Demokrasi Tanpa Drama, Saat Muhammad Edison Ginting Jadi Calon Tunggal Menang dengan Penuh “Ketegangan”

Medan8 Dilihat

Medan – Di tengah hiruk-pikuk dunia politik yang biasanya penuh manuver, lobi, dan sedikit drama yang kadang lebih panjang dari sinetron, Persatuan Wartawan Pemko Medan (PWPM) justru menghadirkan sesuatu yang berbeda: pemilihan ketua dengan tingkat ketegangan, Kamis 23 April 2026, nyaris nol.

Nama Muhammad Edison Ginting resmi ditetapkan sebagai Ketua PWPM periode 2026–2028. Bukan karena persaingan sengit yang menguras energi, melainkan karena satu fakta sederhana: beliau adalah calon tunggal. Ya, tunggal. Seperti kopi hitam tanpa gula—langsung, tanpa campuran.

Penetapan ini dilakukan setelah melalui tahapan penjaringan dan verifikasi administrasi. Sebuah proses yang tentu saja tetap dijalankan dengan serius, meskipun hasil akhirnya sudah bisa ditebak sejak awal—kurang lebih seperti menonton film yang judulnya sudah membocorkan ending.

Namun, jangan salah. Meski tanpa rival, proses tetap berjalan sesuai prosedur. Karena di negeri ini, prosedur adalah bentuk penghormatan terakhir terhadap kemungkinan—meskipun kemungkinan itu sendiri sudah pamit duluan.

Fenomena calon tunggal ini sebenarnya bukan hal baru. Ia seperti tamu lama yang datang tanpa undangan, tapi juga tidak pernah benar-benar ditolak. Di satu sisi, ini menunjukkan soliditas. Di sisi lain, mungkin juga menunjukkan bahwa kompetisi sedang mengambil cuti bersama.

Bagi sebagian orang, ini adalah efisiensi. Tidak perlu debat panjang, tidak ada kampanye yang melelahkan, dan yang terpenting—tidak ada kubu-kubuan yang biasanya berakhir dengan grup WhatsApp yang diam-diam saling mute.

Tapi bagi yang lain, ini juga bisa jadi bahan renungan kecil: apakah semua sudah sepakat, atau memang belum ada yang cukup nekat? Bisa juga calon ketua ini mampu merangkul semua kelompok agar tidak maju menghadapinya di pemilihan.

Terlepas dari itu, tongkat kepemimpinan kini resmi berada di tangan Muhammad Edison Ginting. Tantangan ke depan tentu tidak sesederhana proses pemilihannya. Karena memimpin organisasi wartawan di lingkungan pemerintahan bukan hanya soal administrasi, tapi juga soal menjaga keseimbangan antara kritis dan harmonis—dua hal yang kadang hubungannya seperti kopi dan gula: idealnya seimbang, tapi sering kali tergantung selera.

Akhir kata, selamat kepada ketua terpilih. Semoga ke depan, dinamika organisasi tidak sepi seperti proses pemilihannya—karena dalam dunia jurnalistik, yang terlalu tenang justru sering membuat orang bertanya: “Ini lagi sunyi, atau memang tidak ada yang berani bersuara?”

Dan tentu saja, kita semua berharap PWPM tetap menjadi rumah bagi wartawan yang bukan hanya pandai menulis, tapi juga tetap ingat bahwa di balik setiap berita, selalu ada tanggung jawab yang tidak bisa dipilih secara tunggal.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *