Medan— Di tengah rutinitas birokrasi yang kerap identik dengan tumpukan berkas dan istilah teknis yang membuat dahi berkerut, Sekretariat DPRD Kota Medan memilih cara yang sedikit lebih “ramah” untuk menyiapkan diri menghadapi tahun anggaran 2026: Coaching Clinic Pengadaan Barang/Jasa (PBJ). Sebuah langkah yang, kalau boleh disederhanakan, adalah upaya memastikan semua pihak berjalan di jalur yang sama—tanpa tersesat di belokan administrasi.
Kegiatan yang digelar di Ruang Rapat Bagian Persidangan dan Perundang-Undangan ini tampak sederhana, namun sesungguhnya menyimpan pesan penting: pengadaan bukan sekadar urusan belanja, melainkan seni menyeimbangkan kebutuhan, aturan, dan ketepatan prosedur. Seolah-olah, PBJ adalah “menu kompleks” yang perlu dimasak dengan resep yang tepat agar tidak terlalu asin oleh kesalahan administrasi atau hambar karena ketidaksesuaian aturan.
Coaching Clinic ini dipimpin oleh Kepala Bagian Persidangan dan Perundang-Undangan Sekretariat DPRD Kota Medan, Andres Willy Simanjuntak, S.H., M.H., yang mewakili Sekretaris DPRD Kota Medan, Rabu (21/01/2026) . Dengan gaya yang tenang dan terarah, beliau mengingatkan bahwa persiapan yang matang bukan hanya soal memenuhi kewajiban, tetapi juga menghindari “drama” yang biasanya muncul ketika tahapan tidak dijalankan sesuai prosedur. Dalam bahasa yang lebih santai: lebih baik repot di awal daripada pusing di akhir.
Hadir pula para Kepala Bagian, Kasubbag Tata Usaha dan Kepegawaian, Ketua Tim, serta ASN di lingkungan Sekretariat DPRD Kota Medan. Mereka mengikuti sesi dengan cukup antusias—meski di sela-sela itu, mungkin ada yang diam-diam menyadari bahwa dunia PBJ memang tidak sesederhana memilih barang di katalog daring. Di sinilah peran coaching clinic menjadi penting: menjembatani teori dan praktik agar tidak terjadi “salah klik” dalam implementasi.
Narasumber dalam kegiatan ini, Dr. H. Fahrurrazi, M.Si., turut memberikan pemahaman terkait metode pemilihan penyedia, penertiban administrasi pengadaan, hingga kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyampaian materi yang sistematis itu seolah mengingatkan bahwa dalam pengadaan, ketelitian adalah kunci, sementara ketergesaan hanya akan memperbesar peluang koreksi di kemudian hari.
Jika ditarik dengan sudut pandang Horatian, kegiatan ini bukanlah panggung kritik tajam, melainkan cermin ringan yang memperlihatkan bahwa birokrasi pun membutuhkan “latihan bersama” agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Ada semacam humor halus dalam keseriusan ini: bahwa semakin kompleks aturan yang dihadapi, semakin penting pula ruang untuk berdiskusi tanpa harus merasa sedang diuji di meja ujian.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, mulai 21 hingga 22 Januari 2026, ini menjadi semacam “pemanasan” sebelum memasuki arena pengadaan yang sesungguhnya. Harapannya, setelah sesi ini, para peserta tidak hanya memahami prosedur, tetapi juga lebih percaya diri dalam mengambil langkah-langkah administratif yang tepat—tentu saja tanpa kehilangan kepatuhan terhadap aturan.
Pada akhirnya, Coaching Clinic PBJ ini mengajarkan satu hal sederhana dengan cara yang santai: bahwa dalam urusan pengadaan, tidak ada salahnya melambat sejenak untuk memastikan semua sudah benar. Karena dalam dunia birokrasi, ketepatan sering kali lebih berharga daripada kecepatan—dan sedikit humor dalam proses belajar membuat perjalanan terasa lebih ringan, meski tetap berada di jalur yang serius.(***)






