Di Kota Medan, belakangan ini antrean di SPBU tampaknya lebih populer daripada antrean masuk konser. Bedanya, kalau konser ada hiburannya. Kalau antre BBM, hiburannya hanya melihat jarum bensin semakin mendekati huruf E, sambil berharap petugas berkata, “Masih ada, Pak.”
Kemacetan pun seolah mendapat “amunisi baru”. Bukan lagi karena lampu merah atau proyek jalan, tetapi karena barisan kendaraan yang rela mengular demi beberapa liter bahan bakar. Aktivitas warga ikut tersendat. Ada yang terlambat bekerja, ada yang batal mengantar barang, bahkan mungkin ada yang akhirnya lebih akrab dengan pengendara di depan dan belakangnya dibanding tetangganya sendiri.
Kondisi ini mendapat perhatian Anggota DPRD Kota Medan, Jusup Ginting Suka, yang meminta Pertamina tidak membiarkan masyarakat menjadi korban persoalan distribusi BBM. Pesannya sederhana: rakyat tidak butuh drama berseri, mereka hanya ingin mengisi tangki dan melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Satirenya, di era yang katanya serba digital, masyarakat bisa melacak paket belanja dalam hitungan menit, tetapi untuk mengetahui kapan antrean BBM berakhir, jawabannya masih mengandalkan firasat. Informasi yang jelas justru menjadi barang yang terasa lebih langka daripada bahan bakarnya sendiri.
Yang paling dibutuhkan sebenarnya bukan sekadar bensin, melainkan kepastian. Sebab masyarakat tidak mungkin menggerakkan roda ekonomi hanya dengan kabar “harap bersabar”. Mesin kendaraan membutuhkan BBM, sedangkan masyarakat membutuhkan penjelasan yang terbuka.
Jika persoalannya memang distribusi, sampaikan apa adanya. Jika ada kendala pasokan, jelaskan penyebabnya. Kalau ada dugaan permainan atau penimbunan, biarkan aparat bekerja mengusutnya. Transparansi sering kali lebih ampuh meredakan keresahan daripada seribu spekulasi yang beredar dari satu antrean ke antrean berikutnya.
Pada akhirnya, rakyat tidak meminta hal yang muluk. Mereka tidak sedang berburu diskon atau hadiah undian di SPBU. Mereka hanya ingin mengisi bahan bakar tanpa harus menjadikan antrean sebagai agenda utama dalam sehari.
Semoga antrean panjang ini segera menjadi cerita, bukan rutinitas. Karena jalanan Medan sudah cukup sibuk dengan lalu lintasnya, tak perlu ditambah lomba siapa yang paling sabar menunggu tangki penuh.







