Setelah pembangunan rampung, fasilitas sekolah akan diserahterimakan kepada Pemerintah Kota Medan untuk dikelola.
Rico berharap sekolah tersebut nantinya dapat berstatus sekolah negeri sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Ia menegaskan pendidikan merupakan fondasi penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan, generasi muda diharapkan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan karakter untuk menghadapi tantangan masa depan.
Menurutnya, pembangunan sekolah ini juga menunjukkan bahwa kolaborasi pemerintah dan dunia usaha dapat menjadi salah satu jalan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Namun, setelah pihak swasta membantu membangun fasilitas, pekerjaan pemerintah belum selesai. Pemko Medan tetap perlu memastikan kesiapan pengelolaan, status kelembagaan, penerimaan siswa, serta ketersediaan guru agar bangunan yang telah berdiri benar-benar berfungsi sebagai tempat belajar.
Sebab, sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang selesai dibangun, tetapi juga sekolah yang pintunya benar-benar terbuka bagi anak-anak yang membutuhkan.
Dihadiri Delegasi Indonesia dan Uni Emirat Arab
Peletakan batu pertama pembangunan sekolah tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan perwakilan lembaga, antara lain Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri; Direktur Jenderal Dubai Customs sekaligus anggota dewan DP World Foundation Abdulla Busenad; Wakil Presiden Eksekutif DP World Asia Pasifik Galylynne Neil; serta Presiden Direktur BNCT Muhammed Suffian Abdul Manaf.
Hadir pula Direktur Hubungan Kelembagaan PT Pelindo Hendri Ginting, Komandan Kodaeral I Belawan Laksamana Muda TNI Deny Septiana, serta sejumlah pimpinan perangkat daerah.
Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menandai dukungan lintas lembaga terhadap pembangunan fasilitas pendidikan di Belawan.
Bagi Pemko Medan, proyek ini menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kolaborasi pembangunan dapat menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Ukuran keberhasilannya bukan berhenti pada seremoni, dokumentasi, atau tuntasnya konstruksi, melainkan pada berapa banyak anak yang kelak dapat belajar dengan layak.
Pada akhirnya, masyarakat Belawan tidak hanya menunggu gedung sekolah berdiri. Mereka juga menantikan kepastian bahwa anak-anak mereka memiliki akses pendidikan yang lebih dekat, terjangkau, dan berkualitas.
Sebab, investasi paling berharga bagi masa depan Belawan bukan hanya aktivitas pelabuhan dan arus barang, melainkan juga generasi muda yang memperoleh kesempatan belajar secara adil.(***)






