DWP Sumut Ajak Ibu Tanamkan Kesetaraan Gender Sejak Dini, Jangan Anak Perempuan Saja Disuruh ke Dapur
MEDAN – Kesetaraan gender ternyata bisa dimulai dari hal-hal sederhana di rumah. Mulai dari memberi anak perempuan kesempatan mengejar cita-cita, mengajari anak laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah, hingga memastikan keduanya mendapat kasih sayang dan peluang pendidikan yang sama. Sebab, urusan mendidik anak bukan soal siapa yang kelak memimpin dan siapa yang kebagian urusan dapur.
Pesan itulah yang mengemuka dalam seminar Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Sumatera Utara bertema “Peran Ibu dalam Kesetaraan Gender terhadap Pendidikan Anak” di Kantor DWP Sumut, Medan, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan tersebut dibuka Ketua DWP Sumut Boya Yanti Gultom Timur, menghadirkan Madame Puly sebagai narasumber, serta diikuti pengurus dan anggota DWP dari berbagai daerah di Sumatera Utara.
Seminar ini menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman para ibu tentang pentingnya memberikan hak, kesempatan, dan dukungan yang setara kepada anak perempuan maupun laki-laki dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Ketua DWP Sumut Boya Yanti Gultom Timur mengatakan, ibu memiliki peran penting dalam membentuk karakter, mental, dan cara pandang anak terhadap masa depan. Karena itu, nilai kesetaraan perlu ditanamkan sejak dini, dimulai dari lingkungan keluarga.
“Ibu merupakan pendidik pertama bagi anak, dan pondasi karakter, mental, serta cara pandang masa depan anak dibentuk di tangan ibu. Ibu bertanggung jawab memastikan anak laki-laki dan perempuan memperoleh hak, kasih sayang, kesempatan, dan dukungan yang setara dalam pendidikan, tanpa dibatasi stigma sosial,” kata Boya.
Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa pendidikan kesetaraan tidak harus menunggu anak duduk di bangku sekolah atau mendengarkan ceramah tentang hak-hak perempuan. Kebiasaan di rumah justru menjadi pelajaran pertama yang paling mudah diserap anak.
Jika anak perempuan selalu diminta membantu pekerjaan rumah, sementara anak laki-laki dibebaskan dengan alasan tugas itu bukan urusannya, jangan heran bila pembagian peran yang timpang dianggap sebagai sesuatu yang wajar ketika mereka dewasa.
Sebaliknya, ketika anak laki-laki dan perempuan sama-sama diajarkan bertanggung jawab, menghargai orang lain, serta berani menyampaikan pendapat, keluarga telah memberikan bekal penting untuk membangun kehidupan yang lebih adil.
Boya pun mengajak seluruh anggota DWP Sumut menjadi pelopor kesetaraan gender di lingkungan keluarga masing-masing. Para ibu diharapkan mendidik anak agar tumbuh dengan sikap saling menghormati dan tidak melakukan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia dan narasumber atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Sambutannya ditutup dengan pantun sebelum seminar dibuka secara resmi.
Tiga Peran Ibu: Membentuk Keyakinan, Karakter, dan Kesempatan
Dalam pemaparannya, Madame Puly menegaskan bahwa rumah merupakan tempat pertama bagi anak untuk mempelajari nilai-nilai kehidupan, termasuk kesetaraan gender.
Menurutnya, orang tua perlu memiliki tujuan yang sama dalam mendidik anak serta memperlakukan anak perempuan dan laki-laki secara adil. Kesetaraan bukan berarti semua anak harus memiliki kemampuan, minat, atau cita-cita yang sama, melainkan setiap anak berhak memperoleh kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya.
Madame Puly menjelaskan tiga peran penting ibu dalam menanamkan nilai kesetaraan gender.
Pertama, membentuk keyakinan anak bahwa dirinya memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berkembang. Kedua, membangun karakter melalui pengajaran empati, keberanian, rasa hormat, dan tanggung jawab.
Ketiga, membuka kesempatan agar anak perempuan dan laki-laki sama-sama mendapat dukungan untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan meraih cita-cita.
“Peran ketiga yaitu membuka kesempatan, anak laki laki dan perempuan sama-sama didukung untuk belajar dan bercita-cita,” kata Puly.
Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa cita-cita anak seharusnya tidak dibatasi oleh anggapan lama tentang pekerjaan yang cocok untuk perempuan atau laki-laki.
Anak perempuan yang ingin menjadi ilmuwan, pemimpin, atau atlet berhak mendapat dukungan. Begitu pula anak laki-laki yang ingin menekuni bidang seni, pendidikan, atau profesi lain yang kerap dilekatkan pada perempuan.
Yang perlu dinilai adalah minat, kemampuan, usaha, dan tanggung jawab anak, bukan sekadar apakah pilihannya sesuai dengan stereotip yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ayah dan Ibu Harus Kompak, Bukan Cuma Ibu yang Mengajar
Madame Puly juga menekankan pentingnya keteladanan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Ibu dan ayah bukan hanya mengajarkan kesetaraan lewat kata-kata, tetapi juga melalui perilaku yang dilihat anak setiap hari.
Salah satu contohnya adalah pengambilan keputusan bersama. Ayah dan ibu perlu saling menghargai pendapat, berbagi tanggung jawab dalam pekerjaan rumah tangga, serta terlibat dalam pengasuhan anak.
Dengan demikian, anak belajar bahwa menghormati pasangan dan berbagi tanggung jawab merupakan bagian wajar dari kehidupan keluarga.
Sebab, akan sulit mengajarkan kesetaraan kepada anak jika di rumah ia justru menyaksikan satu pihak selalu mengambil keputusan, sementara pihak lainnya hanya diminta mengikuti. Nasihat bisa terdengar indah, tetapi teladan sehari-hari biasanya jauh lebih membekas.
Puly juga mengingatkan pentingnya sikap menghargai diri sendiri. Perempuan perlu memahami bahwa dirinya memiliki hak untuk belajar, berkarya, dan berkembang, tanpa kehilangan kesempatan hanya karena tuntutan sosial yang membatasi perannya.
Kesetaraan Dimulai dari Rumah
Melalui seminar ini, DWP Sumut berharap para ibu semakin memahami pentingnya menanamkan nilai kesetaraan gender sejak dini. Dengan pendidikan yang adil, anak perempuan dan laki-laki diharapkan tumbuh lebih percaya diri, saling menghormati, serta memiliki kesempatan yang sama untuk membangun masa depan.
Upaya tersebut tentu membutuhkan keterlibatan seluruh anggota keluarga. Ibu memiliki peran penting, tetapi tanggung jawab mendidik anak dan membangun keluarga yang setara bukan pekerjaan ibu seorang diri.
Pada akhirnya, kesetaraan gender tidak cukup berhenti sebagai tema seminar, bahan presentasi, atau kalimat indah dalam sambutan. Ukurannya justru terlihat dari kebiasaan sederhana di rumah: siapa yang diberi kesempatan bicara, siapa yang didukung mengejar cita-cita, dan apakah pekerjaan rumah dibagi secara adil.
Sebab, anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tuanya. Mereka juga belajar dari apa yang dilakukan orang tuanya.
Kalau ingin generasi mendatang tumbuh tanpa diskriminasi, pelajarannya bisa dimulai hari ini. Tak perlu menunggu seminar berikutnya untuk mengajarkan bahwa anak perempuan boleh bermimpi setinggi langit dan anak laki-laki pun tak perlu alergi memegang sapu.(***)






