Bobby Nasution Dorong Kampung Kreatif, Desa Bermasalah Jangan Cuma Dikeluhkan, Harus Jadi Sumber Ekonomi
MEDAN – Sungai yang mengganggu pemandangan, lingkungan yang belum tertata, hingga potensi desa yang belum tergarap maksimal tak seharusnya berakhir sebagai daftar keluhan. Jika dikelola dengan kreativitas, persoalan tersebut justru bisa menjadi pintu masuk untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Gagasan itulah yang didorong Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution melalui program Kampung Kreatif Sumut Berkah (KKSB). Program ini diarahkan untuk mendorong desa dan kelurahan mengembangkan potensi lokal, memperkuat identitas kawasan, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Bobby menyampaikan hal tersebut saat mendengarkan paparan calon nominasi pemenang KKSB 2026 di Ruang Rapat Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30, Medan, Senin (26/10/2026).
Dalam kegiatan itu, Bobby didampingi Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Kependudukan dan Catatan Sipil Sumut M Suib, Kepala Bapperida Sumut Dikky Anugrah, serta Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Sumut Rahmat Hidayat Siregar.
Menurut Bobby, program KKSB diikuti 45 proposal dari desa dan kelurahan di berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara. Tim penjaringan juga telah menyelesaikan tahapan evaluasi, termasuk Rapat Pleno II hasil penilaian verifikasi dan validasi lapangan.
Bobby menegaskan, penilaian tidak hanya melihat keindahan kawasan, tetapi juga kemampuan desa atau kelurahan mengubah persoalan menjadi potensi yang memberikan manfaat ekonomi.
“Ada beberapa indikator penilaian yang harus dipenuhi. Salah satunya desa yang mempunyai permasalahan atau persoalan, namun di dalamnya memiliki potensi,” ujar Bobby.
Ia mencontohkan kawasan sungai atau anak sungai yang selama ini dianggap mengganggu pemandangan atau menjadi tempat pembuangan sampah. Jika ditangani secara tepat, kawasan tersebut bisa diubah menjadi lingkungan yang lebih baik sekaligus memiliki nilai ekonomi.
“Ini dianggap masalah, namun mempunyai potensi yang bisa diubah menjadi penyelesaian. Kemudian penyelesaian itu ada tambahan potensi ekonomi,” jelasnya.
Pesan tersebut menempatkan kreativitas sebagai sesuatu yang lebih luas daripada sekadar mempercantik lingkungan. Desa diharapkan mampu menemukan solusi atas persoalan lokal, kemudian mengembangkannya menjadi kegiatan produktif yang membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan warga.
Sebab, lingkungan yang tertata memang penting. Namun, jika penataannya juga mampu membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi warga, manfaatnya tentu lebih panjang daripada sekadar terlihat indah saat difoto.
Tiga Daerah Paparkan Potensi Unggulan
Dalam kesempatan itu, Bobby mendengarkan presentasi calon nominasi pemenang KKSB dari tiga kabupaten, yakni Serdang Bedagai, Deli Serdang, dan Humbang Hasundutan.
Paparan disampaikan langsung oleh Bupati Serdang Bedagai Darma Wijaya, Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan, serta Bupati Humbang Hasundutan Oloan Paniaran Nababan.
Program KKSB merupakan Program Strategis Daerah pada era kepemimpinan Gubernur Bobby Nasution bersama Wakil Gubernur Sumut. Pemprov Sumut menyiapkan bantuan khusus hingga Rp50 miliar untuk mendukung pengembangan desa dan kelurahan melalui program tersebut.
Dukungan anggaran itu diharapkan dapat mendorong pemerintah kabupaten/kota menggali potensi wilayah masing-masing. Namun, keberhasilan program pada akhirnya tetap bergantung pada perencanaan yang matang, pelaksanaan yang tepat, serta keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama.
Anggaran dapat menjadi modal awal, tetapi kreativitas warga dan keberlanjutan pengelolaan akan menentukan apakah sebuah kampung benar-benar berkembang atau hanya ramai ketika program diluncurkan.
Harapan Square, Tanaman Hias Jadi Peluang Wisata dan Usaha
Salah satu gagasan yang dipaparkan datang dari Kabupaten Deli Serdang melalui rencana pengembangan sentra wisata tanaman hias bernama Harapan Square.
Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan menjelaskan, kawasan tersebut direncanakan berada di Dusun VII–XI, Desa Bangun Sari Baru, Kecamatan Tanjung Morawa.
Desa Bangun Sari Baru merupakan kawasan dataran rendah yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Medan. Letaknya dinilai strategis untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata, termasuk bagi wisatawan yang baru tiba melalui Bandara Internasional Kualanamu.
Menurut Asri, masyarakat setempat selama ini telah menjalankan usaha penjualan tanaman hias. Namun, aktivitas tersebut belum tertata secara optimal sehingga membutuhkan penataan kawasan yang lebih terintegrasi.
“Di kawasan itu, masyarakat sekitar sudah ada yang menjual tanaman hias, namun belum tertata. Sehingga dengan adanya Harapan Square ini lokasinya lebih teratur dan menjadikan nilai tambah,” ujarnya.
Melalui Harapan Square, penjualan tanaman hias diharapkan berkembang menjadi kawasan usaha sekaligus tujuan wisata. Dengan penataan yang baik, pengunjung tidak hanya datang untuk membeli tanaman, tetapi juga berpotensi menggerakkan kegiatan ekonomi lain di sekitar lokasi.
Konsep tersebut juga membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar, memperbaiki tampilan usaha, dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Pendapatan Pedagang Ditargetkan Meningkat
Asri menjelaskan, pengembangan Harapan Square diproyeksikan memberikan efek berganda terhadap perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat.
Berdasarkan survei yang disampaikan dalam paparannya, pendapatan penjual bunga di kawasan tersebut rata-rata berkisar Rp2 juta hingga Rp5 juta per bulan.
Dengan adanya Harapan Square, pendapatan mereka diperkirakan dapat meningkat menjadi Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan.
Program ini juga diharapkan membuka lapangan kerja bagi warga sekitar yang mayoritas berasal dari keluarga miskin, meningkatkan kunjungan wisatawan, memperluas distribusi tanaman hias, menambah jumlah UMKM, serta mengurangi jumlah keluarga miskin.
Meski demikian, angka peningkatan pendapatan tersebut masih berupa proyeksi yang disampaikan dalam pemaparan program. Realisasinya akan bergantung pada perkembangan usaha, jumlah pengunjung, daya beli konsumen, dan keberlanjutan pengelolaan kawasan.
Karena itu, keberhasilan Harapan Square nantinya perlu diukur melalui hasil nyata, termasuk perubahan pendapatan pedagang, jumlah tenaga kerja yang terserap, pertumbuhan UMKM, dan manfaat ekonomi yang dirasakan warga setempat.
Kampung Kreatif Harus Menghasilkan Perubahan Nyata
Program Kampung Kreatif Sumut Berkah menawarkan pendekatan pembangunan yang berangkat dari potensi dan persoalan di tingkat lokal. Setiap desa memiliki karakter berbeda, sehingga pengembangannya perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan, kemampuan masyarakat, dan peluang pasar.
Model seperti pengembangan tanaman hias di Deli Serdang menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi yang sudah tumbuh di masyarakat dapat diperkuat melalui penataan kawasan dan pengembangan destinasi wisata.
Namun, pekerjaan tidak selesai setelah kawasan dibangun atau bantuan disalurkan. Pemerintah daerah perlu memastikan pengelolaan berkelanjutan, akses pemasaran, pendampingan pelaku usaha, serta keterlibatan warga dalam menentukan arah pengembangan.
Pada akhirnya, kampung kreatif bukan hanya soal mengecat dinding, memperindah jalan, atau memasang papan nama baru. Semua itu boleh menjadi bagian dari penataan, tetapi tujuan utamanya harus lebih besar: menciptakan lingkungan yang lebih baik sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sebab, desa yang benar-benar kreatif bukan sekadar desa yang enak dipandang, melainkan desa yang mampu mengubah potensi menjadi penghasilan dan membuat warganya ikut menikmati hasil pembangunan.(***)






